Tuesday, 14 August 2018

Kecanduan Penjudi Gelper di Batam Diduga Sudah Memasuki Tingkat Stadium Akhir


Suasana Gelper di sekitaran Nagoya usai dirazia polisi beberapa waktu lalu.

Dinamika Kepri, Batam - Parah, kecanduan para penikmat judi ketangkasan di Gelanggang Permainan (Gelper) di Kota Batam saat ini tampaknya tidak bisa diredam lagi.

Bagi pemain, bukan hanya uang di sakunya yang dihabiskan, HP, sepeda motor dan mobil bahkan rumah, juga kerap ikut tergadaikan asalkan setiap hari bisa bermain Gelper dengan harapan kekalahan kemarin bisa kembali.

Namun bukannya menang, malah kehancuran yang datang. Dan tak jarang pula, para pemain juga ada yang mati dan kesirupan saat bermain di lokasi Gelper.

Kata mereka yang sudah lama melanglang buana di dunia perjudian Gelper, manusia tak akan pernah bisa menang melawan mesin Gelper yang sudah diprogram oleh si pengusaha.

Analoginya, jika manusia mampu mesin yang diprogram komputer, tak akan mungkin si pengusaha mau habis-habisan untuk mengurus izinnya.

Saat ini, puluhan titik judi ketangkasan Gelper bertebaran di Kota Batam. Dahulu targetnya Gelper itu dibuka yakni untuk meningkatkan kepariwisataan di Batam dengan sasaran para pelancong dari Singapura dan Malaysia.

Ya begitu tujuannya, namun pada realitanya bukan itu yang terjadi. Pantuan awak media ini, para pemain judi di setiap lokasi Gelper terlihat bukanlah pelancong dari Singapura maupun dari Malaysia, akan tetapi 90 persentnya adalah warga indonesia, khususnya masyarakat Batam.

Dengan bukanya judi Gelper di Batam, bukan hanya para pemainnya yang jadi korban. Para pekerja wasit dan kasir Gelper juga sudah banyak menjadi korban masuk ke penjara.

Dan yang paling parahnya lagi, para pengusahanya sama sekali tak pernah ada yang ditangkap. Anak buahnya masuk penjara, tetapi si pengusaha malah bebas berkeliaran, seakan hukum di negara ini tidak mampu untuk menindak mereka.

Melihat banyaknya orang masuk penjara karena Gelper, Taufik Nenggolan salah satu Hakim Pengadilan Negeri (PN) Batam sebelumnya saat menggelar sidang terdakwa judi Gelper, kepada saksi penangkap pernah meminta agar petugas kepolisian bisa segera menutup aktivitas judi Gelper di Batam.

Dari sisi dampak sosial, bukanya Gelper ini potensinya telah merusak ahklak para penikmatnya, karena dari sebagian pemainnya terlihat tidak lagi begitu perduli dengan kehidupan rumah tangganya. Mereka lebih memilih menghabiskan waktu 24 jam bermain judi di Gelper ketimbang bersama keluarga.

Dengan bukanya Gelper di Batam saat ini diduga seperti ingin melakukan kemunduran peradaban terhadap generasi bangsa ini, karena dengan bukanya judi Gelper, banyak para orang tua tidak lagi mau memperdulikan kehidupan anak-anaknya. Dan tak heran jika saat ini banyak anak-anak di sekitaran Nagoya yang dimamfaatkan orang tuanya sebagai penjual koran maupun dijadikan pengemis jalanan.

Di tengah sulitnya perekonomian Batam saat ini, para pemain Gelper juga sebagaiannya banyak mengantungkan hidupnnya di lokasi Gelper.

Biasanya dengan modal pas-pasan mereka akan bermain dengan mengantung meja bandar dengan berharap meja yang digantungnya itu dapat diberikan kepada pemain lain, dan jika menang ia mendapatkan bagian.

Akibat seringnya pemain menggantung meja bandar, keributan antara pengawas Gelper dan pemain lainnya juga kerap terjadi.

Tak hanya itu, pengunjung yang mabuk minuman juga kerap membuat keributan di lokasi Gelper. Dan parahnya lagi ada juga yang mencoba memalsukan tiket penukaran hadiah ke rokok.

Kini kecanduan penjudi di Gelper di Batam diduga sudah memasuki ke tingkat stadium akhir, HP, sepeda motor dan mobil bahkan rumah, juga ikut tergadaikan asalkan bisa ikut bermain judi Gelper. Menang ketagihan, kalah penasaran, tidak ada ujungnya .(Ag)