Thursday, 12 October 2017

Begini Ceritanya Kenapa Warga Minta Klenteng Nabi Khong Hu Cu Ditutup


Budi Mardianto saat berbincang dengan Sumardi pihak Klenteng Nabi Khong Hu Cu, Bengkong Sadai.

Batam, Dinamika Kepri - Ratusan warga Cahaya Garden, Bengkong Sadai, Batam, mendatangi Klenteng Nabi Khong Hu Cu, Kamis (12/10/2017) sore.

Kedatangan warga ini katanya meminta agar Klenteng dapat segera ditutup alasanya karena pihak Klenteng telah melakukan pelebaran lahan dan melakukan penimbunan sesuka hati, hingga pemukiman yang ada di sekitarnya, selalu mengalami kebanjiran bila turun hujan dan sangat mencemaskan warga.

Tak hanya itu, warga juga mempertanyakan dasar pihak Klenteng melakukan pelebaran lahan hingga 4,2 hektar sampai mengambil lahan pemukiman mereka.

Akibat pelebaran lahan Klenteng yang katanya akan dibangun sarana sekolah itu, sebanyak 40 bangunan rumah dan 80 kavling milik warga disekitar Klenteng dipastikan akan tergusur karena masuk dalam kawasan lahan 4,2 hektar milik pihak Klenteng.

Warga juga mengatakan tak habis pikir, karena awalnya lahan Klenteng itu, BP Batam memberi hanya 2 hektar dan tidak mengena ke lahan pemukiman mereka, namun tidak tahu mengapa sekarang tiba-tiba sudah menjadi 4,2 hektar dan terkena ke pemukiman warga.

Warga menduga oknum BP Batam telah bermain dalam pengalokasian lahan dengan pihak Klenteng yang bernama Sumardi tersebut.

Saat ini yang juga dihadiri oleh Komisi I DPRD Batam, Kapolsek Bengkong, Satpol-PP, kepada warga yang merasa keberatan, Sumardi mengatakan katanya, jika tidak terima, baiknya segera dilaporkan kepada polisi.

"Kalau tidak terima, ayo laporkan ke Polisi, kita main di hukum saja," kata Sumardi kepada warga.

Mendengar pernyataan Sumardi, wargapun sempat terpancing emosi dan terlihat makin geram terhadapnya, pasalnya dari pernyataannya, warga telah ditantangin oleh Sumardi. Warga Lalu bersorak minta tutup Klenteng hari itu juga dan bila perlu di bakar.

Namun aksi tegang tidak berlangsung lama karena bisa diredakan ketua Komisi I DPRD Batam Budi Mardianto,SH yang saat itu bersama anggotanya komisi I tengah melakukan sidak menyurpai lahan Klenteng tersebut.

" Kepada semuanya, tolong kita saling menghargai, kita tidak bisa emosi. tolong ditahan. Mari kita dudukan kembali di RDP berikutnya," kata Budi memenangkan suasana.

Beda dengan pernyataan anggota komisi I DPRD Batam Harimidi Umar Husen, SH saat itu Ia mendukung masyarakat agar Klenteng ditutup untuk sementara sampai menunggu ada hasil dari RDP berikutnya.

"Untuk menjaga ketertiban, atas nama DPRD kota Batam, Klenteng ini ditutup untuk sementara menunggu sampai ada hasil dari rapat berikutnya," ucap Harmidi.

Selain itu, Wawan dari bagian pengukuran lahan BP Batam mengatakan, pihaknya segera akan melakukan penataan terhadap kavling-kavling yang ada di lahan Klenteng. Kepada media ini Wawan juga membenarkan bahwa sesuai ukuran, lahan Klenteng itu seluas 4,2 Hektar.

Informasi yang diterima awak media ini dari tokoh masyarakat setempat menyebutkan, lahan Klenteng tersebut katanya telah menyalahi aturan alias alih fungsi, pasalnya dahulu mulai tahun 1990- 1998 lahan Klenteng sebelumnya dikuasai oleh PT. Igita yang mana peruntukannya untuk lapangan Golf, tetapi sekarang malah dikuasai Kelenteng dan dialih fungsikan menjadi tempat ibadah.

Menurut tokoh masyarakat itu lagi, katanya kejadian ini sangat tidak masuk akal karena dahulunya Sumardi juga hanya numpang dilahan itu, namun kini malah sudah menguasainya hingga 4,2 Hektar dan malah menyerobot lahan yang sudah ditempati warga.

"Baiknya ini wajib dipertanyakan, ada apa dengan oknum BP Batam, mengapa tidak memprioritas warga pribumi dan kenapa pula BP Batam malah mendahulukan kepentingan pendatang daripada kepentingan bangsa sendiri. Apakah karena mereka banyak uang? mereka itu pendatang dari Cina sana, ini indonesia bukan negara Cina. Orangtua kami juga ikut memperjuangkan bangsa ini," katanya.

Ketika ditanya apa tuntutan warga selanjutnya, apakah minta ganti rugi berupa materi atau minta ganti alokasi lahan tempat tinggal (Kavling), pria berumur lanjut itu, tidak menjawabnya.

Lalu sekitar pukul 17: 00 Wib, semua warga yang sempat emosi, akhirnya membubarkan diri dengan tertib.

Selain itu, kepada media Ketua komisi I DPRD Batam Budi Mardianto,SH mengatakan pihaknya akan segera menjadwalkan RDP dan akan memanggil semua yang terlibat didalamnya, agar permasalahan tersebut tidak berlarut-larut.(Ag)