Thursday, 23 August 2018

Sidang Prapid Sah Tidaknya Penangkapan Dorkas Lominori akan Digelar, Ini Kata Pelapor


DR Hartono.

Dinamika Kepri, Batam - Jadwal sidang Praperadilan (Prapid) terhadap (termohon) Pemerintah RI Cq Polri Cq Polrestabes Barelang Kota Batam yang dimohonkan oleh kuasa hukum tersangka penipuan Dorkas Lominori ke Pengadilan Negeri (PN) Batam sudah ditetapkan.

Penetapan tersebut telah ditetapkan pada tanggal 16 Agustus 2018 dengan nomor perkara 7/Pid.Pra/2018/PN Btm dan akan digelar pada hari Selasa (28/8/2018) pukul 10:00 WIB mendatang.

Menurut Humas Pengadilan Negeri Klas I Batam Taufik Nainggolan melalui Informasi dari Musa pegawai PN Batam bahwa sidang praperadilan itu nantinya akan dipimpin oleh hakim tunggal Renni Pitua Ambarita.

Baca juga: Diduga Menipu Uang Ratusan Juta, Dorkas Lami Nori Bacaleg Batam dari Partai Gerindra Masuk Bui

''Hakimnya Renni Pitua Ambarita, dengan Panitra Pengganti Daorita," kata Musa.

Tujuan Dorkas Lominori melalui kuasa hukumnya Zevrijn Boy Kanu mempraperadilankan Pemerintah Republik Indonesia Cq Polri Cq Polresta Barelang yakni tentang soal Sah atau tidaknya penangkapan Dorkas oleh polisi pada Kamis (9/8/2018) lalu.

Menanggapi adanya langkah upaya praperadilan itu, DR Hartono selaku korban dan pelapor atas kasus penipuan tersebut mengatakan, tidak ada masalah.

"Itu haknya, menurut saya itu tidak ada masalah. Biar hakim yang memutuskannya," ujarnya, Kamis (23/8) siang.

Sementara itu, DR Hartono yang menjadi korban mencerikan kronologis kepada media, ia mengatakan, awalnya dia tidak mengenal sama sekali dengan tersangka Dorkas Lominori yang kini masih ditahan oleh Polresta Barelang. Sekitar Desember 2011, Hartono mengenal Dorkas dari seorang ipar kliennya, bernama Andi.

Kebetulan ipar kliennya bernama Andi tersebut sudah beli ruko dari Dorkas yang terletak di Central Sukajadi. Dan beberapa lamanya ketika dijual maupun disewa belum ada yang mau.

“Setelah itu Andi tawarkan saya. Pak, pakai tempat saya. Saya tanya ini siapa yang punya.? Saya punya kata si Andi. Lalu si Andi renovasi. (biaya) renovasi itu adalah potong dari fee saya. Dorkas Lominori saat itu bukan pengacara. Dan saya Bukan kerja sama Dorkas Lominori. Saya kerja sama sama si Andi. Sekali lagi bukan sama Dorkas,” katanya menceritakan kronologis ia bertemu dengan Dorkas Lominori.

Lanjut Hartono, usai renovasi ruko tersebut untuk dijadikan kantor, si Andi menawarkan lagi kepadanya, agar kantor tersebut dijaga oleh Dorkas. Sebab, Hartono sendiri berdomisili di Jakarta.

“Harus digaris bawahi saya tidak ada kerja sama terhadap Dorkas Lominori. Terus sudah gitu, setelah saya beli perabotan. Si Andi bilang bapak dari pada kosong kantor karena tinggal di Jakarta biar Dorkas yang jagain. Bukan saya yang minta Dorkas Lominori kerja sama. Bahkan Dorkas Lominori pernah mau ajak saya kerja sama di tempatnya di ruko sebelah saya tolak saya tidak mau. Ini supaya jelas gitu,” jelas Hartono.

Beberapa waktu kemudian, Dorkas Lominori lagi-lagi menawarkan sebuah ruko yang masih satu area di Sukajadi.

“Dari situ, Dorkas Lominori bilang pak saya punya ruko di sebelah kalau bapak gak percaya. Saya juga mau jual tanah. Saya bilang saya gak main tanah. Jual saja sama orang lain,” tambah Hartono.

Tidak lama kemudian, Dorkas Lominori minta tolong kepada Hartono agar membeli sebidang tananhnya yang terelat di Nongsa. Dengan alasan di depan Hartono saat itu, kredit Dorkas di BPR Simpan Pinjam Danamon macet.

“Dorkas minta tolong, pak kredit saya macet di Bank Danamon. Langsung saya pergi ke sana (Bank Danamon) lihat dan benar macet . Pak tolong ini macet, saya bilang gak mau. Saya bilang suratnya mana? Kata Dorkas Lominori nanti,” jelas Hartono seraya menirukan suara Dorkas kala itu.

 Karena Hartono sudah percaya, tanah itu pun dibeli Hartono. Sesuai kata Dorkas padanya, tanahnya di Nongsa ada 2000 M2. Namun Hartono hanya membeli 1000 M2 dengan harga Rp 250 juta.

“Dari situ lah ia minta dibayarkan 1000 m2. Saat itu Dorkas Lominori punya 2000 m2 tanah. Saya beli 1000 m2. Saat membayar saya tulis di rekening saya untuk membayar 1000M2 tanah di Nongsa itu,” jelasnya.

Selang beberapa lama kemudian, sertifikat tanah yang dijanjikan tak kunjung ada. Beberapa kali Hartono melakukan somasi, tak kunjung diindahkan Dorkas.

Belakangan diketahui, tanah yang dijanjikan Dorkas Lominori adalah milik pihak lain. Bukan milik Dorkas sebagaimana dijanjikan sebelumnya. Atas dasar ini, karena Hartono merasa tertipu lalu melaporkan Dorkas Lominori ke polisi pada 5 November 2014.

Sejak dilaporkan itu, sekitar empat tahun polisi melakukan penyelidikan, baru lah pada Kamis (9/8/2018) ditetapkan tersangka disertai dengan penahanan. Dorkasi ditangani oleh Unit III Polresta Barelang.

Kronologis diceritakan Hartono, sebab tidak ada informasi yang disampaikan oleh Dorkas, seolah-olah antara dia dengan Dorkas ada kerja sama. Padahal jelas kata Hartono, tidak ada sama sekali kerja sama.(Ril)