Wednesday, 29 August 2018

Dijerat Pasal TPPU, Yulia Suryani Terancam Dimiskinkan


Sidang terdakwa Yulia Suryani alias Angin di PN Batam, Rabu (29/8).

Dinamika Kepri, Batam - Terdakwa Yulia Suryani alias Angin yang masih berstatus terpidana 20 tahun penjara setelah Kasasi kasus narkotika sabu 4,046 Kg pada tahun 2016, kembali didudukan di kursi pesakitan di Pengadilan Negeri (PN) Batam dalam perkara Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) dan Narkoba, Rabu (29/8) sore.

Terdakwa ini kembali disidangkan yakni rentetan dari kasus narkoba yang dia lakukan dengan suami sirinya Junaidi di tahun 2016.

Di tahun yang sama, Junaidi juga telah divonis 20 tahun penjara oleh hakim PN Batam.

Pada perkara ini terdakwa dijerat ancaman pidana melanggar Pasal 137 huruf a UU RI No.35 Tahun 2009 tentang Narkotika dan atau pasal 4 UU RI nomor 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang dan atau Pasal 5 UU RI Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang.

Terdakwa disidangkan karena diduga sebagai perantara jaringan mafia narkoba antar lintas negara Indonesia-Malaysia dengan peran tugas mengatur pembayaran transaksi narkoba terhadap bandar yang berada di Malaysia dengan mendapat upah Rp 250 juta setiap pertransaksinya sejak dari tahun 2014 hingga tahun 2016.

Untuk mengetahui benar tidaknya ada transaksi tidak wajar saat sebelum terdakwa ditangkap dan dijebloskan ke dalam penjara, pada sidang lanjutan ini, Jaksa Penuntut Umum, Susanto, SH menghadirkan 2 orang saksi dari pihak perbankan, Delima Sari dari Bank BRI dan Hendra Jaya Purnama dari Bank Mandiri.

Dalam sidang, saksi dari pihak Bank Mandiri membenarkan bahwa atas nama terdakwa dalam 1 tahun telah melakukan transaksi keluar masuk tranfer uang sebanyak Rp 2 miliar.

Tak hanya itu, terdakwa juga disebut saksi memiliki 3 nomor rekening di Bank BRI.

Sama halnya dengan saksi dari Bank Mandiri, saksi Hendra Jaya Purnama juga menyebutkan bahwa terdakwa memiliki 4 nomor rekening di Bank Mandiri.

Fakta sidang, sesuai barang bukti buku tabungan ditunjukan di persidangan, dibacakan hakim bahwa terdakwa kerap melakukan transfer uang tidak wajar ke rekening lain dengan jumlah fantastik hingga Rp 500 juta perhari bahkan berkali-kali dengan jumlah nominal yang  berbeda.

Sementara profil terdakwa di Bank Mandiri kata saksi adalah penjual ikan dan di Bank BRI yakni sebagai pengusaha penukaran uang ringgit.

"Jelas itu transaksi yang tidak wajar," kata saksi Delima Sari Batubara menjawab pertanyaan hakim.

Selain itu, apa yang disampaikan saks dalam persidangan dibenarkan oleh terdakwa.

Setelah usai pemeriksaan ke dua saksi, hakim Hera Polosia Destiny lalu menunda sidang ke pekan depan dengan agenda mendengarkan saksi ahli.

Dalam perkara ini jika terdakwa terbukti bersalah melakukan pencucian uang, maka selain divonis hukuman kurungan penjara, terdakwa juga terancam dimiskinkan oleh negara.

Saat ini, 1 unit sepeda motor merek Yamaha type RN 22 warna biru dengan nomor rangka plat B 4279 TED, 1 unit sepeda motor merk Kawasaki Type EX250L (Ninja 250) warna merah BP- 6586- GJ , 1 unit sepeda motor merk Kawasaki Type EN 650B warna abu-abu BP- 6384- GO.

1 unit kendaraan roda 4 merek Honda Accord warna hitam, BP-1061-ZG dan sebidang tanah dan rumah yang beralamat di Komplek Hawaii Garden Batam Center Blok Q No.11 Kecamatan Batam Kota Kotamadya Batam Luas Tanah 132 M2, Luas Bangunan 36 M2 milik terdakwa telah telah dijadikan barang bukti untuk disita.(Ag)