Thursday, 15 February 2018

Pesan Tjahjo Kumolo: Jangan sampai 'Takhta' yang didapat berujung di penjara


Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo. (foto: Humas Kemendagri)
Dinamika Kepri, Boyolali - Menanggapi maraknya kepala daerah yang kena Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh KPK, dilansir Puspen Kemendagri, Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo mengatakan, dirinya sebagai Mendagri sedih dan prihatin.

"Ya sebagai Mendagri, sebagai teman kepala daerah, kami sedih dan prihatin kenapa masih terus terjadi (OTT). Kenapa tidak belajar dari yang sudah kita saksikan," kata Tjahjo usai memberi arahan di acara seminar nasional Dewan Pimpinan Daerah Asosiasi Pemerintahan Desa seluruh Indonesia (APDESI) Provinsi Jawa Tengah, di Boyolali, Rabu, 14 Februari 2018.

Menurut Tjahjo, tidak hanya itu, baik Presiden maupun dirinya sudah sering mengingatkan. Hati-hati dan pahami area rawan korupsi. Tapi tetap saja ada yang kena tangkap. Bahkan, ada yang ditangkap sehabis diceramahi Presiden.

Kata Mendagri, gaji kepala daerah memang belum besar, tetapi, bukan alasan untuk kemudian berbuat lancung, mencuri uang rakyat atau menyalahgunakan kekuasaan.

"Sebagai saudara, mitra dan juga sebagai Mendagri, tentu ia prihatin. Sedih dan terpukul," kata Tjahjo Kumolo.

Ia juga mengaku sering mengingatkan. Bahkan tak bosan mewanti-wanti. Taat aturan. Dan bekerja saja dengan berkiblat pada aturan, biar selamat.

Tjahjo pun memberi nasehat, agar jangan selalu melihat keatas. Bila selalu merasa kurang, rawan terjerat sikap tamak. Tak tahan godaan, akhirnya terjerembab. Serakah. Dan tak peduli pada aturan. Semua ditabrak. Padahal yang didapat adalah jalan sesat. Jalan yang menuju ke penyesalan.

"Kalau kita melihatnya ke atas ya enggak akan puas puas, kalau lihat ke bawah ini ada temen- temen, ada yang sehari saja hanya makan sehari dua kali, misalnya begitu. Tapi setidaknya saya mengingatkan, buat saya sendiri, harus hati hati," katanya.

Kata dia lagi, sebagai Mendagri, ia wajib  mengingatkan. Soal nanti didengar, dan ditaati kembali ke diri masing-masing.

"Soal nanti didengar, kembali ke hati nurani masing-masing. Apakah ingin jadi pemimpin karena memang ingin mengabdi? Atau karena ingin mengumpul pundi. Jika yang terakhir yang jadi tujuan, siap-siaplah masuk bui. Jangan sampai 'takhta' yang didapat berujung penjara. Jangan sampai seperti itu. Karena 'takhta' yang dapat memuat mandat. Mandat dari rakyat. Mandat yang harus berbuah maslahat. Bukan laknat. Bukan khianat," tutup Tjahjo berpesan.(Ril)