Tuesday, 23 January 2018

Ini Tanggapan Beberapa Kalangan Terkait Polemik Taxi Online di Batam


Masrur Amin, SH.MH  bersama Ketua FKUB Kota Batam H. Rustam Effendi Bangun saat memberikan tanggapan tentang Polemik Taxi Online kepada media di Kepri Mall.

Batam, Dinamika Kepri - Terkait polemik Taxi Online (Taxol) di kota Batam yang sampai saat ini belum ada kejelasannya dari Dinas Perhubungan (Dishub) Provinsi Kepri, ditanggapi serius beberapa kalangan masyarakat baik dari Akademisi, Paraktisi Hukum maupun Tokoh Masyarakat, Selasa, (23/1/2018).

Dari semua yang memberikan tanggapannya kepada media ini, kalangan tersebut menyatakan tetap mendukung Taxol ada di Batam dengan alasan karena selain pelayanannya lebih baik, harga tarif yang ditwarkan juga lebih terjangkau.

"Kalau saya pribadi tetap mendukung keberadaan Taksol di Batam. Kenapa? alasannya sederhana, keamanan lebih terjamin itu yang utama. Selain itu pergerakannya juga termonitor, lebih nyaman, bahkan tarif yang ditawarkan juga lebih terjangkau. Saya sudah merasakan pelayanan Taxol. Mungkin bukan saya saja, siapapun pasti ingin kenyamanan," kata Masrur Amin, SH.MH selaku praktisi hukum di Batam.

Tak mau hanya melihat dari satu sisi karena nasib para Taxi konvensional juga harus diperhatikan. Ketika awak media ini menanyakan hal tersebut, Masrur menjawab sebagai solusinya, para Taxi konvensional harus bergabung dengan Taxol.

"Itu benar sekali sebab semuanya harus kita perhatikan. Menurut pendapat saya solusi baiknya itu mereka para Taxi konvensional harus bergabung dengan Taxol. Kalau tidak dibuatkan aplikasi seperti Taxol," saran Masrur.

Tak hanya dia, Tokoh masyarakat yakni Ketua FKUB Kota Batam H. Rustam Effendi Bangun juga menyampaikan dukungannya terhadap Taxol.

"Saya juga mendukung Taxol ada di Batam. Kita tidak bisa menghindar dari kemajuan jaman karena mau tidak mau perkembangan jaman itu harus kita terima dengan lapang dada. Namun walau demikian, persaingan usaha harus tetap sehat. Nah di situlah tugas pemerintah kita mensiasatinya dengan sigap, agar hal-hal tidak diinginkan tidak terjadi," terang Rustam.

Menanggapi terkait belum adanya ijin dari Dishub Provinsi Kepri untuk operasi Taxol di kota Batam, Rustam Bangun menambahkan bahwa itu bukanlah alasan.

"Menurut saya itu bukan alasan tepat bagi pemerintah untuk menghentikannya. Harusnya Dishub Provinsi Kepri bisa menyesuaikannya. Buktinya di daerah lain seperti Jakarta aman-aman saja, kenapa itu tidak di contoh? Tapi itulah kita, banyak yang pintar, tapi tidak semuanya bisa bijak," ucapnya.

Ilham, S.sos.
Ditempat terpisah, seorang Akademisi, Ilham, S.sos Dosen di Unrika menanggapinya juga mengatakan hal yang sama, mendukung Taxol di Batam.

"Saya juga mendukung Taxol di tetap ada di Batam, tetapi agar persaingan sehat bisa berjalan baik, sudah waktunya tarifnya ongkos Taxol dinaikan agar Taxi konvensional juga bisa bertahan. Menurut saya tarif Taxol itu sangat murah sekali. Bayangkan saja saya teman naik Taxol dari Sei Panas ke Nagoya cuma Rp 8 ribu, sementara kondisi mobil baru dan Full AC. Bahkan karena murahnya, saya tak tega membayarnya Rp 8 ribu," kata Ilham.

Sebelum mengakhiri, Ilham juga mengharapkan agar Dishub Provinsi Kepri segera memberikan ijin operasi kepada Taxol di Batam, karena selain mengikuti perkembangan jaman, Taxol juga sangat berdampak untuk meningkatkan di sektor pariwisata di Kota Batam dan ketegangan rasa sentimen  antara para Supir Taxol dengan Taxi Konvensional bisa segera berakhir.

Dari beberapa tanggapan ini, terangkum bahwa para kalangan tersebut mendukung Taxol tetap ada di Batam, namun meminta agar tarif Taxol dinaikan tujuannya agar Taxi konvensional  bisa bertahan.

Selain itu, seperti saran dari Masrur, baiknya para supir Taxi konvensional ikut bergabung dengan Taxol atau pihak Taxi Konvensional membuat aplikasi seperti sistem kerja Taxol.(Ril)