Saturday, 19 August 2017

Jadi Pak Ogah, Saito : Siapa saja boleh, Yang penting asal mau

 
{[["☆","★"]]}

Saat Saito sedang mengatur lalu lintas di jalan Raya pemutaran menuju Sekupang di depan Tiban Center, Sabtu (19/8/2017).
Batam, Dinamika Kepri - Polisi cepek atau lebih populernya disebut Pak Ogah, saat ini semakin marak di kota Batam. Untuk di daerah Sekupang sendiri, kini terdapat ada di 5 titik diantaranya di jalan paya putaran depan Tiban Center, Mekar Sari, KCF Sekupang, Cipta Puri, dan dijalan raya depan Wartel Sekupang.  

Menurut pengakuan dari salah soerang pak Ogah di Batam bernama Saito (45) yang sering terlihat mengatur lalu lintas di Tiban Center, kepada awak media ini mengaku kalau kegiatan pak Ogah tersebut hanya sampingan saja, pasalnya pagi sampai siang, ia bekerja di tempat lain.

"Cuma sampingan sajalah mas, kalau saya bisannya sore baru disini karena kalau pagi sampai siang, saya kerja. kalau masalah penghasilan, enggak tentulah, lagian tujuannya bukan itu, hanya bagaimana agar tingkat kecelakaan disini bisa terhindari, itu saja.Ya kalau di kasih, terima kasih," kata Saito, Sabtu (19/8/2017) sore.

Selain itu Saito juga mengaku kalau ia sudah 3 tahun mengatur lalu lintas di tempat tersebut. Dan selama 3 tahun itu ada pengalamannya, katanya juga pernah terjadi kecelakaan di tempat itu lantaran si pengemudi kendaraan tidak sabar menunggu kendaraan lain lewat.

" Pernah juga ada kecelakaan disini, mungkin orangnya gak sabaran dan main terobos saja," kata dia lagi.

Ketika ditanya lagi, apakah kegiatannya tersebut pernah ditegor atau dilarang oleh polisi?, Saito mengaku pernah, namun bukan melarang tetapi dikontrol.

" Pernah, tetapi tidak dilarang, namun kami tetap dikontrol." ujarnya.

Polisi cepek adalah sebutan bagi orang-orang yang randomnya yang berusaha 'mengatur' lalu lintas dengan mengharap imbalan uang, namun seikhlasnya dari para pengguna kendaraan jalan. Namun berhubung tidak sudah jarangnya uang cepek beredar sekarang ini, mereka bukan Polisi cepek lagi, tetapi sudah menjadi Polisi noceng (Rp 2 ribu=red).

Polisi Noceng di Batam ini umumnya berasal dari kalangan masyarakat kelas bawah yang memiliki motif  beragam - murni untuk membantu kelancaran lalu lintas, namun tidak menutup kemungkinan bisa saja malah mereka yang melanggar aturan-aturan jalan raya demi uang. Tetapi untuk saat ini, pelanggaran yang dimaksud itu masih minim terjadi di Batam, pasalnya mereka masih terlihat sportif.

Selama Saito melakukan aktivitasnya, pantuan media di jalan pemutaran menuju ke Sekupang ini, tampak dari puluhan pengendara, satu dua supir diantaranya, ada yang memberikan uang pecahan Rp 2 ribu kepadanya.

Beda di tempat yang lain, pengatur lalu lintasnya kerap ganti orang, nanmun beda di tempat yang satu ini, setiap harinya terlihat hanya Saito seorang melakukan kegiatan di tempat itu. Sepertinya pemutaran jalan raya di depan Tiban Center ini, sudah menjadi batangannya.

" Ah..itu gak benarlah, siapa saja boleh kok asal mau saja." kata Saito mengakhiri. (Ag)