Friday, 7 September 2018

Pekerjakan Anak di Bawah Umur, Terdakwa Paulus Baun Terancam Kurungan 15 Tahun Penjara


Suasana sidang pemeriksaan saksi korban inisial bunga, di PN Batam, Kamis (6/9).

Dinamika Kepri, Batam - Sidang lanjutan terhadap terdakwa Paulus Baun alias Amros sidang perkara dugaan trafiking, digelar kembali di Pengadilan Negeri (PN) Batam, Kamis (6/9) sore dengan agenda pemeriksaan saksi korban.

Dalam kesaksian korban, sebut saja namanya bunga, dipersidangan ia menjelaskan dengan rinci awal mula berangkat dari kampung halamannya di NTT hingga bekerja dua tahun jadi pembantu rumah tangga (PRT) di Batam.

Kepada majelis hakim yang diketuai hakim Martha, SH, kata saksi korban waktu itu saat di kampung, pamanya (terdakwa) Paulus Baun mengajaknya supaya ikut ke Batam dengan dijanjikan bekerja untuk menjaga anak di rumah terdakwa. Padahal saat itu umur Bunga masih berumur 14 tahun.

Baca jugaDiduga Mempekerjakan Anak di Bawah Umur, Direktur PT Tugas Mulia Dilaporkan ke Polisi

Bukan hanya dia, terdakwa juga mengajak saksi sebut saja nama Mawar, adik iparnya terdakwa.

Dari Nusa Tenggara Timur (NTT) mereka bertiga naik pesawat ke Batam. Namun sampai di Batam, kedua saksi bukannya dibawa ke rumah terdakwa seperti yang dijanjikan, tapi dibawa ke salah satu rumah  penampungan penyalur PRT milik PT.Tugas Mulia, di Komplek Orchid Park.

Lalu setelah sehari semalam tinggal di penampungan itu, saksi bunga langsung mendapat pekerjaan sebagai PRT dengan kontrak selama 2 tahun, begitu juga dengan saksi Mawar yang saat itu masih berumur 16 tahun.

Baca juga: Pertanyakan Kasus Direktur PT Tugas Mulia, 8 Organisasi "Safe Migran" Datangi Subdit IV PPA Polda Kepri

Pengakuan saksi Bunga, bahwa selama 2 tahun ia bekerja, hanya 3 bulan mendapatkan gaji langsung, selebihnya gajinya masuk ke PT.Tugas mulia.

Ketika ditanya hakim, apakah kedua orangtua saksi korban mengetahui saksi berada di Batam, saksi Bunga menjawabnya tidak.

"Tidak tahu, karena saya dulunya berangkatnya dari rumah nenek," kata Bunga.

Ketika ditanya hakim lagi, kenapa saksi tidak berupaya menelepon untuk memberi kabar kepada orangtua sesudah ada di Batam, jawab saksi ia sudah berupaya, namun tidak bisa karena tidak punya handphone, karena sebelumnya, pamannya (terdakwa) juga telah melarangnya untuk mengunakan ponsel.

"Takut, karena paman pernah mengancam akan membantingkan aku ke dinding jika tidak menuruti perintahnya," ucap saksi Bunga.

Selama bekerja 2 tahun sebagai PRT di Batam, saksi Bunga mengakui tidak pernah mendapatkan perlakuan kasar dari majikannya.

Baca jugaTersangka J.Rusna Direktur Tugas Mulia Dugaan Pelaku Trafficking Ditangkap di Bandara Hadim

"Tidak pernah dikasarin karena majikan saya orangnya baik," ujar saksi.

Usai mendengarkan keterangan dari 2 saksi korban Bunga dan Mawar, majelis hakim lalu menunda sidang pada pekan depan ke agenda berikutnya.

Dari keterangan kedua saksi, bahwa selama bekerja menjadi di PRT Batam, tidak masalah karena majikan mereka tempat bekerja orang baik. Namun yang jadi permasalahan hingga kasus ini sampai ke persidangan, ialah soal umur kedua saksi ketika direkrut oleh terdakwa menjadi PRT,  yang saat itu masih di bawah umur.

Tak hanya itu, di fakta persidangan ada bukti bahwa terdakwa telah memalsukan tahun kelahiran saksi Bunga. Sedangkan untuk identitas Mawar, terdakwa menggunakan KTP istrinya.

Baca jugaSejak J.Rusna Ditahan Polisi, Pria ini Ngaku Sering Ditelepon Seseorang Bahkan Diancam

Kasus dugaan trafiking ini terungkap setelah aktivis dari Rumah Faye, Yayasan Embun Pelangi, Gerhana, Komisi Keadilan Perdamaian dan Pastoral Migran Perantau (KKP-PMP) Kepri, LIBAK, Linus, Dunia Viva Wanita, dan Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kota Batam melaporkannya ke polisi.

Dalam perkara ini, oleh JPU Arie Prasetyo, SH, Paulus didakwa pasal pidana alternatif, ke satu pelanggaran pasal 2 Jo Pasal 17 undang – undang RI Nomor 21 tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang Jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP dengan ancaman hukuman penjara paling singkat 3 tahun dan paling lama 15 tahun kurungan penjara, atau ancaman pidana pelanggaran pasal Pasal 88 Jo Pasal 76 I Undang-Undang RI Nomor 35 tahun 2014 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak Jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP dengan ancaman kurungan 15 penjara.(Ag)