Friday, 6 April 2018

Korban Penipuan Jual Beli Rumah di Batam Desak Polisi Bisa Segera Menangkap Pelakunya

 
{[["☆","★"]]}

Korban, Rita Sidabutar.

Dinamika Kepri, Batam - Enam orang perwakilan dari puluhan orang korban dugaan penipuan jual beli rumah di Batam, kepada pihak kepolisian meminta dengan sangat, agar seorang wanita pelaku dugaan aksi penipuan berinisial CDR yang sudah lama dilaporkan, dapat segera ditangkap, alasannya karena sampai saat ini, para korban mengaku masih berharapkan uang mereka itu dikembalikan oleh terlapor.

" Saya sudah melaporkan wanita itu ke polisi pada bulan Agustus 2017 lalu, namun sampai saat ini polisi belum juga menangkapnya. Saya juga tak tahu kenapa dia belum ditangkap, yang jelas saya telah ditipu wanita itu Rp 155 juta," kata korban bernama Rita Sidabutar sedih kepada para awak media di bilangan Nagoya, Jumat (6/4/2018) sore.  

Kata dia, Rp 155 juta tersebut adalah uang sisa tagihan penjualan rumahnya yang harus dibayarkan CDR kepadanya. namun setelah cair dari bank, CDR pernah diketemukannya lagi hinnga sampai saat ini.

"Rumah saya diagungkan ke Bank Gra Kencana sebesar Rp 250 juta. Setelah uang itu diterimanya dari Bank tersebut, ia tidak pernah terlihat lagi. Makanya saya melaporkannya ke polisi, tapi sampai sekarang belum ada kabarnya bagaimana. Selain uang, dia juga menjual sepeda motor milik saya, maka itu saya sangat berharapkan polisi dapat segera menangkapnya, agar uang saya dikembalikan," ujar Rita.

Rita mengaku, awalnya saat perkenalan dengan CDR, sedikit pun ia tidak menaruh curiga sebab dari kata-kata CDR yang menyakinkan, membuat Rita percaya 100 persen.

"Aku mengenalnya dari kawan-kawan. Awalnya ia menawarkan ingin membeli rumah saya. Setelah terjadi tawar menawar cocok harga, kami pun sepakat, namun ia tidak membayar sekaligus saat itu dan berjanji dalam waktu dekat akan segera melunasi kekurangannya Rp 155 juta lagi," katanya.

Lanjutnya, karena ia percaya, surat dokumen rumahnya lalu diserahkan kepada wanita itu.

"Surat rumah saya kasihkan. saya percaya saja karena janjinya tidak lama. Lalu seiring berjalannya waktu dan terus kutagih janjinya. Ia lalu mengangungkan rumah itu ke BPR Graha Kencana. Dugaanku itu dilakukannya untuk membayarkan sisa kekurangan, bahkan saya dan suamiku juga ikut dibawanya ke Bank tersebut untuk membutikkan kepada pihak Bank rumah itu punya kami. Ya rumah itu atas nama suamiku. setelah itu pihak Bank berjanji akan mencaikannya dalam 3 hari. Tetapi setelah uang Rp 250 juta dicairkan oleh pihak Bank dan diterima CDR, CDR langsung menghilang pergi entah kemana, nomornya juga tidak bisa dihubungi lagi, bahkan yang paling parahnya,  ia mengatakan kepada pihak Bank, kamilah yang berhutang kepadanya Rp 155 juta. Mendengar itu dari pihak Bank, di situlah saya baru sadar telah ditipunya. Kata pihak bank, kami harus membayarnya, jika tidak kami akan diusir dari rumah tersebut," terang Rita.

Bukan hanya Rita saja, 5 orang korban lainnya sebagai pembeli rumah dengan kerugian berfariasi dari mulai Rp 18 juta hingga Rp 30 juta, juga mengaku sudah melaporkan CDR kepada pihak kepolisian.

"Ya kami juga sudah melaporkannya. Ada yang melapor bulan November, ada juga yang baru melapor di bulan Maret 2018. Kalau saya melaporkannya ke Polresta Barelang," kata Nabimah.

Untuk menjaring korban yang minat membeli rumah, CDR mengunakan modus meminta uang muka atau down payment (DP), untuk memuluskan aksinya,  ia memperkerjakan 2 orang sebagai marketing. Setelah ada pembeli, marketing lalu mempertemukan pembeli dengan CDR. Setelah itu CDR meminta uang muka pembelian rumah kepada korbannya.

" Uang muka sudah saya bayar kepada CDR. Ketika saya pergi ke alamat rumah itu, kata pemilik rumah kalau ia tidak pernah berniat untuk menjual rumahnya. Dan ketika saya ingin tanyakan kembali kepada CDR, HP nya sudah tidak aktif lagi bahkan sampai sekarang," ungkap Nabimah.

Pada saat para korban menyampaikan hal ini kepada para media,  2 orang perkerja marketing CDR juga hadir. Kepada media mengaku mereka berdua juga telah ditipu oleh CDR.

"Posisi kami berdua di sini juga sebagai korban. Karena gara-gara ini kami jadi mendapat banyak masalah. awalnya kami ditugasinya menjadi marketingya. Setelah ada peminat, pembeli kami arahkan untuk dengan CDR, setelah itu kami tidak tahu lagi kelajutannya. intinya tugas kami hanya sebatas mencari pembeli saja," katanya.

Pengakuan para korban, mereka bukan hanya 6 orang tapi ada berjulah puluhan orang dengan kerugian jumlah nominal uang yang berbeda-beda.

" Bukan ini saja, kami ada puluhan orang yang menjadi korbannya," ujar Rita lagi.

Dari pejelasan para korban dan marketing, untuk melancarkan aksinya diduga CDR tidak bekerja sendiri. ada dugaan melibatkan oknum-oknum tertentu. Para korban mengatakan jika di total seluruhnya, CDR telah meraup keuntungan hingga miliaran rupiah.

Sebelum mengakhiri, para korban juga mengatakan bahwa hari Senin tanggal 9 April 2018 mendatang, mereka akan bersama- sama melaporkan hal tersebut ke Propam Polda Kepri dengan berharap katanya, agar laporan mereka bisa segera ditanggapi.(Ril)