Tuesday, 11 April 2017

Nakhoda Kapal TKI jalur gelap antar negara Indonesia-Malaysia, Ditangkap Polair Polda Kepri


S bin AM, Nakhoda Speed Boat jalur gelap antar negara Indonesia-Malaysia, 
Batam, Dinamika Kepri -  Bertempat Rupattama Polda Kepri, Kapolda Kepri Irjen Pol Drs. Sam Budigusdian, MH, didampingi oleh Dir PolAir Polda Kepri Kombes Pol Teddy Jhon Sahala Marbun, H.Mhum, Kabid Humas Polda Kepri yang diwakili oleh Kasubbid Penmas Bidhumas Polda Kepri Akbp Edi Santoso, SH, Selasa (11/4/2017) sore tadi, menggelar konferensi Pers tentang penangkapan satu orang  Nakhoda kapal Speed Boat yang membawa 71 orang warga indonesia dari Malayasia dengan cara ilegal.

Kepda media Kapolda mengisahkan kronologis kejadiannya, katanya pada hari selasa tanggal 11 April 2017 sekira pukul 01.00 wib, personil Dit Polair Polda Kepri melakukan pemeriksaan terhadap 1 (satu) unit Speed Boat warna abu-abu bermesin tempel merk Yamaha 3 x 200 PK yang sedang melakukan kegiatan menurunkan penumpang TKI (pekerja Indonesia) dari Malaysia sebanyak 71 orang di Pantai Sekilak Batu Besar-Batam.

Wajah para TKI.
Setelah dilakukan pemeriksaan, diketahui bahwa terhadap 71 orang tersebut melakukan perjalanan atau masuk ke Indonesia tanpa melalui prosedur yang sah atau tanpa proses pemeriksaan petugas imigrasi baik di Malaysia ataupun setelah sampai Indonesia dan berlayar tanpa dilengkapi dengan Surat Persetujuan Berlayar (SPB).

Lalu Nakhoda Speed Boat yang berainisial S bin AM itu pun diamankan. Selain itu para saksi-saksi yang merupakan ABK Speed Boat dengan inisial MH,S,A, dan satu orang supir mobil dengan inisial ITN dan semua para korban yang terdiri dari 65 laki-laki dan 6 perempuan tersebut, juga ikut dibawa ke Mapolda.

Kapolda Kepri Irjen Pol Drs. Sam Budigusdian, MH, (Tengah) Saat Press rilis didampingi oleh Dir PolAir Polda Kepri (Kiri) dan Kombes Pol Teddy Jhon Sahala Marbun, H.Mhum.
Adapun barang bukti yang diamankan dalam kasus keimigrasian ini yakni 1 unit Speed Boat warna abu-abu bermesin tempel merk Yamaha 3 X 200 PK.

Atas perbutannya, maka pelaku ini dikenakan Pasal 120 ayat (1), undang-undang Republik Indonesia nomor 6 Tahun 2011 tentang keimigrasian jo pasal 55 ayat (1) jo dan pasal 56 KUHP. Pasal 219 ayat (1) jo pasal 323 ayat (1) Undang-undang Republik Indonesia nomor 17 Tahun tentang Pelayaran.(Ril)

Editor : Agus Budi T