Tuesday, 16 January 2018

Tak Terima Dihukum 8 Tahun Penjara, Rony Sanara Ajukan Banding

 
{[["☆","★"]]}

Kuasa hukum terdakwa, Pendi Ujung, SH.
Batam, Dinamika Kepri - Rony Sanara terdakwa perkara tindak pidana asusila hubungan sejenis terhadap korban anak laki-laki umur 8 tahun inisial AF warga Batu Aji, akhirnya divonis 8 tahun penjara oleh hakim pengadilan Negeri Batam, Selasa, (16/1/2018) sore.

Hakim menyatakan terdakwa terbukti bersalah berdasarkan pengakuan korban dan berdasarkan alat bukti dari hasil Visum et Repertum Nomor : 140 / 133 / IF / RSUD-EF tanggal 29 Juli 2017 yang dikeluarkan oleh Dokter RS Embung Fatimah,

Dalam perkara ini terdakwa dijerat pidana pasal 81 Ayat (2) Undang - undang Republik Indonesia No 35 tahun 2014 tentang Perubahan atas Undang - undang Republik Indonesia Nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak jo pasal 64 ayat (1) KUHP.

Namun terdakwa tidak terima pada putusan tersebut, melalui kuasa hukumnya, terdakwa mengajukan banding.

"Banding yang mulia," kata kuasa hukum terdakwa, Pendi Ujung, SH kepada Hakim.

Lalu setelah persidangan usai dilakukan, ketika ditanya media  apalasan kuasa hukum terdakwa melakukan banding, Pendi Ujung, SH mengatakan, pihaknya mengajukan banding karena alat bukti tidak mencukupi.

"Alat buktinya tidak mencukupi. Selain itu dalam persidangan, terdakwa juga tidak mengakuinya, makanya kita ajukan banding. Adapun buktinya, itu hanya pernyataan lisan dari korban, tidak ada saksi yang melihatnya. Dan kita juga optimis bisa memenangkannya ditingkat banding," ucap Pendi.

Lanjut Pendi, bahwa terdakwa juga tidak bisa dikatakan dengan serta merta sebagai pelakunya, karena di dalam kamar terdakwa, juga ada laki-laki lain selain terdakwa.

Seperti yang dituangkan dalam Berita Acara Perkara (BAP), sebelum melakukan tindak cabulnya, terdakwa awalnya memberikan uang Rp 10 ribu kepada korbannya. Setelah uang diterima korban, lalu korban diajak masuk ke kamar rumah terdakwa.

Setelah di dalam kamar korban di sodomi terdakwa. Dan bukan kali itu saja, terdakwa juga melakukan tindakan itu pada esok harinya.

Kemudian pada hari Kamis tanggal 6 Juli 2017 sorenya, korban mengeluh kesakitan di pantat korban pada saat buang air besar kepada orang tuanya.

Mendengar keluhan anaknya, orang tua korban lalu memeriksa kondisi korban dan melihat paha korban membiru serta pantat korban memerah.

Orang tua korban lalu penasaran dan menanyakan apa yang terjadi pada anaknya, kepada orangtuanya, korban lalu menceritakan kejadian yang telah dialaminya.

Akibat perbuatan, terdakwa tersebut akhirnya dilaporkan keluarga korban kepada pihak yang berwajib dan berhasil ditangkap.

Berdasarkan Hasil Visum et Repertum Nomor : 140 / 133 / IF / RSUD-EF tanggal 29 Juli 2017 yang dikeluarkan Rumah Sakit Embung Fatimah Kota Batam, menyatakan berdasarkan hasil pemeriksaan terhadap korban dijumpai adanya luka memar disertai luka lecet pada paha kanan sisi belakang yang disebabkan kekerasan (trauma/ruda paksa) tumpul.

Selain itu,  juga ditemukan adanya tanda-tanda kekerasan tumpul yang masih baru pada daerah anus, ditandai dengan adanya luka lecet dan peradangan pada sekitar mulut dan dinding anus.(Ril)