Wednesday, 15 August 2018

Saat Sidang, Ali Mafia Bos Pangan Tampa Izin Edar di Batam Akui Kesalahannya


Terdakwa Ali.
Dinamika Kepri, Batam - Terdakwa Ali mafia pangan yang beroperasi di Komplek Nagoya Point (Pasar Angkasa=red) Blok G No.01-02, Lubuk Baja, Batam, disidangkan di Pengadilan Negeri (PN) Batam, Rabu (15/8).

Pada sidang mendengarkan keterangan saksi ini, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Rosmalina Sembiring, SH menghadirkan 3 orang saksi.

Atas keterangan para saksi, terdakwa mengakui kesalahannya. Selain itu, majelis hakim juga mengingatkan terdakwa agar tidak mengulanginya lagi di kemudian hari karena apa yang dilakukan terdakwa sangat berbahaya bagi masyarakat.

"Baik yang mulia," jawab terdakwa singkat.

Sesuasinya sidang dengar kesaksian itu, majelis hakim lalu menjadwalkan sidang berikutnya ke Minggu depan dalam agenda tuntutan.

Terdakwa Ali disidangkan karena sebelumnya telah dengan sengaja mengedarkan olahan pangan tampa izin edar dari BPOM.

Aksi Ali ketahuan pada Jumat tanggal 20 April 2018 setelah petugas Balai POM Batam melakukan razia rutin ketempat usahanya di PT. Indo Jati Pratama di Pasar Angkasa, Nagoya.

Dari hasil razia itu, petugas menemukan produk pangan olahan yang tidak memiliki izin edar atau belum mendapatkan persetujuan pendaftaran yang di berikan oleh Balai Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia.

Adapun barang bukti yang disita BPOM dari PT. Indo Jati Pratama antara lain:

1. Ramly Burger Lembu Ramly Food Processing Sdn.Bhd 1.188 picis.

2. Nutriplus Classic Frankfurter Ayam Madu Lay Hong Food Corporation Sdn.Bhd 320 picis.

3. Figo Steamboat Choice Ql Figo Food Sdn, Bhd 19 picis.

4.Mushroom Steamboat Selection Ql Food Sdn, Bhd 100 picis

5.Ci Pork Meat Ball C.I Food Sdn, Bhd 2.464 picis.

Atas perbuatannya, JPU menjerat terdakwa yang tidak ditahan itu dengan ancaman pidana dalam pasal142 Jo pasal 91 ayat (1) Undang-undang Republik Indonesia nomor 18 tahun 2012 tentang pangan.

Pantuan media ini, ada begitu banyak kasus pangan yang disidangkan di PN Batam, namun satu pun terdakwanya tidak ada yang ditahan.

Kendati kesalahannya yang dilakukan para terdakwa cukup berbahaya bagi masyarakat luas, namun para terdakwanya tidak ditahan alias bebas berkeliaran.

Giliran pencuri, penjudi, kasir Gelper dan pemain Gelper, semua terdakwanya ditahan diduga karena tidak punya dari segi finansial. Kesannya hukum di Indonesia ini tajam ke bawah tumpul ke atas.

Ada dugaan, mengapa terdakwa bos-bos mafia pangan itu tidak ditahan, mungkin karena cukup dari segi finansialnya sehingga penahanannya bisa ditangguhkan. (Ag)