Wednesday, 6 September 2017

Tiga Saksi Benarkan Bos Starlight Massage Sediakan Layanan Plus-Plus

 
{[["☆","★"]]}

Penampakan salah satu wajah terdakwa. 
Batam, Dinamika Kepri - Sidang lanjutan Bos Starlight Massage, Hendry Tandijono alias Aliang alias Koko kembali digelar di Pengadilan Negeri (PN) Batam. sidang ke sekian kalinya dalam agenda mendengarkan kesaksian dari 3 saksi ini digelar, Selasa (6/9/2017) siang.

Dari keterangan para saksi yang dihadirkan, ketiga saksi dalam sidang mengaku bahwa aktivitas operasi Starlight Massage sehari-harinya katanya selain melayani pijat juga melayani pratek sex (plus-plus=red) bagi para pria hidung belang.

"Benar, Bos mengizinkan untuk melayani tamu-tamu dengan layanan plus-plus. Bisanya tarif mulai dari harga Rp 1 juta sampai Rp 1,4 juta. Kalau short time tarifnya Rp 400 ribu, sedangkan untuk Long Time akan dikenakan tarif sebesar Rp1,4 juta," kata saksi.

Dalam sidang ini, selain menyidangkan Bos Starlight Massage Hendry Tandijono, diperkara yang sama juga ada rekannya bernama Roslan sebagai pemilik Massage.

Sebelumnya pada Kamis tanggal 20 April 2017 sekitar jam 20 : 00 Wib, Jajaran Unit I Judisila Satreskrim Polresta Barelang yang dipimpim Kanit I Ipda Putra melakukan penggerebek Starlight Massage yang berlokasi di Komplek Nagoya Newton Blok D Nomor 6 Batam tersebut.

Dari lokasi Massage saat itu, Polisi berhasil mengamankan kasir berinisial HT dan 5 orang wanita yang dipekerjakan untuk melayani pria hidung belang yakni beranisial NR(25), EY (36), AIY (22), SY (22), TR (32) dan EF Office Boy Massage.

Sedangkan Roslan sebagai Pemilik Massage saat itu tidak ditemukan dan sempat menjadi Daftar Pencarian Orang (DPO), namun tak lama dari itu Polisi berhasil membekuk Roslan.

Selain mengamankan 7 orang saat penggerebekan itu, Polisi juga berhasil mengamankan beberapa barang bukti berupa KTP, Surat Izin Dinas Pariwisata, TDUP, Izin Domisili, Brosur komisi taksi, Kartu nama Massage, Uang tunai Rp30 juta, surat lamaran kerja, dan alat kontrasepsi (kondom=red) merk Durex.

Atas perbuatannya, kedua terdakwa ini sebelumnya dituntut Jaksa Penunut Umum (JPU) dengan pasal tindak pidana perdagangan orang (Trafiking=red) Undang-undang RI pasal (2) tahun 2007.(Ag)