Monday, 23 July 2018

Benarkah Musofa Sudah Ajukan Kavling Tahap II Blok D Tiban I ke BP Batam? Aldi: Kami akan Menginvestigasinya


Ketua LSM GI, Aldi Braga.

Dinamika Kepri, Batam - Menanggapi lamanya pengajuan lahan kavling tahap II di Blok D Tiban I, Sekupang, Batam yang diajukan oleh anggota DPRD Batam, Musofa, SE ke BP Batam sejak dari tahun 2016, kata Aldi Braga, itu sangat tidak mungkin.

"Tak mungkinlah selama 2 tahun pengajuan BP Batam tidak menjawabnya. Biasa itu akan dijawab ya dan tidak. Sekarang yang menjadi pertanyaannya, benar enggak beliau itu mengajukannya? Dugaan saya, itu mungkin hanya akal-akalannya saja. Giliran warga sudah ribut baru ditanggapinya, coba kalau senyap, mungkin tak ada yang tahu. Masa pengajuan sampai 2 tahun tidak ada jawaban, yang benar sajalah!," ujar Aldi Braga, Ketua LSM Garda Indonesia (GI) menanggapi via selularnya, Minggu (22/7) malam.

Baca juga: Uang Muka Kavling Warga Dikembalikan, Musofa: Uang Segitu Bagi Saya Tidak Apa-apanya

Aldi juga mengatakan kalau pihaknya akan melakukan investigasi soal itu.

"Kami dari GI akan melakukan investagasi hal ini. Kasihan warga itu, 2 tahun menunggu tapi hanya dapat angin segar. Menurut saya, wajar warga ribut, apalagi mereka sebelumnya sudah membayar uang muka kavling. Tapi kok mahal kali ya harganya segitu, kalau hanya uang penantaan, kenapa bisa sampai Rp 11 - Rp 12 jutaan?," kata Aldi penasaran.

Menanggapi soal pengembalian uang muka kavling yang dilakukan Musofa kepada warga gusuran Ruli Blok D Tiban I itu, jawab Aldi, harusnya jangan diterima.

Baca juga: Gonjang-ganjing Soal Pemutihan Ruli Blok D Tiban I, Musofa: Haram Bagi Saya Makan Uang Warga

"Harus warga itu tidak menerimanya, karena kalau sudah diterima, jelas warga tidak punya hak lagi untuk menuntut mendapatkan kavlingnya. Harusnya sebelum diterima, dipikirkan dahulu apa dampaknya. Apalagi dikembalikan sesuai jumlah nominal sebelumnya, itu juga sangat tidak tepat," katanya.

"Biar fear, harusnya uang warga itu dikembalikan lebih dari sebelumnya. 2 tahun uang disimpannya di Bank, sudah berapa bunganya. Selain itu dari dampak Inflasinya, jangan disamakan nilai Rp 1,5 juta tahun 2016 dengan  Rp 1,5 juta tahun 2018. Contoh mudahnya seperti harga emas di tahun 2016 dan tahun 2018, itu harganya sudah berbeda dan jelas akan lebih mahal di tahun 2018, begitu juga dengan nilai uang itu,"  kata Aldi Braga mengakhiri.(Ag)