Thursday, 13 September 2018

Di sidang Terdakwa Paulus, Ibu Korban dan Direktur PT. Tugas Mulia Bersaksi


Sebelum bersaksi, oleh hakim, saksi Andriana dan saksi J.Rusna diambil sumpahnya. 

Dinamika Kepri, Batam - Sidang lanjutan terdakwa Paulus Baun alias Amros Alias Sadrak Banoet dalam perkara dugaan tindak penjualan orang (trafficking) digelar kembali di Pengadilan Negeri Batam dengan agenda permeriksaan orang saksi, Kamis (13/9) siang.

Sidang yang dipimpin oleh Ketua Majelis Hakim Marta Napitupulu, dan Anggota Majelis Hakim Taufik Abdul Halim Nainggolan dan Egi Novita, JPU Arie Prasetyo, mengahadirkan 2 orang saksi, J.Rusna Direktur PT. Tugas Mulia dan Andriana ibu kandung dari salah satu korban berinisial MA.

Sementara itu terdawakwa Paulus didampingi kuasa hukumnya Eduardo Kamaleng, SH.

Sebelum J.Rusna memberikan kesaksian,  majelis hakim terlebih dahulu meminta keterangan kesaksian Andriana ibu kandung korban MA (16).

Karena tidak fasih berbahasa Indonesia, Andriana dibantu seorang penerjemah Pendeta November untuk menerjemahkan bahasa Kabupaten Timur Tengah Selatan, Nusa Tenggara Barat.

Dalam keterangannya, Andriana mengatakan, saat Paulus membawa MN ke Batam hanyalah untuk menjaga anak Paulus yang masih kecil.

“Beberapa waktu kemudian, kami baru tahu kalau anak kami MN dipekerjakan di PT Tugas Mulia,” katanya melalui penerjemah November.

Padahal, dari garis keturunan, anak Andriana adalah ponakan kandung Paulus.

“Wah-wah, ini bagaimana ceritanya? Tapi tadi katanya saudara kandung (Andriana dan Paulus)? Apakah bisa seperti itu di Timur?,” tanya Hakim Marta keheranan.

Melalui penerjemah, pernikahan sedarah dengan ponakan sama sekali tidak dibolehkan di adat Timur.

“Justru pintar-pintaran Paulus,’’ kata November.

Ruang siding saat itu riuh dengan sorakan yang seolah mengejek Paulus karena menikahi ponakannya sendiri, anak ketiga dari Andriana tersebut. Tak hanya itu, seorang laki-laki yang diketahui dari pihak keluarga Andriana berteriak dari belakang bangku sidang.

“Kau (Paulus) saya terangkan yang sebenarnya kepada kamu. Kamu keterlaluan,” kata seorang laki-laki itu lantang dengan suara keras.


Karena situasi sidang semakian riuh dan memanas, akhirnya hakim menyarankan laki-laki yang berteriak diamankan di luar. Agar tidak mengganggu proses persidangan.

“Silakan keluar dulu ya pak. Pastinya, kasus ini dalam proses,” ujar Hakim Marta.

Suasana sidang sempat memanas. Pokok materi pertanyaan seputar keterlibatan terdakwa Paulus sempat beralih ke kepribadian Paulus soal menikahi ponakannya, yang merupakan kakak kandung korban Mn.

Sidang pun dilanjutkan. Kesaksian Andriana kembali ditanyakan. Di sidang, Andriana menjelaskan, Mn anaknya lahir pada tahun 2002 silam. Artinya sampai sekarang, Mn masih berumur 16 tahun.

Usai pengambilan keterangan Andriana, tiba giliran kesaksian Rusna. Rusna yang masih menjadi tahanan Polda Kepri itu mengenakan baju kaos oblong warna merah dengan celana panjang warna putih, dikawal oleh seorang Polwan.

Dalam kesaksiannya, mengakui ia dan terdakwa Paulus bekerjasama dalam bidang ketenagakerjaan. Dia sebagai fasilitator dan Paulus sebagai perekrut dari daerah.

“Apakah di perusahaan saudara membolehkan anak di bawah umur bekerja?,”tanya JPU Arie Prasetyo.

“Tidak, saya hanya menerima karyawan saja umur 18 tahun sampai 35 tahun. Kemudian, saya salurkan ke rumah tangga yang membutuhkan,” jawab Rusna.

Pada pembacaan dakwaan Paulus beberapa waktu lalu, terdakwa didakwa JPU dengan pasal pidana Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang.

Terdakwa diherat dengan pasal berlapis, Pasal 2 Jo Pasal 17 Undang – Undang RI Nomor 21 tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang Jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP jo Pasal 88 Jo Pasal 76 I Undang-Undang RI Nomor 35 tahun 2014 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak Jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP, dengan ancaman 15 tahun penjara.

Dalam rangkaian kasus yang sama, penyidik Polda Kepri juga turut menersangkakan Rusna sebagai pemilik PT Tugas Mulia. Hanya saja, berkas antara Rusna dengan Paulus berbeda.

Berkas Paulus diluan selesai dikerjakan polisi. Sementara berkas Rusna masih belum P21. Meski begitu, Rusna masih menjalani proses tahanan di tahanan di Mapolda Kepri.

Kasus ini terbongkar, sebelumbya setelah himpunan Safe Migran dari 8 organisasi kemanusian, KKPPMP, Yayasan Embun Pelangi, Rumah Faye, Dunia Viva Wanita, Lintas Nusa, Libak, Gerhana dan P2TP2A melaporkan yang dialami MA ke Polda Kepri.(Ril)