Thursday, 5 July 2018

Berkelit saat Bersaksi, Wildani HRD PT. Dynamik Overseas Nyaris Dibui Hakim


Sebelum bersaksi, saksi Wildani HRD PT. Dynamic Overseas, melakukan sumpah.

Dinamika Kepri, Batam - Wildani HRD PT. Dynamic Overseas dihadirkan dalam sidang perkara Tangki COT 2 P Kapal MT. Succes Energy XXXII terbakar di area Kerja milik PT. ASL Shipyard Tanjung Uncang pada hari Minggu tanggal 26 Maret 2016 lalu, di Pengadilan Negeri (PN) untuk memberikan kesaksian, Kamis (5/7) siang.

Pada sidang yang diketuai oleh Hakim Dr. Syahlan, SH ini, saksi Wildani memberikan keterangan berbelit-belit saat menjawab setiap pertanyaan dari hakim, sehingga membuat hakim sempat berang dan mengancam saksi akan dijebloskan ke dalam sel tahanan.

Baca juga: David Korban Kapal Terbakar di PT ASL Sebut Ia Tetap Hidup karena Mujizat dari Tuhan

"Saudara saksi jangan berkelit. Saudara telah disumpah untuk memberikan kesaksian yang benar. Saudara harus jujur, kalau tidak tahu, bilang tidak tahu, karena kalau begini, bisa-bisa saudara saksi tidak pulang hari ini. Apa anda mau ditahan? Karena membuat kesaksian palsu dapat dipidana. Nah, maka itu jawab jujur sesuai apa yang saudara ketahui," ucap hakim kesal kepada saksi sembari pegang palu.

Hakim kesal kepada saksi saat itu, di mana saat hakim menanyakan, sudah berapa biaya yang dihabiskan perusahaan untuk biaya perobatan korban David Cristohper, saksi menjawab sudah habis Rp 150 juta.

Lalu ketika ditanya lagi, apakah biaya segitu sudah tertanggulangi kepada kepada pihak korban, saksi malah bingung saat hendak menjawabnya, dan memberikan jawaban yang tidak sesuai dengan pertanyaan.

Baca juga: Ronald Direktur PT. Dynamic Overseas Disidangkan Kembali, Korban: Waktu itu Tak ada yang Mau Menolong Saya

Hampir dua saksi 2 jam memberikan kesaksiaannya. Kepada hakim saksi mengatakan, bahwa pihak perusahaan peeusahaan sudah melakukan kewajibannya dengan membayar biaya pengobatan korban baik dari RSUD Embung Fatimah maupun sampai ke RS Awal Bros, kecuali ke RSCM Jakarta katanya karena di Jakarta PT. Dinamik Overseas tidak ada perwakilannya.

Saksi Wildani juga mengatakan, selama proses penyembuhan, korban David yang kini mengalami cacat luka bakar seluruh tubuh itu, juga sempat difasilitasi dengan tempat tinggal yang layak.

"Selain menangung biaya perobatan, korban juga sudah sempat di parmanenkan (karyawan tetap=red) di perusahaan dan diberikan tempat tinggal kontrakan ber AC, TV juga dibelikan. Kerja juga dijemput," kata saksi.

Mengenai Jasir Limbong yang sebelumnya memerintah korban untuk bekerja ngelas di dalam tanki, posisinya saat ini sudah tidak bekerja di PT. Dinamik Overseas lagi.

"Jasir Limbong sudah tidak bekerja lagi. Ia sudah mengundurkan diri," jawab saksi kepada hakim.

Banyak pertanyaan ditanyakan kepada saksi. Ada tahu dan ada yang tidak diketahuinya, karena saat kejadian itu, posisinya lagi tidak ikut masuk bekerja.

Dari sekian banyaknya jawaban yang diutarakan oleh saksi Wildani dalam persidangan ini, kedua terdakwa, Ronald Robert Alexzander Mangera dan Dewi Wulandari selaku pemilik perusahaan yang hadir dalam sidang ini mengatakan, tidak keberatan dengan keterangan saksi.

Tak hanya itu, JPU Rumondang Manurung, SH dalam sidang juga mengatakan, bahwa dalam perkara ini, telah menetap satu orang tersangka dari pihak PT. ASL.

Baca jugaTerdakwa Ronald Robert dan Dewi Wulandari PT Dynamic Overseas Jalani Sidang Pertama

Setelah mendengar dari keterangan saksi yang nyaris dibui itu, hakim lalu mengetuk palu dan menjadwalkan sidang berikutnya.

Hakim mengatakan sidang tersebut akan kembali pada tanggal 12 Juli 2018 dengan agenda yang sama yakni mendengarkan keterangan saksi dari saksi yang lain.

Dalam perkara ini, kedua terdakwa Ronald Robert Alexzander Mangera dan Dewi Wulandari, diancam pidana pasal 360 ayat (1) Jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP dengan ancaman hukuman maksimal 4 tahun penjara denda Rp 400 juta atau pasal 186 ayat (1)  jo Pasal 35 ayat (3) Undang-Undang  Republik Indonesia Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan.

Usai persidangan, ketika awak media ini menanyakan kepada saksi, apakah fasilitas rumah kontrakan, kamar ber AC dan membelikan TV untuk korban itu dilakukan setelah atau sebelum dilaporkan ke Polisi? saksi Wildani tidak mau menjawabnya.(Ag)