Tuesday, 21 August 2018

Sidang Lanjutan 1,6 Ton Sabu, Saksi: Kepada Polisi RRC Terdakwa Chen Hui Akui Kesalahannya


Sidang lanjutan 1,6 ton sabu di PN Batam, Selasa (21/8) siang.
Dinamika Kepri, Batam -  Sidang lanjutan permeriksaan saksi di sidang perkara narkoba 1,6 ton sabu dari Kapal KM 61870  MV Min Liang Yuyun asal Taiwan yang sebelumnya diamankan oleh Tim Gabungan Satgassus Polri, Direktorat IV Tipidnarkoba, Bea Cukai Pusat dan Bea Cukai Batam di perairan Pulau Maria dengan 4 orang terdakwa Warga Negara Asing (WNA) asal China daratan, Chen Hui, Chen Yi, Chen Mais Heng dan Yao Yin Fa, saksi penerjemah Herlina sebutkan bahwa kepada polisi Republik Rakyat China (RRC) dua orang dari empat terdakwa mengakui kalau mereka mengetahui keberadaan sabu di dalam kapal.

"Setelah saya transleter perkataan kapten kapal dengan polisi RRC yang ikut memeriksa mereka di Polda Kepri, kapten kapal mengakui kalau ia mengetahui barang (sabu=red) di dalam kapal yang dibawanya," kata saksi Herlina kepada hakim saat sidang lanjutan di Pengadilan Negeri (PN) Batam, Selasa (21/8) siang.

Selain itu, ketika Jaksa penuntut umum (JPU) menanyakan kepada saksi, apakah ada tambahan BAP dan di BAP tambahan itu terdakwa kapten kapal mengakui kesalahannya, saksi Erlina menjawab itu benar.

"Benar ada BAP tambahan. Di BAP itu terdakwa kapten kapal benar mengakui kesalahannya, dan ia pun pasrah kalaupun akan dihukum mati," kata saksi lagi.

Ketika ditanya hakim kepada terdakwa, apakah ada pengakuan seperti itu, melalui pernerjemah terdakwa mengatakan itu tidak benar.

"Kami tidak mengatakan itu. Kami hanya meminta agar polisi RRC juga menangkap Lou Yu," kata terdakwa, Chen Hui Kapten kapal.

Menurut keterangan saksi Herlina, Lou Yu adalah orang yang mengendalikan ke 4 terdakwa selama 11 hari berlayar di lautan.

Semua gerak -gerik mereka (terdakwa) saat di atas kapal, dipantau oleh Lou Yu melauli telepon satelit. Begitu juga dengan setiap pengibaran bendera di kapal setiap zona yang dimasuki, juga perintah dari Lou Yu.

Dari keterangan saksi di awal sidang, pengakuan ke 4 terdakwa terhadapnya, terdakwa sama sekali tidak mengetahui ada barang itu di dalam kapal.

Namun setelah adanya pengakuan terdakwa ke polisi RRC seperti kata saksi sebelumnya, dan juga adanya BAP tambahan (BAP ke-2=red) bahwa terdakwa telah mengaku salah, ada dugaan bahwa pengakuan terdakwa di BAP pertama yang mengatakan tidak mengetahui barang haram tersebut,  adalah kebohongan.

Bahkan saksi Herlina juga mengaku kesal setelah mengetahui pengakuan terdakwa.

" Ya, aku juga kesal saat mengetahui pengakuan itu. Mereka berbohong padaku. Gimana tidak kesal, dari  mulai 11 pagi sampai jam 10:00 Wib malam aku mendengarkan semua pengakuan mereka," kata saksi.

Setelah mendengarkan semua keterangan saksi Herlina maupun keberatan dari para terdakwa, hakim Candra, SH lalu menunda sidang hingga ke pekan depan dalam agenda pemeriksaan saksi dari pernerjemah yang bernama Anton.

Selain itu kepada hakim, penasehat hukum terdakwa meminta agar panitera tidak usah mencatat pernyataan saksi Herlina tentang pengakuan terdakwa kepada polisi RRC tersebut.

Namun hakim Candra menolaknya, ia menjawab bahwa semua yang terjadi dipersidangan harus dicatat oleh panitera.

Pantuan awak media ini saat persidangan sepertinya ada yang aneh sebab keterangan saksi di awal- awal sidang terkesan seperti ingin membela ke 4 terdakwa dengan mengatakan pengakuan para terdakwa kepadanya tidak mengetahui kalau barang tersebut di dalam kapal.

Namun setelah JPU menanyakan saksi tentang adanya BAP tambahan dan pengakuan terdakwa kepada polisi RRC, suasana sidang tampak berubah tegang.

"Apa yang ditanya hakim dan jaksa, tentu itulah yang saya jawab. Mengenai pengakuan terdakwa ke Polisi RRC itu, setelah saya translater memang seperti itu pengakuannya," kata saksi Herlina usai sidang kepada awak media.(Ag)