Wednesday, 5 September 2018

Pakai Sabu Bersama, Menantu dan Mertua Disidangkan


Terdakwa Asmud, Asno dan Marisa.
Dinamika Kepri, Batam - Parah, pengguna narkoba di Batam ternyata sudah memasuki stadium akut, bagaimana tidak, karena yang tertangkap dan yang disidangkan di Pengadilan bukan lagi dari kalangan antara teman, sahabat, jaringan atau teman kencan saja, namun sudah melibatkan anggota keluarga, menantu dan mertua.

Ini faktanya, akibat mengonsumsi sabu bersama, pasangan suami istri, Asno dan Marisa beserta menantu laki-lakinya bernama Asmud, Selasa (4/9) sore disidangkan di Pengadilan Negeri (PN) Batam.

Sebelumnya, para terdakwa ditangkap polisi Ditresnarkoba Polda Kepri pada hari Sabtu tanggal 21 April 2018 lalu sekitar pukul 11: 00 Wib saat para terdakwa berada di rumahnya, di Kavling Pelita Indah, Kabil, Nongsa, Batam dengan barang bukti (BB) sabu seberat 8,42 gram ditemukan di dalam 1 bungkusan plastik warna hitam simpan di dalam lemari pakaian, tepatnya dibawah lipatan baju.

Dalam sidang agenda pemeriksaan terdakwa ini, kepada hakim ketiga terdakwa mengaku sebagai pengguna sabu aktif.

Mereka mengaku membeli barang haram tersebut dari Kampung Aceh, Simpang Dam, Mukakuning, Batam.

Terakhir kalinya mereka membeli sabu dari Kampung Aceh seharga Rp 1,8 juta.

"Kalau cuma untuk dipakai, kenapa banyak sekali belinya? Di mana belinya? Kenapa beli di Kampung Aceh, Emang beli sabu di situ macam beli pasar ya? Ayo jawab," tanya hakim kepada ketiga terdakwa dengan penasaran.

Mendengar pertanyaan hakim itu, para pengunjung sidangpun jadi tertawa.

Alasan mereka membeli sebanyak itu katanya supaya tidak bolak-balik untuk membelinya.

"Untuk stok saja yang mulia, daripada bolak-balik belinya ke Kampung Aceh, jauh yang mulia, karena kami tinggal di Punggur," kata Marisa kepada Hakim Mangapul Manalu, SH.

Asno suami Marisa kepada hakim mengaku, ia menggunakan sabu hanya di saat kalau ada panggilan kerja.

"Kalau ada kerjaan menyelam kapal, sebagai penahan dingin air, saya memakai sabu yang mulia," kata terdakwa Asno.

Ketika hakim bertanya kepada Asmut, sudah berapa lama menggunakan sabu, Asmud mengaku sudah 6 tahun.

"Kalau saya sudah 6 tahun yang mulia," jawab Asmud kepada hakim.

Ternyata sabu yang mereka beli seharga Rp 1,8 juta itu telah dibagi menjadi 23 paket. Walau ada barang bukti paketan sabu di dalam plastik bening, para terdakwa tetap mengaku tidak pernah menjualnya kepada orang lain.

"Kami tidak pernah menjualnya, itu kami beli untuk pakai sendiri yang mulia," kata Marisa.

Keteguhan para terdakwa dalam sidang ini tampak begitu tak tergoyahkan, pasal bertubi-tubi pertanyaan hakim agar terdakwa mengakui juga ikut menjualnya, ternyata jawaban itu tak didapatkan hakim dari para terdakwa, sehingga membuat hakim tambah kesal.

"Kalau bukan untuk mau dijual, lalu kenapa dipaket-paketin? Tapi terserahlah, mau ngaku atau tidak, itu hak saudara," kata hakim Mangapul Manalu.

Dibacakan hakim, di dalam BAP terdakwa Asno jelas disebutkan telah menjual 1 paket seharga Rp 100 ribu kepada orang yang bernama Lakopu (DPO).

Menjawab itu, terdakwa Asno lalu memberikan jawaban yang tidak masuk akal bagi hakim, sehingga membuat hakim tambah kesal kepadanya.

Setelah pemeriksaan terdakwa ini usai digelar, majelis hakim lalu menunda sidang ini hingga pekan depan dengan agenda tuntutan dari Jaksa Penuntut Umum, Samuel Pangaribuan, SH.

Atas perbuatannya, para terdakwa menantu dan pasangan mertua ini diancam pidana dalam Pasal 114 Ayat (2) Jo Pasal 132 Ayat (1) undang-undang Republik Indonesia nomor 35 tahun 2009 tentang Narkotika.