Tuesday, 28 August 2018

Sidang Unik Kasus Kejahatan Berlayar, Hakim Bentak Jaksa, Syahlan: Jangan Main-main dengan Barang Bukti


Sidang kejahatan pelayaran terdakwa Sudaryanto (kanan) di PN Batam, Senin (27/8/2018) sore.

Dinamika Kepri, Batam - Sidang unik terjadi di Pengadilan Negeri (PN) Batam. Sidang ini disebut unik karena Hakim membentak Jaksa saat persidangan berlangsung, Senin (27/8).

Hakim Dr.Syahlan, SH.,MH membentak Penuntut Umum (JPU) Mega Tri Astuti, SH lantaran barang bukti kapal Tug boad yang dititipkan oleh Kejaksaan di perairan Pulau Sambu, Belakang Padang, Batam, suratnya tidak dapat ditunjukan Jaksa di persidangan, sementara soal penitiban barang bukti kapal itu dibacakan di dalam dakwaan.

"Saudara jangan main-main dengan barang bukti, ada tidak surat dari Kejaksaan mengenai penitipkan kapal itu di sana? Lalu siapa yang mengawasinya? Kalau kapal itu rusak bagaimana? Soalnya barang bukti ini ada pada dakwaan anda," kata hakim Syahlan dengan nada suara menekan kepada jaksa Mega.

Tak hanya itu, hakim Syahlan juga tampak merasa jengkel dengan pengakuan terdakwa Sudaryanto nahkoda kapal yang mengatakan, kalau ia hanya menuruti perintah dari saksi Rudi untuk membawa kapal.

Dua saksi dihadirkan, kepala kamar mesin kapal dan saksi Rudi bosnya terdakwa.
"Sudah tahu surat perintah berlayar tidak ada, tetapi dibawa juga. Kalau saudara disuruh masuk lubang, masuk juga saudara?," tanya hakim ke terdakwa.

Saksi Rudi adalah atasannya terdakwa Sudaryanto. Di sidang perkara kejahatan pelayaran dengan nomor perkara724/Pid.B/2018/PN Btm ini, terdakwa juga tidak ditahan.

Selain Rudi, dalam sidang ini seorang kepala kamar mesin kapal, juga ikut menjadi saksi.

Atas perbuatannya, JPU Mega Tri Astuti, SH mendakwa terdakwa dengan ancaman pidana dalam pasal 323 ayat 1 atau pasal 302 ayat 1 Undang – undang Nomor 17 Tahun 2008 tentang Pelayaran.

Sebelumnya pada hari Jumat tanggal 20 April 2018  sekitar jam 18.00 Wib, TNI AL (Lanal Batam=red) mengamankan salah Kapal Tug Boad di perairan Nongsa, Batam.

Kapal itu diamankan saat hendak menuju perairan Outer Port Limit (OPL) di perbatasan laut Cina tampa memiliki dokumen yang lengkap.

Dari Kapal Tug Boad itu TNI AL mengamankan 12 orang, 1 nahkoda dan 11 orang ABK.

Nakhoda ini disidangkan karena melakukan pelayaran tanpa memiliki surat persetujuan berlayar yang dikeluarkan oleh Syahbandar sebagaimana dimaksud dalam pasal 219.

Dalam perkara ini, jaksa Mega diduga tidak transparan, terkesan menutupi sejumlah data, karena dalam Sistem Informasi Pelaporan Pengadilan (SIPP) PN Batam, dakwaan terhadap perkara tidak dilaporkan secara lengkap, di antaranya identitas perusahaan, nama kapal tugboat, dan kronologis kejadian secara detail.

Selain itu, kasus ini juga menarik sebab terdakwa Sudaryanto sang kapten kapal yang terancam hukuman 5 tahun penjara, tidak ditahan begitu juga dengan Rudi pimpinan terdakwa yang jelas-jelas telah mengaku yang memerintahkan terdakwa melakukan tindakan pidana kejahatan pelayaran tersebut juga tidak ditahan.

Rudi tidak dijadikan sebagai tersangka, dalam kasus ini hanya dijadikan saksi, dan terlihat santai, padahal anak buahnya tersebut, terancam dengan pidana penjara maksimal 5 tahun penjara dan denda Rp 600 juta.(Ag)