Thursday, 22 March 2018

Kirim Pesan Pengancaman, Dina Harleni Disidangkan


Disaksikan terdakwa Dina Harleni (pakai kerudung merah), korban Rumondang Setiawati memberikan kesaksian.

Dinamika Kepri, Batam - Hanya karena masalah sepele tagihan listrik air 3 bulan,  Dina Harleni Binti Edi (40) disidangkan di Pengadilan Negeri (PN) Batam, Kamis (22/3/2018).

Terdakwa Dina Harlina didakwa dengan pasal UU ITE atau pasal 311 Ayat (1) KUHP atau pasal 310 Ayat (1) KUHP dan/atau pasal 315 KUHP.

Disidang perdana ini, selain mendengarkan dakwaan dari jaksa penuntut umum (JPU), juga dilanjutkan mendengarkan kesaksian dari korban,  Rumondang Setiawati Silitonga.

Dalam kesaksiannya, kepada hakim korban menjelaskan awal kronologisnya.

"Saya dahulu ngontrak di rumah terdakwa, lalu saya pindah setelah memilki rumah. Rumah kontrakan itu juga pernah saya tawar ingin membelinya namun batal karena harganya mahal. Namun setelah 3 bulan rumah itu saya tinggalkan, lalu terdakwa malam-malam mengirimkan pesan singkat (sms) pengancaman kepada saya," ucapnya dalam sidang.

Lanjutnya, terdakwa juga memfitnah korban dan melakukan perbuatan tidak menyenangkan.

Kata korban, itu terjadi saat mereka berdua bertemu di BCS Mall Nagoya. Saat pertemuan itu, terdakwa menghadik tangan terdakwa dan mempermalukan korban di depan umum dengan menuduhnya tidak membayar tagihan listrik dan air selama 3 bulan.

"Saya tidak terima, makanya saya melaporkannya ke polisi," terang korban," kata korban.

Keterangan saksi lagi, bukan hanya terdakwa yang melakukan, suami terdakwa yang merupakan warga Singapura, ucap korban juga ikut mengancamnya dengan menjual-jual nama instansi TNI AD Kodim Batam.

Setelah mendengarkan dari kesaksian korban, Hakim menutup sidang dan akan melanjutkannya pada tanggal 29 Maret 2018 mendatang. Namun sebelum sidang ditutup,  hakim juga membuka peluang agar kedua belah pihak bisa melakukan perdamaian dengan cara kekeluargaan.

Usai persidangan, kepada media, korban mengatakan akan membuka diri memaafkan terdakwa.

" Saya mau berdamai, tapi tak mungkin saya yang sodorkan. Kecuali terdakwa yang memintanya, saya akan memaafkannya," kata korban.

Menanggapi adanya etikat baik dari korban dan arahan dari hakim, ketika terdakwa dihubungi awak media melalui ponselnya, terdakwa menjawab menolak untuk berdamai.

Dalam perkara ini, terdakwa juga tidak ditahan.(Ag)