Friday, 3 August 2018

Sidang Lanjutan Terdakwa Tjipta Fudjiarta, Saksi Ahli: Delik Pidananya telah Memenuhi Unsur


Pakar hukum pidana Prof. DR. Muzakir, MH.
Dinamika Kepri, Batam - Terdakwa Tjipta Fudjiarta kasus dugaan penipuan, penggelapan dan pemalsuan surat-surat terhadap akta otentik Hotel BCC Batam, menjalani sidang lanjutan di Pengadilan Negeri (PN) Batam, Jumat (3/8).

Pada sidang ini Jaksa Penuntut Umum (JPU) mengundang Pakar hukum pidana dari Universitas Islam Indonesia Yogyakarta, Prof. DR. Muzakir, MH.

Sidang yang diketuai Hakim Tumpal Sagala, didampingi hakim anggota Taufik dan Yona Lamerosa Ketaren dengan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Filpan Fajar dan Samsul Sitinjak ini, saksi ahli mengatakan bahwa tindakan melakukan peralihan hak yang dilakukan pihak dalam hal ini, sudah terencana dari hulu ke hilir.

"Kalau awalnya soal pinjam meminjam uang, lantas apa hubungannya ke pembelian saham?  Dan ini sudah terencana dari hulu ke hilir," kata saksi Muzakir.

"Contoh, saya membeli mobil yang uangnya dari hasil meminjam dari Bank, apakah mobil itu jadi milik Bank? Kan tidak. Mobil itu tidak ada hubungannya dengan Bank. Tapi saya berhubungan, dan wajib membayar pinjaman sesuai dengan perjanjian, begitu ilustrasinya," kata saksi," lanjut saksi.

Dari semua pertanyaan dilontarkan, baik dari jaksa, hakim maupun dari penasehat hukum terdakwa, saksi ahli menjawabnya dengan lugas dan tegas.

Saksi ahli juga menyatakan bahwa delik pidana dalam perkara itu sudah memenuhi unsurnya.

Sidang ini juga sempat berjalan alot pasalnya pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan oleh JPU Filpan Pajar ke saksi ahli seperti menggiring seakan terdakwa Tjipta Fudjiarta telah bersalah.

Akibat pertanyaan itu, Penasehat Hukum (PH) terdakwa, Hendie Devitra melakukan intrupsi kepada hakim karena tidak terima atas pertanyaan itu. Menurutnya, pertanyaan JPU kepada saksi ahli tidaklah semestinya.

Bahkan sesuainya mendengarkan seluruh keterangan saksi ahli, antara JPU Filpan dengan PH terdakwa juga sempat bersitegang, karena Filfan menyebutkan bahwa sesuai dengan keterangan saksi ahli, terdakwa disimpulkan oleh Filfan bersalah.

Ketegangan itu tidak berlangsung lama karena hakim Tumpal Sagala langsung mengambil kendali dengan mengetuk palu dan menjadwal sidang kembali ke minggu depan.

Dalam perkara ini, oleh JPU terdakwa Tjipta Fudjiarta dijerat dengan pasal berlapis di antaranya pasal 378 KUHP tentang penipuan, pasal 372 KUHP tentang penggelapan dan pasal 266 tentang pemalsuan surat-surat terhadap akta otentik, dengan ancaman pidana maksimal 7 tahun penjara.(Ag)