Monday, 25 June 2018

Dinilai Kontroversi, Hakim Perintahkan JPU Panggil Kembali Seluruh Saksi


Notaris Syaifudin saat bersaksi di PN Batam.

Dinamika Kepri, Batam - Sidang agenda pemeriksaan saksi fakta, Syaifudin (Notaris) dalam perkara terdakwa Tjipta Fudjiarta dugaan kasus penipuan, penggelapan dan keterangan palsu kepemilikan hotel BCC & Residence, digelar kembali di Pengadilan Negeri (PN) Batam, Senin (25/6/2018).

Dalam persidangan agenda pemeriksaan saksi fakta dari Saifuddin ini, hakim menilai bahwa keterangan para saksi-saksi yang sudah diperiksa ada yang kontroversi, sehingga Majelis PN Batam dipimpin Tumpal Sagala didampingi hakim anggota Taufik dan Yona Lamerosa Ketaren, meminta Jaksa Penuntut Umum (JPU) untuk menghadirkan kembali para saksi-saksi telah diperiksa.

Baca juga: Sidang Hotel BCC, JPU Hadirkan Tiga Saksi, Hasan: Baru Kali ini Saya Melihat Terdakwa

"Saksi-saksi dalam kasus perkara ini ada yang kontroversi. Jadi tolong dihadirkan semua saksi yang sudah selesai diperiksa, biar di komprontir dalam agenda sidang berikutnya," sampainya Hakim Tumpal Sagala kepada JPU.

Saksi Notaris Syaifudin mengatakan, kenal dengan terdakwa Tjipta Fudjiarta sejak tahun 2012 silam, ketika terdakwa dan Conti Chandra mengajukan pinjaman kredit ke Bank Ekonomi.

"Ada beberapa Akta yang diajukan, dengan komposisi saham 70 persen milik terdakwa Tjipta Fudjiarta dan 30 persen milik Conti Chandra," ujar saksi Syaifudin.

Ketika JPU Samsul Sintinjak menanyakan kepada saksi, terkait bukti surat-surat yang dikeluarkanya, saksi menjawab, itu adalah Akta bukti perjanjian kredit akte jual beli saham.

"Akta jual beli saham dikeluarkan pada bulan Juli, kemudian bulan September kembali saya buat bukti surat," terang saksi.

Lanjut saksi, ia melakukan pembuatan dan perubahan Notaris tanpa melihat dan mempertimbangkan bukti surat yang dimiliki Conti Chandra.

Baca jugaSoal Sengketa Hotel BCC, Conti Candra Bersaksi

"Akta 28 dan akta 29 saya buatkan  dihari yang sama, namun kedua akte itu tidak ditanda tangani oleh Conti Chandra. Terdakwa dan Conti Chandra saat itu berdebat, menggunakan bahasa chines, saya tidak mengerti," tutur Saifuddin.

Pada saat penandatanganan Akta jual beli saham, tanya hakim Taufik, yang bersangkutan tidak ada diruangan, apakah itu boleh ditandatangani?

 "Boleh, Sesuai dengan UU 40 tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas, pasal 44 yang mulia. Itu bukan kemauan saya, dan itu harus diteruskan," jawab saksi.

Kemudian, lanjut Hakim Tumpal Sagala, sebelum saksi bertindak, saksi juga harus melihat bukti dari kedua belah pihak.

Saksi tadi mengatakan, bahwa ada pembuatan akte, apakah saksi sudah melihat dokumen-dokumenya.

"Pernah melihat dokumen terdakwa, sedangkan dokumen Conti Chandra hanya copian saja yang saya lihat. Dan itu saya lihat, karena direksi Winstone yang mengatkan," ujar saksi.

Usai pemeriksaan saksi, hakim lalu bertanya kepada terdakwa atas  keterangan saksi.

"Tidak ada yang mulia, semuanya benar," jawab terdakwa Tjipta Fudjiarta kepada hakim.

Mendengar jawaban dari terdakwa, kepada saksi Hakim lalu mengatakan, bahwa hari ini saksi dapat top score.

"Keterangan saksi hari ini semua dibenarkan oleh terdakwa. Top score buat saksi," ujar hakim Tumpal.

Dalam perkara ini, terdakwa Tjipta Fudjiarta, didakwa JPU dengan pasal berlapis di antaranya pasal 378 KUHP tentang penipuan, pasal 372 KUHP tentang penggelapan dan pasal 266 tentang pemalsuan surat-surat terhadap akta otentik, dengan ancaman pidana maksimal 7 tahun penjara.(Ril)