Sunday, 8 July 2018

Keluarga Korban Kapal Terbakar di PT. ASL Sebut Kesaksian Wildani Bohong


Saksi Wildani dengan 2 terdakwa Ronald Robert dan Dewi Wulandari, Saat sidang di PN Batam, Kamis (5/7). F/R.co

Dinamika Kepri, Batam -  Setelah mendengarkan kesaksian dari saksi Wildani HRD PT. Dynamik Overseas pada sidang tanggal  5 Juli 2018 lalu di Pengadilan Negeri (PN) Batam, keluarga David Cristohper Sitepu mengatakan, saksi lebih cendrung bersaksi berbohong ketimbang mengakui kenyataannya.

"Saksi banyak bohongnya. Kesaksiannya yang mengatakan David dibawa ke RS Awal Bros atas permintaan keluarga, itu adalah bohong besar, itu tidak benar," kata ibu korban, Sabtu (7/7) sore.

"Kami tidak pernah meminta pihak perusahaan untuk membawa David ke RS Awal Bros. David dirawat di RS itu karena rekomendasi dari Dokter Asmoji RSUD Embung Fatimah, bukan permintaan keluarga," lanjutnya.

Baca jugaBerkelit saat Bersaksi, Wildani HRD PT. Dynamik Overseas Nyaris Dibui Hakim

Dikatakannya lagi, David dirujuk ke RS Awal Bros karena alat di RSUD Embung Fatimah kata Dokter Asmoji tidak memadai, sehingga dokter itu memberikan surat rujukan, agar Davit segera dirawat di RS Awal Bros.

Awalnya, surat rujukan yang pertama tidak ditanggapi pihak perusahaan. Begitu juga dengan surat rujukan yang kedua tertanggal 2 Mei 2016 dan 20 Mei 2016, juga tidak ditanggapi.

"Sudah dua kali Dokter Asmoji memberikan surat rujukan. Kefua surat itu selalu kami sampaikan ke pihak perusahaan, namun tidak ditanggapi. Tetapi setelah kami menghadap dan melaporkannya ke Kapolda Kepri, Irjen Pol Sam Budigusdian waktu itu, pihak perusahaan bergegas membawa David berobat ke RS Awal Bros. Davit dirawat di RS Awal Bros bukan atas permintaan keluarga, tetapi rujukan dari RSUD Embung Fatiamah. Jadi apa yang disampaikan saksi itu adalah bohong," katanya lagi.

Selain menanggapi itu, kesaksian Wildani yang mengatakan korban pernah diberikan fasilitas kamar kos full AC plus dibelikan TV. Kata ibu korban, itu hanya 3 bulan dan setelah itu David  dipindahkan ke kontrakan dengan biaya dibayar 6 bulan.

Lanjut Ibu korban, sudah 1 tahun korban tidak lagi diobati. Begitu juga biaya  kontrakan, sudah 1 tahun bayar sendiri.

Tak hanya itu, Gaji korban yang kini mengalami cacat luka bakar seluruh tubuh itu, tidak lagi diberikan oleh perusahaan dengan alasan karena tidak ada surat keterangan sakit (MC).

"Bagainana ada surat keterangan sakitnya kalau dokternya tidak mau memberikan surat MC? Anehnya lagi, korban malah di suruh kembali kerja, padahal kondisinya masih keadaan sakit. Korban berobat ke UGD pun, dokter UGD nya juga tidak mau memberikan surat MC nya dikarenakan tidak diizinkan oleh pihak perusahaan," ungkap ibu David sedih.

Saat ini, karena perobatan tidak lagi berjalan, kondisi David Cristohper terlihat sangat memprihatikan, pasalnya setiap waktu kerap mengeluhkan rasa sakit di bekas-bekas oprasi plastik di tubuhnya.

Kendati sudah ada permintaan tertulis dari dokter di RSCM Kencana Jakarta, agar David segera diobatin, pihak perusahaan tak kunjung melakukannya.

"Dokter RSCM sebelumnya sudah menyuratinya. Surat itu sudah kami sampaikan ke pihak perusahaan supaya Davit bisa segera diobatin. Tapi sampai saat ini tidak ditanggapi. Saya juga pernah menelepon saudara terdakwa Dewi Wulandari untuk menanyakan tentang kelanjutan perobatan David, namun waktu itu terdakwa kepada saya menjawab, kalau ia mengaku hanya sebagai pekerja biasa di perusahaan itu. Katanya apa yang saya tanyakan padanya, akan disampaikan keatasannya. Dan saya juga terkejut setelah mengetahui kalau ternyata terdakwa  saudara Dewi Wulandari itu adalah komisaris dari PT. Dynamik Overseas," ucap ibu Davit Cristohper.

"Berarti selama ini terdakwa itu sudah berbohong pada saya, tega sekali dia," lanjutnya sembari meneteskan air mata.

Baca jugaRonald Direktur PT. Dynamic Overseas Disidangkan Kembali, Korban: Waktu itu Tak ada yang Mau Menolong Saya

David Cristoper sebelumnya bekerja sebagai Welder di PT. Dynamik Overseas dengan masa kontrak kerja selama 3 bulan. Namun baru 3 hari bekerja, David lalu mengalami insiden kebakaran di dalam tanki kapal Tanker MT. Succes Energy XXXII  di lokasi  PT ASL Shipyard, Tanjung Uncang, Batam pada tahun 2016 yang lalu.

Insiden itu terjadi akibat petugas Sefety perusahaan, lalai dalam melakukan tanggung jawab kerjanya.

Akiibat peristiwa itu, David akhirnya mengalami cacat seumur hidup dengan penuh bekas luka bakar pada tubuhnya . Sedangkan 2 orang Direktur dan komisaris perusahaan itu yakni Ronald Robert dan Dewi Yulandari yang merupakan pasangan suami istri, dijadikan sebagai terdakwa.

Dalam perkara ini, oleh jaksa penuntut umum (JPU), kedua terdakwa ini dijerat diancam pidana pasal 360 ayat (1) Jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP dengan ancaman hukuman maksimal 4 tahun penjara denda Rp 400 juta atau pasal 186 ayat (1) jo Pasal 35 ayat (3) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan. (Ag)