Sunday, 1 July 2018

Laporan Nurbatias Dugaan Hasil Audit PT. Samudra Rasaki Palsu, Direspon Kompolnas


Foto Surat jawaban dari Kompolnas. Presiden LSM Berlian, Akhmad Rosano.   

Dinamika Kepri, Batam - Kasus dugaan tindak pidana pemalsuan dokumen, penipuan dan penggelapan yang dilakukan oleh seorang pengacara inisial RW dan dugaan pemalsuan data hasil audit yang mengatasnamakan akuntan publik Drs. Ishak Nukman (Almarhum) oleh Likuidator berinisial BP akan segera ditindak lanjuti oleh pihak korban, Direktur Utama PT. Samudra Rasaki Teknindo, Ir. Nurbatias dan Presiden Lembaga Swadya Masyarakat (LSM) Berlian, Akhmad Rosano.

"Benar, pihak kami akan menindaklanjuti dugaan penipuan ini sampai tuntas," tegas Akhmad Rosano, Sabtu (30/6) malam kepada awak media ini di kantor LSM Berlian, Batam Center, Batam, Kepri.

Tak hanya itu, kata Akhmad Rosano, kasus ini juga sudah dilaporkan korban ke Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) karena laporan yang sebelumnya dilakukan korban ke Ditreskrimum Polda Kepri, tak kunjung ditanggapi.

Ir. Nurbatias.

"Duggan penipuan, penggelapan dan dugaan pemalsuan hasil audit tersebut sebelumnya pada tanggal 29 Mei 2015 lalu sudah dilaporkan korban ke Ditreskrimum Polda Kepri (Laporan Polisi No.14P-B/50/V/2015/SPKT-KEPRI=red) namun sampai saat ini tidak ditanggapi, makanya korban melaporkannya ke Kompolnas. Laporan itu juga sudah ditanggapi oleh Kompolnas. Katanya dalam waktu dekat ini pihak Kompolnas akan turun ke Batam untuk menindaklanjuti laporan itu," kata Akhmad Rosano lagi.

Korban Ir. Nurbatias sebelumnya adalah seorang pengusaha di Batam bergerak di bidang usaha pengiriman dan pemasok kebutuhan Kelautan untuk Industri Pelayaran di indonesia.

Namun usahanya itu kini sudah tidak beraktifitas lagi lantaran ia pada tahun 2016 lalu masuk bui vonis 7 bulan penjara oleh Pengadilan Negeri (PN) Batam akibat melakukan pengancaman terhadap General Managernya, Djaswir Budar dengan samurai diruang kerjanya waktu itu. 

Kini Nurbatias sudah keluar bebas dari penjara, namun tidak bisa beberbuat banyak, apalagi untuk menjalankan usahanya, karena mantan istrinya bernama Shinta Dewi yang sudah diceraikannya, diduga telah mengambil alih semua aset perusahaan dan harta gono-gini selama ia berada di dalam penjara dengan memakai jasa pengacara inisial RW dan Likuidator inisial BP.

Dalam hal ini Akmad Rosano menduga RW dan BP secara bersama-sama telah melakukan tindakan melawan hukum dengan membuat Audit palsu tanggal 31 Agustus 2015 yang mengatasnamakan Kantor Akuntan Publik Ishak, Saleh, Soewondo & Rekan yang notabene telah meninggal dunia tanggal 31 Oktober 2012.

"Karena merasa telah ditipu itulah, makanya korban melaporkan dugaan ini, sebab dalam laporan hasil audit akuntan publik Drs. Ishak Nukman (Almarhum) tidak sesuai di mana pada laporan itu disebutkan bahwa PT. Samudra Rasaki Teknindo memiliki banyak hutang kepada pihak lain, padahal relitanya itu tidak seperti itu, malah kebalikannya, pihak lainlah yang memiliki hutang kepada PT. Samudra Rasaki Teknindo. Yang paling anehnya lagi, tanda tangan laporan itu hasil audit itu ditanda tangani akuntan publik Drs. Ishak Nukman yang sudah meninggal dunia," ujar Akhmad Rosano.

Menurut Undang-Undang No 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas (UUPT) dalam jangka waktu paling lambat 30 hari, Likuidator wajib memberitahukan hasil audit kepada semua kreditor mengenai pembubaran Perseroan dalam Surat Kabar dan Berita Negara Republik Indonesia.

Selanjutnya, Likuidator juga wajib memberitahukan pembubaran Perseroan kepada Menteri untuk dicatat dalam daftar Perseroan bahwa Perseroan dalam likuidasi (Pasal 147 ayat (1) UUPT), namun dalam hal ini Likuidator berinisial BP tidak pernah melakukannya, padahal sudah memakan waktu selama bertahun-tahun.

"Karena Likuidator tidak melaporkan itu, makanya aset perusahaan seperti work shop sampai saat ini tidak bisa digunakan lagi. Padahal menurut aturannya setelah 30 hari Likuidator harus melaporkannya, tetapi ini tidak dilakukannya, padahal durasinya sudah bertahun-tahun, Tujuannya apa, kenapa tidak dilaporkan?  Kami menduga Likuidator berinisial BP itu segaja tidak melaporkannya dengan dugaan untuk tujuan kepentingan lain, agar korban tidak dapat melanjutkan usahanya lagi," ungkap Rosano. 

Tidak hanya melaporkan ke Ditreskrimum Polda Kepri, pada tanggal 5 Juni 2018 lalu,  korban Ir. H Nurbatias juga sudah melaporkan hal ini kepada Kadiv Propam Polri. Tetapi dari semua laporan yang dilakukan oleh korban, Kompolnas yang lebih awal meresponnya.

"Harapan kita ini dapat cepat selesai agar korban dapat melanjutkan hidupnya dengan menjalankan usahanya seperti dulu lagi," tutup Akmad Rosano selaku kuasa 1 yang ditunjuk korban untuk mendampingi/mengawal proses hal dugaan pemalsuan dokumen, penipuan dan penggelapan ini. (Ag)