Saturday, 1 September 2018

Bersaksi di Sidang Tjipta Fudjiarta, Jhonson Lim: Saya Menyesal Membeli Apartemen itu dari Terdakwa


Jhonson Lim saat bersaksi di PN Batam, Jumat (31/9).
Dinamika Kepri, Batam - Sidang lanjutan terhadap terdakwa Tjipta Fudjiarta perkara dugaan penipuan, penggelapan dan pemalsuan data otentik jual beli saham hotel BCC, digelar kembali di Pengadilan Negeri (PN), Jumat (31/8) siang.

Pada sidang yang dipimpin hakim Tumpal Sagala ini, menghadirkan saksi Jhonson Lim untuk meringankan terdakwa.

Namun pada faktanya bukan saksi meringankan malah sebaliknya, sebab dari setiap jawaban saksi dipersidangan terdengar malah memberatkan posisi terdakwa.

Kata saksi, pada bulan Juli tahun 2011 terdakwa menawarkan satu unit apartemen di hotel BCC kepadanya dan lalu membelinya seharga Rp.1,3 milyar.

Saksi mengaku tak dapat menolak tawaran itu lantaran terdakwa dengannya ada hubungan kerja di salah satu Yayasan Kemanusian.

Terdakwa Tjipta Fudjiarta didampingi Penasehat Hukumnya Hendi Devitra saat sidang di PN Batam.
“Atas dasar pertemanan itulah saya mau membeli 1 unit apartemen itu darinya. Saya beli seharga Rp.1,3 milyar dari terdakwa, tapi sampai saat ini sertifikatnya belum saya terima," terang saksi.

Tak hanya itu, saksi juga mengatakan kalau terdakwa kepadanya pernah mengaku telah membeli hotel itu.

Parahnya lagi, kata saksi akibat sertifikat apartemen itu tak kunjung diterimanya dari terdakwa, istri saksi pernah meminta diceraikannya.

Kata saksi lagi, penandatanganan BPJB AJB pembelian apartemen itu dilakukannya depan Notaris Syaifuddin dan juga ditandatangani Winston yang saat itu mengaku sebagai Direktur Utama di PT.BMS mengantikan posisi Conti Candra.

Lanjut saksi, sebelumnya ia pernah terus meminta sertifikat itu ke terdakwa Tjipta Fudjiarta, tapi jawabannya malah berdalih dengan mengatakan tidak jadi beli hotel itu dan itu membuat saksi menjadi sangat kesal.

Setelah menjawab semua pertanyaan-pertanyaann dari hakim, Jaksa maupun dari PH terdakwa, hakim Tumpal Sagala lalu menunda sidang hingga ke pekan depan dalam agenda mengarkan kesaksian ahli dari pihak terdakwa.

Dalam perkara ini terdakwa Tjipta Fudjiarta juga tidak ditahan.

Oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU), terdakwa dijerat dengan pasal berlapis di antaranya pasal 378 KUHP tentang penipuan, pasal 372 KUHP tentang penggelapan dan pasal 266 tentang pemalsuan surat-surat terhadap akta otentik, dengan ancaman pidana maksimal 7 tahun penjara.(Ag)