Thursday, 3 May 2018

Menanggapi Maraknya Eksploitasi Anak di Batam, Ery Syahrial: Saya Juga Sangat Menyesalkannya


Salah satu anak penjualan koran di bilangan Nagoya,  Batam. 

Dinamika Kepri, Batam - Akibat tingginya tingkat pengganguran di Kota Batam, membuat kota Batam saat ini, tampak seperti Kota 1001 pengemis anak.

Dimana-mana, anak-anak yang seharusnya menikmati bahagia di masa kecilnya, kini malah dilibatkan orangtuanya memikul beban ekonomi keluarga.

Kesulitan ekonomi yang dihadapi sebagian banyak keluarga akibat pengangguran, diduga mau tidak mau kondisi itu dimamfaatkan oleh orangtua nakal hingga memicu maraknya kegiatan memamfaatkan (eksploitasi) anak oleh orangtua di Batam dengan menyuruh anaknya menjual koran, mengamen dan meminta-minta (ngemis) di tempat keramaian maupun di jalanan.

Saat ini di sekitaran Nagoya dan Jodoh contohnya, terlihat dari mulai pagi hingga malam, anak-anak penjual koran, pengamen anak dan pengemis anak, silih berganti datang menghampiri setiap orang yang sedang makan minum di rumah makan, di ruko-ruko warung kopi maupun di Pujasera.

Dari sisi dampak sosialnya, keberadaan para anak yang dijadikan mesin uang oleh para orangtuanya tersebut, tentunya sangat mengganggu kenyamanan bagi setiap orang terutama bagi orang yang berwisata ke Batam.

Anggota Komisioner Komisi Perlindungan Anak Daerah (KPAID) Kepri, Ery Syahrial.

Terkadang kehadiran anak-anak pengemis yang datang silih berganti itu, membuat banyak orang merasa jengkel bahkan hilang selera makannya.

Menanggapi maraknya anak menjual koran, mengamen dan mengemis di Kota Batam, Anggota Komisioner Komisi Perlindungan Anak Daerah (KPAID) Kepri, Ery Syahrial membenarkannya dan mengatakan, kalau ia sangat menyesalkannya.

"Iya, selaku anggota Komisioner KPAID Kepri, melihat itu saya miris dan sangat menyesalkannya. Harusnya anak-anak itu tidak diperlakukan demikian oleh orangtuanya. Para orangtuanya harus bertanggung jawab menafkahi dan memberikan pendidikan kepada anaknya, bukan malah menjadikan anaknya sebagai pengemis atau sebagainya. Itu jelas pelanggaran hukum, dan harus ditindak," kata Ery Syarial, Kamis (3/5/2018) sore, ketika dimintai tanggapannya.

Menurutnya, untuk menghentikan praktek ekploitasi anak tersebut, harapnya Dinas Sosial harus segera menindaknya.

Selain itu, mengingat Walikota Batam gencar dengan promosi wisata Kota Batam, juga meminta Dinas Pariwisata juga ikut memperhatikannya.

"Dinas Sosial harus turun menanganinya. Bila perlu didata anak-anak itu, dibantu kalau memang harus dibantu begitu juga dengan pendidikannya. Sama halnya dengan Dinas Pariwisata, harapan kita bisa ikut melakukan langkah antisipasinya, apalagi dalam waktu dekat ini kita akan menyambut bulan suci Ramadhan karena tidak menutup kemungkinan, jumlahnya pasti akan bertambah, sebab jika itu tetap dibiarkan, kesannya juga tak baik buat Batam sebab itu akan menganggu sektor wisata Batam juga," ujarnya.

Sebelum mengakhiri, Ery Syarial juga mengingatkan masyarakat Batam untuk tidak memberikan apapun kepada anak-anak yang mengemis di jalanan atau di mana pun, sebab jika diberikan tentu akan menjadi kebiasaan bagi sianak dan mengundang orangtua lain untuk memperlakukan anaknya demikian.

"Kalau bisa jangan diberikanlah, kasihan anak-anak itu. Karena semakin kita memberikannya, anak itu akan makin tersiksa, dan akan terus dimamfaatkan oleh orangtuanya. Bukan hanya itu, orangtua lain yang melihat itu juga berpotensi akan melakukan yang hal sama kepada anaknya. Jadi baiknya jangan diberikan,  kalau ingin memberi, sumbanglah melalui zakat," tutupnya.

Pantuan media ini, bukan hanya di Nagoya dan Jodoh saja, praktek eksploitasi anak juga terjadi di Simpang lampu merah Sei Harapan Sekupang. Di tempat itu, baik pagi maupun setiap sore menjelang malam, 2 orang anak selalu terlihat menjajakan koran.

Keberadaan anak itu juga terhitung sudah cukup lama di tempat tersebut, namun tidak ada pihak manapun yang mau memperhatikannya. Padahal kondisi jalanan selalu padat dilalui kendaraan dan sangat riskan terjadinya kecelakaan.(Ag)