Friday, 17 August 2018

Terdakwa Yanti Mantan Manager Operasional BPR Dana Makmur Dijerat Pidana Pasal TPPU


Terdakwa Lianti alias Yanti Mantan Manager Operasional BPR Dana Makmur disidangkan di PN Batam, Kamis (16/8).

Dinamika Kepri, Batam - Sidang terhadap terdakwa Lianti alias Yanti Mantan Manager Operasional BPR Dana Makmur yang sebelumnya diduga berhasil menipu para korbannya hingga puluhan miliar rupiah dilanjutkan kembali di Pengadilan Negeri (PN) Batam, Kamis (16/8) siang dalam agenda mendengarkan keterangan saksi.

Di sidang sebelumnya, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Susanto Martua menghadirkan para saksi korban diantaranya Parinah, Wie San, Moi Hong dan Li Susanti.

Gedung kantor BPR Dana Makmur di kawasan Panbil Muka Kuning, Batam. (F/Int)
Pada sidang itu, terkuak bahwa wanita mantan Manager Operasional BPR Dana Makmur itu telah berhasil menipu korbannya mencapai Rp 26 milyar.

Tak hanya itu, di sidang majelis Hakim yang dipimpin oleh Syahlan.SH ini, saksi korban mengaku bahwa selain terdakwa telah menipu uang puluhan miliar rupiah, terdakwa Lianti juga berhasil melakukan penipuan terhadap pembelian rumah di Panbil Estate di Mukakuning, Batam.

Terdakwa berhasil merampok para nasabahnya yakni dengan modus investasi bodong.

Sebelumnya, terdakwa Lianti sempat bekerja di BPR Dana Makmur yakni mulai dari tahun 2009-2012.

Diduga dengan keahliannya menggaet nasabah, ia lalu memanfaatkan nama BPR Dana Makmur untuk menarik costumer berinvestasi fiktif.

Lalu uang yang terkumpul dari costumernya itu lalu dialihkankannya ke rekening pribadinya di BPR Dana Makmur, rekening BCA dan Bank Panin.

Setelah merasa telah ditipu oleh mantan  karyawan  BPR Dana Makmur itu, para korban lalu melaporkannya ke polisi.

Jon Kenedi (tengah baju batik motif putih merah) saat foto bersama dengan jajaran Direksi PT. BPR Dana Makmur beberapa waktu lalu.(F/int).
Oleh JPU, terdakwa Lianti sebelumnya didakwa pidana pasal 3 UU RI No. 8 tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang (PPTPU).

“Semenjak tahun 2013 ketika terdakwa bekerja di BPR Dana Makmur, ada sekitar Rp 22 miliyar saya setorkan kepada terdakwa, dan sampai saat ini belum dikembalikan dan terakhir saya diberi bilyet giro,” kata saksi korban.

“Terakhir kami mengetahui kalau terdakwa bekerja langsung di bawah pak Jon Kenedi," lanjut saksi.

Adapun rincian uang yang telah diterima terdakwa Lianti dari para korbannya diantaranya:

Dari saksi Parinah sejumlah Rp 10.138.100.000 dari total rincian Rp 5.670.000.000 ditambah uang dollar Singapura $ 491.000 (kurs 1SIN$=Rp.9.100)

Saksi Wie San sejumlah
Rp.1.550.000.000.

Saksi Nanang Junaidi sejumlah Rp.2.924.000.000.

Saksi Moi Hong sejumlah Rp 2.437.850.000, total dari rincian Rp 1.405.000.000 ditambah uang SIN$ 113.500 (kurs 1SIN$=Rp.9.100,-)

Saksi Li Susanti sejumlah
Rp.200.000.000.

Saksi Bella Tandika sejumlah Rp 1.200.000.000 dan dari saksi Rika sejumlah Rp.50.000.000 dengan total seluruhnya Rp 26 Miliar.

Untuk meyakinkan para korbannya terdakwa merekayasa modus program yang diberi nama Program tabungan Penempatan Dana Pasti.(Ag)