Monday, 4 June 2018

Di Sidang Tjipta, Notaris Anly Cenggana Bersaksi Sebut di Akta 99 Saham Dialihkan ke Conti Candra


Notaris Anly Cenggana saat bersaksi di PN Batam, Senin (4/6/2018).

Dinamika Kepri, Batam - Sidang seteru kepemilikan saham PT. Bumi Megah Semesta (BMS) pengelola the BCC Hotel and Residence, dengan terdakwa Tjipta Fudjiarta kembali digelar di Pengadilan Negeri (PN) Batam, Senin (4/6/2018).

Dalam sidang ini, Notaris Anly Cenggana menyampaikan sesuai Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) akta 89 saham-saham 4 pemegang saham dialihkan kepada Conti Chandra.

Pengalihan saham itu dibuktikan dengan kwitansi pembayaran oleh Conti Chandra kepada 4 orang pemegang saham. Selanjutnya ia menyampaikan bahwa kemudian saham itu dibatalkan dengan akta 98, dengan alasan adanya kesalahan penghitungan saham.

Menanggapi pernyataan itu, JPU Samsul Sitinjak mempertanyakan, apakah ada akta lain sesudah itu.

Menjawab pertanyaan itu, Anly menjawabnya ada.

"Ada, ada akta nomor 3, 4 dan 5 tentang penjualan saham, Wie Meng, Hasan dan Sutriswi kepada terdakwa Tjipta Fudjiarta. Selain itu juga ada akta nomor 99 tentang membatalkan akta 98 dan menghidupkan kembali akta 89 yang menerangkan bahwa kepemilikan saham telah dimiliki oleh Conti Chandra," jawabnya.

Menurut Anly, akta 89 dibatalkan setelah itu muncullah akta 98, kemudian dihidupkan lagi akta 89 dengan nomor baru akta 99, jadi isinya 89 dan 99 hanya copy paste. Ia hanya menyampaikan bahwa hal itu dibuat sesuai kesepakatan para pemegang saham.

Dalam sidang ini, tamoaknya berbeda dengan pernyataan 3 orang saksi sebelumnya yakni Wie Meng, Hasan dan Sutriswi  yang mana sebelumnya menyatakan bahwa saat  Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) sekaligus penandatanganan akta nomor 3, 4, dan 5 tertanggal 2 Desember 2011 tidak dihadiri terdakwa Tjipta Fudjiarta, saksi Anly Cenggana notaris pembuat akta tersebut  mengaku terdakwa hadir saat penandatanganan ketiga akta itu.

" Terdakwa ada hadir saat penandatanganan 3 akta itu," ujarnya.

Menanggapi pernyataan Anly tersebut, Jaksa dari Kejaksaan Agung kembali bertanya kepada Anly karena pada sidang sebelumnya menurut JPU Sutriswi salah seorang pemegang saham mengaku baru hadir pada tanggal 5 Desember untuk penandatanganan akta nomor 2 yang berisi tentang penjualan saham kepada Conti Chandra.

"Apa benar semuanya hadir karena pengakuan Sutriswi, ia datang ke Batam pada tanggal 5 Desember. Tapi terserah anda saja, itu kesaksian anda," ujar jaksa.

Mendapat penjelasan dari masing-masing pihak ini, hakim anggota Taufik Abdul Halim, SH mempertanyakan apakah saksi Anly mengetahui atau melihat adanya pembayaran yang diberikan terdakwa  e kepada pemegang saham saat membuat akta 3,4 dan 5. Anly mengaku tidak mengetahuinya.

Sementara itu, Hakim Ketua Majelis Tumpal Sagala, S.H., MH., yang memimpin rapat. Ia  mempertanyakan terkait akta 3, 4, 5 tentang penjualan 3 saham milik, Wie Meng, Hasan dan Sutriswi kepada Tjipta Fudjiarta yang bisa berada di tangan Conti Chandra.

"Anda bilang notaris jujur dan tidak berpihak, tapi bagaimana anda bisa membuat akta tanpa melihat bukti adanya kwitansi pembayaran terdakwa kepada ke 3 pemegang saham lainnya. Ini pembayaran Conti Chandra kepada 4 pemegang saham lainnya buktinya ada dan terregistrasi di kantor anda. Tapi untuk 3 akta kok tidak ada," ujar hamim Tumpal kepada Anly.

Menanggapi hal itu, Anly mengaku membuat akta 3,4 dan 5 karena sesuai dengan kesepakatan para pemegang saham lainnya.

"Yaitu terserah anda, tapi yang saya heran mengapa akta 3, 4 dan 5 bisa di tangan Conti, berarti kan ada sesuatu. Anda harus tahu bahwa memberi keterangan palsu juga ada sanksi pidananya. Tapi ya sudah terserah saja," ujar Hakim Tumpal Sagala.

Sidang ini akan dilanjutkan 2 Minggu ke depan dengan agenda pemeriksaan saksi Saifudin.

Mengenai munculnya akta 3, 4 dan 5. Usai sidang ketika ditanyakan para awak media kepada Anly, Notaris tersebut tidak menjawabnya.(Ril)