Saturday, 10 March 2018

Di Rapimnas Partai Demokrat, Presiden Jokowi Singgung Maraknya Hoax di Media Sosial


Presiden Joko Widodo (tengah) menghadiri Rapat Pimpinan Nasional Partai Demokrat di Bogor. 

Dinamika Kepri,  Bogor - Presiden Joko Widodo (Jokowi) menghadiri Rapat Pimpinan Nasional Partai Demokrat di Sentul, Bogor, Sabtu (10/3/2018).

Presiden Jokowi hadir di Rapimnas didampingi Menteri Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan Wiranto dan Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo.

Tiba di arena Rapimnas, Jokowi dan rombongan langsung disambut Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), dan pengurus teras partai tersebut.

Memakai baju jas hitam dan dasi merah, Jokowi memberi sambutan di acara Rapimnas.

Orang nomor satu di republik ini, berpidato agak panjang lebar. Beberapa isu disinggungnya, mulai soal banjir hoax sampai demokrasi.

Ia juga tak lupa, menyelipkan kisah saat  Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) datang ke Istana Negara untuk mengundangnya hadir di acara Rapimnas.

Mengawali sambutannya, Jokowi kembali mengulang kisah saat dirinya hadir di acara Partai Demokrat.

Ia masih ingat, pertama kali hadir di acara Partai Demokrat, saat partai tersebut menggelar kongres ke 4 di Kota Surabaya tahun 2015.

Sekarang, ia diundang lagi. Setiap diundang, setengah berseloroh, Jokowi mengatakan, yang disiapkannya adalah pakaian. Karena itu, ia harus menebak dulu, pakaian apa yang akan dikenakan SBY. Apalagi sekarang ada Agus Harimurti Yudhoyono, putra SBY yang kemarin datang langsung ke Istana untuk mengundangnya.

"Dari subuh  pakai jas yang mana, pakai dasi yang mana karena saya harus nebak-nebak Pak SBY pakai pakaian yang mana. Dengan Pak SBY belum selesai, hadir Mas Agus. Lebih sulit lagi ini. Orangnya muda, ganteng, pinter, kalau berpakaian juga rapi dan cling, jelas saya lebih jauh lagi. Kalau mau bersiap siap hadir di undangan partai Demokrat tentu harus cling karena ada Pak SBY dan Mas AHY," kata Jokowi yang disambut riuah gelak tawa peserta Rapimnas, di Sentul, Bogor.

Jokowi melanjutkan pidatonya. Kata dia, yang ia heran, walau dirinya tak gagah, tapi di bulan Agustus, ia pernah baca sebuah berita, dirinya disebut pemimpin yang otoriter. Padahal dirinya tak ada potongan pemimpin  otoriter. Ia tak sangar. Kemana-mana lempar senyum.

"Mangkanya saya berani bilang saya itu bukan seorang pemimpin otoriter," kata Jokowi.

Bahkan, ia menyebut dirinya seorang demokrat. Ciri- ciri seorang demokrat, menurut Jokowi,  bisa menjadi pendengar yang baik. Menghargai pendapat orang lain.

Menghargai perbedaan.  Perbedaan katanya, bukan  permusuhan. Dengan nada bencana Jokowi mengatakan,  ia dan SBY,  beda tipis.

"Kalau saya  seorang demokrat, kalau Pak SBY tambah satu,  ketua Partai Demokrat. Jadi bedanya tipis sekali," ujarnya.

Lalu Jokowi bicara tentang demokrasi. Kata dia, demokrasi adalah pilihan bangsa yang harus diormati. Demokrasi yang dianggap sesuai dengan konstitusi. Bahkan dengan ideologi negara. Tentu, demokrasi yang dibumikan di Indonesia, demokrasi yang merujuk pada nilai-nilai moral.

Demokrasi yang menghormati nilai-nilai budaya Indonesia. Demokrasi yang memberikan kemanfaatan demi kepentingan umum, itu yang harus ditegakkan.

Kemudian Jokowi menungging soal amandemen UUD yang merubah sistem tata kelola negara. Kata dia,  MPR yang tadinya menjadi lembava tertinggi negara menjadi lembaga negara seperti yang lainnya. Dengan pertimbangan untuk memperkuat sistem, desentralisasi pemerintahan diterapkan.

"Sistem kita menjadi sistem oleh partai. Sistem banyak partai yang dirokemendasikan oleh pemilihan secara langsung. Memilih kepala daerah secara langsung dan memilih presiden dan wakil presiden pun secara langsung," katanya.

Kebebasan politik warga negara juga, lanjut Jokowi kian dijamin. Warga besar  mengemukaan pendapat dan berorganisasi. Terlebih sekarang dengan teknologi informasi yang berkembang pesat.

Kebebasan kian bebas. Namun, hadirnya teknologi bak dua sisi mata pisau. Satu sisi memberi manfaat, dimana warga negara bisa dapat ruang menyampaikan aspirasinya. Dan para pemimpin pun lebih mudah lagi mendengar suara rakyatnya.

Interaksi sosial juga makin mudah dan gampang. Tapi media sosial juga sering digunakan untuk kegiatan merugikan. Jokowi pun mencontohkan,  banjirnya hoax dan fitnah.

"Media sosial digunakan untuk menyampaikan berita bohong, hoax, saling menghujat, mencemooh, mencela, menjelekkan, mengumbar kebencian yang justru membuat keresahan di masyarakat dan ini hampir terjadi semua negara bukan hanya di Indonesia," kata Jokowi.

Jokowi pikir,  semua pemimpin pernah dibuat kaget dengan pemberitaan di sosial media. Misal di media sosial, ada berita tentara RRC masuk ke bandara Soekarno-Hatta. Tetapi setelah dicek, tidak ada.  Berita itu tidak benar alias hoax. Kemudian ada pula berita tentang kasus penyerangan kepada ulama.

"Isinya di media sosial ada 41 kasus, setelah dicek tidak benar. Yang benar memang ada 3 kasus. Yang sedang dan sekarang dalam penangan secara serius oleh kepolisian kita," ujarnya.

Kata Jokowi, rasanya tidak mungkin berita seperti itu tidak tahu. Sepertinya,  semua itu disengaja. Tujuannya memperkeruh suasana. Ini harus dicegah dan ditindak sesuai hukum yang jelas. Ini pula yang ia tegakan ke Mabes Polri, tindak tegas pelaku- pelakunya. Kemudian Jokowi kembali menyinggung soal demokrasi. Katanya, demokrasi yang sudah cukup baik,  masih perlu diperbaiki lagi. Reformasi politik tidak cukup sampai pada dimensi sistem ketatanegaraan. Tidak hanya sebatas proses jujur dan adil.  Tapi  norma dalam politik juga jangan diabaikan.

"Pertama kita harus membangun kedewasan berpolitik, etika berpolitik, tata krama dalam berpolitik dan juga peradaban dalam politik. Kedua,  kita harus membuat demokrasi lebih dirasakan oleh rakyat yaitu demokrasi yang lebih menyejahterakan rakyat yaitu demokrasi yang lebih menguntungkan rakyat. Dua hal seperti itu penting dalam pembangunan politik kita," tutur Jokowi.

Karena itu kata dia, dalam kontestasi seperti Pilkada, Pileg, Pilpres harus menjunjung etika dan keadaban politik. Harus saling menghargai.  Tidak saling mencela dan mencemooh. Saling adu program, adu gagasan.

Berbeda pendapat biasa tapi harus tetapmenjunjung tinggi adat ketimuran.  Persatuan dan persaudaraan yang mesti diutamakan.

"Kita harus memberikan tauladan kepada masyarakat luas dan generasi muda kita. Lebih dari itu demokrasi harus melahirkan watak kemerdekaan kepada rakyat. Demokrasi harus diikuti tata kelola pemerintahan yang baik dan efisiensi. Baik itu demokrasi itu harus mendukung kebijakan untuk percepatan pembangunan nasional," katanya.

Demokrasi harus jadi instrumen untuk memenangkan tantangan di tingkat global. Memenangkan persaingan, menangani kemiskinan, meningkatkan pemertaan kesejahteraan dan  keadilan sosial bagi seluruh Indonesia.

"Dan pada kesempatan yang baik, ini saya ingin mengajak keluarga besar Partai Demokrat untuk bersama-sama menjalankan agenda bersama," ujar Jokowi.

(Hms/Ami)