Thursday, 14 December 2017

Tak Terima Divonis 20 Tahun, Terdakwa Darwis Ajukan Banding


Darwis bin Daeng Mattemu.
Batam, Dinamika Kepri - Terdakwa Darwis bin Daeng Mattemu yang didakwa terlibat dalam pembunuhan berencana terhadap Umi Kalsum di Hutan Baloi Kolam beberapa waktu lalu, akhirnya divonis 20 tahun penjara oleh hakim Pengadilan Negeri (PN) Batam, Kamis, (14/12/2017) sore.

"Menyatakan bahwa terdakwa terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah maka terdakwa dijatuhi hukuman pidana penjara selama 20 tahun," ucap Hakim Endi saat membacakan amar putusan.

Terdakwa dinyatakan terbukti bersalah setelah mendengarkan saksi-saksi. Bahkan dalam pertimbangan majelis selama persidangan, menyatakan juga tidak menemukan hal-hal yang dapat meringankan hukuman.

Tidak hanya hakim, jaksa juga menyatakan yakin bahwa terdakwa terbukti melanggar pasal 340 KHUP, tentang pembunuhan berencana.

"Atas perbuatannya, terdakwa diancam pidana pasal 340 KUHP, subsider pasal 339 KUHP, lebih subsider pasal 338 KUHP atau kedua pasal 365 ayat (3) KUHP," kata Jaksa Sigit saat membacakan surat dakwaan.

Mendengar putusan yang dijatuhkan, terdakwa tidak terima, lalu melalui penasehat hukumnya Utusan Sarumaha, SH, terdakwa menyatakan untuk melakukan banding.

Dalam surat dakwaan diuraikan, pada tanggal 17 Februari 2017 sekira pukul 22.28 WIB terdakwa mengajak Umi Kalsum ke luar jalan-jalan dengan mobil Avanza warna Abu-abu dengan Nopol BP 1849 ED menuju Hutan Baloi Kolam.

Pada saat dalam mobil, terdakwa mengambil tas warna coklat yang telah dipersiapkan dan menggunakan bagian tali dari tas tersebut untuk menjerat leher Umi Kalsum dengan kuat, sehingga menyebabkan tulang belakang leher Umi Kalsum patah.

Untuk memastikan keadaan Umi Kalsum telah meninggal dunia, terdakwa menyundutkan rokok ke lengan sebelah kiri korban, selanjutnya terdakwa membawa Umi Kalsum dan menggantungnya dengan menggunakan sarung yang telah disiapkan terdakwa di pohon hutan Baloi Kolam RT009/RW016, Kecamatan Batam Kota, Batam.

Hal ini dilakukan lantaran terdakwa merasa terancam dengan situasi dan
kondisi korban Umi Kalsum yang menuntut perhatian lebih dari terdakwa.

Sementara istri terdakwa sudah curiga dan marah, namun Umi Kalsum tidak mau mengerti dengan situsasi tersebut.

Korban dan terdakwa juga sempat bertengkar, sehingga keberadaan Umi Kalsum dianggap sebagai ancaman bagi ketenteraman dan kenyamanan terdakwa.

Akibat situasi tersebut, akhirnya membuat terdakwa mempunyai dorongan yang kuat untuk menghilangkan nyawa korban Umi Kalsum.(Ag)