Tuesday, 18 July 2017

Tarmizi pelaku penyekap Hendriawan dalam sidang akhirnya mengaku bersalah


Tarmizi.
Batam, Dinamika Kepri - Dalam persidangan terdakwa Tarmizi pelaku penyekapan terhadap korban Hendriawan karena hutang piutang sebesar Rp 50 Juta yang terjadi di Kampung Aceh Simpang DAM Muka Kuning Batam sebelumnya, akhirnya mengakui kesalahannya.

"Saya mengaku salah karena telah melakukan penyekapan. Saya minta maaf yang mulia," kata Tarmizi saat memberikan kesaksiannya pada sidangnya di Pengadilan Negeri (PN) Batam, Selasa (18/7/2017).

Mendengar pengakuan terdakwa, majelis hakim juga berpesan agar di lain waktu tidak terulang lagi.

Kendati demikian, Hakim Syahrial.SH yang memimpin persidangan tersebut masih saja terus mempertanyakan diduga untuk memastikan perihal uang pinjaman yang diberikan Tarmizi kepada Hendriawan.

"Sebenarnya itu uang apa, apa pekerjaan saudara? karena heran saja, jam 1 pagi orang minjam uang sebanyak itu saudara diberikan? padahal saudara tidak mengenal orangnya, dan hanya kenal kepada orang membawanya," tanya Hakim.

Menjawab pertanyaan hakim, terdakwa mengatakan ia bekerja sebagai wira swasta  dengan berdagang (warung=red) di rumahya sembari berkolam ikan Gurami.

" Saya kerja jualan buka warung dan berkolam ikan gurami yang mulia," jawab terdakwa.

Menjawab mengapa ia berani memberikan pinjaman kepada korban, karena si korban Hendriawan berjanji padanya hanya meminjam 1 jam dan akan memberikan Rp 5 juta sebagai imbalannya.

Namun karena Hendriawan tidak menepati janjinya, lalu terdakwa menyuruh anggotanya untuk mencari Hendriawan dan lalu menyekap didalam rumahnya.

Tak lama dari aksi penyekapan tersebut, keluarga Hendriawan langsung merespon dan mengembalikan pinjaman itu kepada terdakwa melalui anggotanya.

Selain itu, sesuai isi BAP hakim juga menanyakan apakah benar dalam penyekapan yang dilakukannya korban terdakwa sempat di ikat di pohon menggunkan borgol, lalu terdakwa menjawab, itu tidak benar.

"Itu tidak benar yang mulia. Korban saya sekap di dalam rumah, masalah borgol saya tidak tahu," kata Tarmizi.

Selain itu mengenai luka lebam-lebam di wajah korban, terdakwa juga mengaku telah melihatnya namun tidak pernah menyuruh anggotanya untuk melakukan pemukulan kepada korban.

Tak hanya Hakim, jaksa juga menanyakan apakah rumah yang digunakan untuk menyekap korban milik terdakwa atau rumah sewaan.

Dalam perkara ini, tidak ada satupun saksi yang hadir untuk meringankan terdakwa. Namun ada bukti meringankannya yaitu lampiran surat perdamain antara terdakwa dengan korban dimana surat perdamaian itu juga ditanda tangani oleh pihak keluarga korban dan perangkat RT. Bahkan untuk biaya perdamaian itu, terdakwa mengaku sudah memberikan ratusan juta kepada keluarga korban.

Setelah mendengar kasaksian dari terdakwa yang sudah mengaku salah, sidang ini kembali akan dilanjutkan pada hari Selasa tanggal 25 Juni 2017 mendatang guna mendengarkan tuntutan.

Pantuan media, perkara ini memang sedikit aneh, terdakwa yang sebelumnya ingin mengharap untung malah buntung, bagaimana tidak  Ia sudah baik mau pinjami uangnya Rp 50 juta kepada Hendriawan tapi hasilnya malah terbalik, ia malah membayar perdamaian ratusan juta kepada peminjamnya akibat dari kecerobohan yang dilakukannya dengan  menyekap orang yang meminjam uangnya.

Dalam kasus ini tentu ada banyak pertanyaan yang muncul dibenak para pengunjung sidang, apakah benar itu hanya masalah uang hutang piutang? Mengapa terdakwa begitu percaya hingga memberikan pinjaman uang sebesar itu kepada orang yang tidak dikenalnya, apakah terdakwa memberi pinjamana karena tergiur dengan janji korban, sebab kejadian pinjam meminjam itu juga terjadi pada tengah malam,  namun apapun pertanyaan itu, biarlah hakim yang memutuskan dengan seadil-adilnya.(Ag)

Editor : Agus Budi T