Wednesday, 11 April 2018

Selain Lukita Ketua BP Batam, JJ dan Aldi Braga juga Tanggapi Surat Terbuka Husnizar Hood


Seniman Batam, Zukriansyah Zukarnain.

Dinamika Kepri, Batam - Menanggapi setelah mencermati lebih dalam surat terbuka dari Ketua dewan kesenian Provinsi Kepri, Husnizar Hood yang sebelumnya viral di media sosial Whatsapp (WA) usai acara Batam Menari 2018 digelar oleh BP Batam, Zukriansyah Zukarnain dan Aldi Braga menyampaikan, bahwa kritik dan saran yang disampaikan oleh Ketua dewan kesenian Kepri tersebut adalah suatu masukan dan hak semua orang dalam berdemokrasi.

"Menyampaikan kritik dan saran itu adalah hak setiap warga negara dan itu cerminan suatu bangsa yang berdemokrasi. Menurut saya apa yang disampaikan oleh saudara Husnizar Hood termasuk saran dan masukan agar kedepannya bisa menjadi perhatian. Namun di surat terbuka yang saya baca itu, ada sedikit bahasa yang menurut saya tidak elegan seperti bahasa ' Kami seniman pernah datang ke Batam hanya untuk mengencingi Batam saja', itu saja sih kalau dari saya menanggapi," kata Zukriansyah Zukarnain di saat waktu senggangnya di bilangan Batam Center kepada media ini, Rabu (11/4/2018) sore.

Menurutnya, bahasa 'mengencingi' adalah suatu bahasa vulgar yang artinya menunjukkan suatu kesombongan.

"Kalau saya mencerna bahasa tersebut,  itu suatu ilustrasi kesombongan," ujar yang akrab dipanggil Bang JJ itu.

Tak hanya itu, sebelum mengakhiri tanggapannya, Seniman Batam ini juga menambahkan bahwa Batam tidaklah dibangun dari keangkuhan.

Baca juga: Kritisi Batam Menari, Ini Surat Terbuka Husnizar Hood Kepada Lukita Dinarsyah Tuwo

Ditempat yang sama, Aldi Braga juga menyampaikan hal sama bahwa kritik dan saran yang disampaikan seniman Kepri kepada Ketua BP Batam itu layak diterima dan diapresiasi untuk menjadi masukan sebagai pembelajaran untuk kedepannya.

Ketua LSM Garda Indonesia, Aldi Braga. 

Dalam hal ini, dari surat terbuka ketua dewan kesenian Kepri itu, Aldi lebih condong memperhatikan kritik saran pada tulisan "Rampak Melayu”.

"Acara Batam menari itu tajuknya jelas bukanlah Rampak Melayu, tetapi Batam Menari dengan tarian dari seluruh etnis di Batam, seperti tari rampai, tor-tor dan sebagainya, artinya tarian yang disuguhkan di acara itu tidak khusus dari satu etnis saja, tariannya dari seluruh etnis yang ada di Kota Batam, ya seperti sudah kita lihatlah," kata Aldi Braga menanggapi.

Menurut informasi yang diterima awak media ini, penyebab munculnya surat terbuka itu ada diduga karena di acara Batam menari 2018 yang dilakukan oleh BP Batam tersebut, BP Batam selaku penyelenggara event, sama sekali tidak melibatkan dewan kesenian Kepri.(Ag)