Monday, 9 July 2018

Tampa Izin Conti Candra, Terdakwa Tjipta Fudjiarta Mengangkat Warga Asing Jabat Dirut di PT.BMS


Berlian Ginting mantan asisten HRD Manager Hotel BCC bersaksi di PN Batam, Senin (9/7).

Dinamika Kepri, Batam - Sidang terdakwa Tjipta Fudjiarta perkara kasus dugaan penipuan jual beli dan penggelapan saham Hotel BCC Batam, hari ini kembali digelar di Pengadilan Negeri (PN) Batam dalam agenda sidang mendengarkan keterangan saksi, Senin (9/7).

Sidang yang diketuai oleh Hakim Tumpal Sagala, SH didampingi hakim anggota Taufik dan Yona Lamerosa Ketaren ini, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Samsul Sitinjak, SH menghadirkan seorang wanita saksi bernama Berlian mantan asisten HRD maneger Hotel BCC yang sudah mengundurkan diri sejak tahun 2014 lalu.

"Waktu itu saya menjabat sebagai asisten HRD manager di Hotel BCC. Di dalam akta perusahaan (susunan direksi=red) saya baca waktu itu, Conti Candra sebagai Direktur utama dan Tjipta Fudjiarta sebagai komisarisnya. Mengenai siapa saja pemilik saham di Hotel itu yang saya ketahui, selain pak Conti Candra, ada Wimeng, Andres dan Hasan," kata saksi.

Saksi juga mengatakan, tidak begitu banyak mengetahui apa yang terjadi di Hotel BCC tersebut.

"Tahunya permasalahan ini, ketika saya diperiksa Mabes Polri," ujarnya.

Kata saksi lagi, terdakwa Tjipta Fudjiarta sebelumnya juga pernah mempekerjakan orang asing warga Singapura sebagai General Manager di Hotel BCC.

Setelah itu, tak lama bekerja lalu pada tahun 2013, kata saksi warga Singapura bernama Weston itu kembali diangkat sebagai Direktur Utama oleh terdakwa Tjipta Fudjiarta tampa persetujuan dari Conti Candra.

"Pada tahun 2013, terdakwa mengubah akta susunan Direksi di PT. BMS dengan mengangkat Wingston sebagai Direktur Utama, tampa persetujuan dari Conti Candra," terang saksi.

Kata Berlian mengisahkan, ia bekerja di PT BMS tugasnya ialah engurus karyawan dan perizinan karyawan Warga Negara Asing yang bekerja di Hotel BCC. Seperti pengurusan izin Wingston Warga Negara Singapore yang diangkat sebagai General Manager (GM) di hotel BCC.

Sedangkan susunan Direksi sebelumnya ia tidak mengetahuinya. Dan mengetahui awal susunan kepengurusan Direksi di PT BMS tahun 2011. Katanya itu dilihatnya di akta Notaris.

"Pernah saya lihat foto copi akta Notaris bahwa terdakwa Tjipta Fudjiarta sebagai Komisaris, Conti Chandra sebagai Direktur Utama. Itu yang saya lihat dalam akta Notaris," ujarnya kembali.

Kemudian saksi Berlian menyampaikan, ada perubahan jajaran Direksi di PT BMS selama dua kali.

Perubahan akta Notaris itu  terjadi awal tahun 2013. Wingston (WN Singapore) itu menjabat sebagai Direktur Utama (Dirut) dan Conti Chandra turun jabatan menjadi Direktur. Kemudian beberapa bulan kemudian akta dirubah kembali, jabatab direktur Conti Chandra digantikan oleh Jauhari.

"Tahun 2013 Wingston dalam perubahan akta Notaris diangkatnya sebagai Direktur Utama, dan Jauhari sebagai Direktur, sejak itu Conti Chandra tidak pernah lagi ada di kantor. Tidak tau apa masalanya," terang Berlian.

Ketika saksi ditanya Jaksa terkait proses jual beli BCC Hotel, saksi menjawab tidak mengetahuinya. Bahkan pemegang saham di PT BMS, saksi juga tidak mengetahui siapa-siapa saja orang yang mengurus operasional Hotel BCC karena sejak bekerja disana, kata dia hanya Conti Chandra mengurusi hotel sedangkan terdakwa tidak ada mengurusnya.

"Selama saya bekerja di BCC hotel, semua urusan masalah operasional itu ditandatangani oleh Conti Chandra, terdakwa tidak ada. Kemudian pernah mendengar cerita permasalahan, masalah saham. Itu saya mendengarnya dari Conti Chandra dan terdakwa Tjipta Fudjiarta," kata Berlian kepada hakim bersaksi.

Penasehat hukum terdakwa Tjipta Fudjiarta, saat bertanya terkait adanya pengunduran diri Conti Chandra yang diajukan oleh istrinya. Berlian menjawabnya ada, namun itu tidak dianggap keseriusan.

"Suratnya dikembalikan kembali, karena tidak dianggap keseriusan," kata Berlian.

Istri Conti Chandra saat mendengarkan keterangan saksi Berlian ini, tentang surat penguduran diri Conti Candra yang diajukanya, karena terdakwa belum membayar hasil jual beli saham.

"Iya benar saya ajukan, karena terdakwa Tjipta Fudjiarta belum bayar," kata istri Conti kepada media ini setelah sidang di skors oleh hakim.

Dalam perkara ini, oleh JPU terdakwa dijerat dengan pasal berlapis di antaranya pasal 378 KUHP tentang penipuan, pasal 372 KUHP tentang penggelapan dan pasal 266 tentang pemalsuan surat-surat terhadap akta otentik, dengan ancaman pidana maksimal 7 tahun penjara.(Ag)