Wednesday, 8 August 2018

Dua Terdakwa Jaringan Trafiking Antar Negara Disidangkan di PN Batam


Terdakwa Juwarni alias Anika alias Mami.
Dinamika Kepri, Batam - Dua orang terdakwa Juwarni alias Anika alias Mami dan Siswo Edi bin Sukayat dalam perkara dugaan jaringan terorganisir penjual orang (Trafiking) ke Negara Singapura disidangkan di Pengadilan Negeri (PN) Batam, Rabu (8/8) sore.

Kendati kedua terdakwa satu jaringan, namun keduanya disidangkan dengan berkas terpisah (split) karena peran kerjanya berbeda.

Pengakuannya terdakwa Juwarni dalam sidang, ia berperan sebagai kaki tangan bosnya yang ada di Singapura yang bernama Subastian.

Oleh bosnya, ia ditugaskan mencari orang indonesia untuk dipekerjakan di Singapura dengan komisi  SGD 300 (Singapur Dollar) perkepala.

Bekerja sama dengan Karolina temannya semasa di Singapura, ia berhasil mendapatkan 2 orang perempuan korban  Maria dan Margareta asal Amumere, NTT.

Semua biaya ongkos pesawat, kapal laut dan pengurusan dokumen di Batam hingga tiba di Singapura, kata Juwarni ditanggung oleh bosnya.

Bagi korban yang terekrut, katanya akan digaji SGD 580 perbulannya dan setiap bulannya gaji akan dipotong SGD 500 selama 6 bulan bekerja.

Terdakwa Siswo Edi bin Sukayat (baju merah).
"Dari bos, saya mendapatkan komisi SGD 300 perkepala dan saya bagi dengan Karolina. Soal potongan gaji SGD 500 selama 6 bulan itu, urusannya bos, tapi katanya itu untuk menutupi biaya perjalanan calon pekerja hingga sampai ke Singapura," kata terdakwa Juwarni mantan karyawan salah satu PJTKI di Batam itu.

Juwarni mengaku, sebelum ia tertangkap, setiap bulannya ia mampu mengirim minimal 2 orang ke Singapura.

Kepada hakim ia mengaku nekad melakukan itu katanya untuk menambah penghasilan sampingan.

"Itu pekerjaan sampingan saja untuk nambah penghasilan yang mulia," kata Juwarni lagi.

Yang paling parahnya lagi, supaya korbannya bisa diberangkat ke Singapura, identitas (KTP) salah satu korbannya yang bernama Maria yang beragama Katolik, dipalsukan baik nama, agama maupun penampilan korban dibuat memakai hijab dilakukan, tujuannya agar KTP korbannya dapat diterbitkan di Batam untuk syarat pengurusan paspor.

Ada dugaan itu dilakukan untuk menghindari pembayaran Fiskal di Batam.

"Pak Siswo dan Pak Azis memalsukan itu supaya paspornya bisa diurus di Batam. Untuk jasa itu, saya memberikannya Rp 5 juta," ucap Juwarni.

Sedangkan pekerjaan yang dijanjikan terdakwa terhadap ke dua korban, di Singapura nantinya korban akan diperkerjakan sebagai pembantu rumah tangga dengan cara kerja pertime (hitung jam), namun sebelum berhasil diberangkatkan, Juwarni sudah keburu ditangkap polisi.

Penangkapan Juwarni dilakukan atas laporan dari para aktivis kemanusian di Batam diketuai oleh Pastor Chrisanctus Paschalis Saturnus.

Dari penangkapan Juwarni ini, polisi berhasil menangkap pemalsu dokumen Siswo Edi bin Sukayat. Sesangkan Azis temannya Siswo masih DPO.

Kepada hakim, terdakwa Juwarni mengatakan kalau sangat menyelasali perbuatannya.

Setelah mendengarkan keterangan dari terdakwa Juwarni dan pembacaan dakwaan terhadap terdakwa Siswo, hakim lalu menunda sidang hingga pekan depan (15/8) dengan agenda tuntutan terhadap Juwarni dan agenda keterangan saksi terhadap terdakwa Siswo Edi.

Oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) para terdakwa ini dijerat pidana pasal 2 Ayat 1 UU Nomor. 21 Tahun 2007 tentang pemberantasan tindak pidana perdagangan orang dan pasal 81 UU nomor 18 tahun 2017 tentang Perlindungan Pekerja Migran Indonesia jo Pasal 56 ke-1 KUHP dengan acaman kurungan 15 tahun penjara.(Ag)