Wednesday, 8 March 2017

S.Panjaitan : Tak Peduli Mau Bayar Berapa, Asalkan Listrik Masuk ke Kampung kami ini !!


Warga Tanjungbanun, S.Panjaitan saat di wawancara oleh media.
Batam, Dinamika Kepri - Selama puluhan tahun hidup dalam kegelapan, membuat masyarakat Tanjungbanun  Kelurahan Sembulang, Kecamatan Galang sangat berharap listrik bright PLN Batam menjamah daerah mereka. Mereka tak peduli dengan tarif yang akan dikenakan, yang terpenting mereka dapat menikmati hidup layaknya masyarakat di Batam.

"Mau tarif nasional, mau tarif PLN Batam, kami bersedia, asalkan kami bisa nikmati listrik 24 jam," kata S.Panjaitan, warga Tanjungbanun.

Diceritakannya, saat ini mereka hanya bisa menikmati listrik mulai dari pukul 18.00 hingga 23.00 WIB, itu pun dengan daya yang terbatas, satu kepala keluarga hanya dapat asupan 2 Amper untuk menerangi rumah mereka.

"Sekarang kami pakai genset bantuan pemerintah, hidupnya cuma lima jam saja, selebihnya nggak ada listrik lagi," sambung guru SMK Negeri 6 Batam ini.

Dengan durasi lima jam tersebut, menurut Panjaitan, setiap kepala keluarga dikenakan tarif Rp100 ribu sebulan, tarif itu untuk biaya pembelian bahan bakar genset dan perawatan instalasi serta perawatan mesin.

Sementara untuk fasilitas umum, seperti Masjid, Poliklinik Desa (Polindes) dan jalan masuk ke perkampungan, suami dari bidan desa di Tanjungbanun ini mengatakan masyarakat mendapat bantuan solar cell dari bright PLN Batam, awal 2016 silam, sebanyak enam unit, dan akhir 2016 ditambah enam unit lagi.

"Sebelum ada bantuan itu, Polindes hanya melayani warga siang hari saja, karena kalau malam tak bisa ngapa-ngapain. Tapi berkat bantuan PLN Batam, kini Polindes bisa beroperasi 24 jam," jelasnya.

Perkampungan Tanjungbanun, kecamatan Belakang Padang, Batam, Kepri.

Pelayanan Polindes untuk masyarakat Tanjungbanun sangat diharapkan warga, mengingat jumlah kepala keluarga yang ada di sana sekitar 300-an. "Ya, kita nggak tahu kapan musibah itu datang, kadang malam ada warga yang jatuh, luka dan perlu di jahit, atau ada warga yang mau melahirkan, kalau tak ada lampu, mana bisa dilayani.

Istri saya dulu kalau nangani pasien saat malam, harus pakai lampu teplok dan lampu senter yang ditempel di jidat, kalau tak seperti itu, ya tak bisa terlayani," jelasnya.

Pihak bright PLN Batam dijelaskan Panjaitan sudah pernah melakukan survey dan pemetaan lokasi untuk penyambungann kabel listrik dari tiang di jalan Trans Barelang, sampai ke Tanjungbanun.

"Tapi sepertinya belum ada tanda-tanda pemasangan, karena memang jarak dari jalan utama itu ke kampung kami sekitar 6 kilometer, butuh sekitar 200 tiang listrik agar kabel sampai ke kampung kami, itu mungkin kendala yang dihadapi PLN Batam, makanya sampai sekarang belum masuk listrik kami," ujar Panjaitan.
.
Masyarakat Tanjungbanun pun sudah pernah mengajukan pemasangan listrik ini di setiap kali Musrembang tingkat kelurahan dan kecamatan, namun tetap saja belum berhasil.

"Sepertinya sulit betul, karena katanya daerah kami itu masih masuk area kerja PLN Tanjungpinang, jadi urusannya harus ke Tanjungpinang," tutur Panjaitan.

Ia mewakili seluruh masyarakat Tanjungbanun, sangat berharap bantuan dari pemerintah dan bright PLN Batam, untuk terealisasinya penyaluran  energy  listrik sampai ke perkampungan mereka.

Mereka tak ingin lagi hidup dalam kegelapan dan ketakutan, takut dengan ancaman kebakaran, yang sangat dekat dengan mereka dan kapan saja dapat menghampiri mereka.

Sementara itu, Staf Humas Bright PLN Batam, Suprianto menjelaskan, sebagai perusahaan pelayanan publik  dengan slogan mandiri tanpa subsisi tersebut, pihak bright PLN Batam siap mengaliri listrik ke Tanjungbanun dan sekitarnya, seperti yang saat ini sudah dilakukan perusahaan tersebut di Sembulang maupun Belakang Padang.

"Tapi untuk membangun jaringan itukan ada regulasi yang harus dijalani dan biaya, itu yang harus diperhitungkan, mengingat wilayah Tanjungbanun itu masih termasuk wilayah kerja PLN Persero Riau dan Kepulauan Riau," terangnya.

Bright PLN Batam akan berkoordinasi dengan PLN Persero tentang rencana pembangunan instalasi tersebut. "Bisa misalnya PLN Persero membangun instalasi distribusi, sedangkan PLN Batam yang mengaliri dayanya dengan membangun jaringan  distribusi 20Kv. Atau dibangun bersama-sama," sambungnya.

Atau jika tidak ada titik temu nantinya, kita juga bisa menempatkan mesin pembangkit di sana (Tanjungbanun), cuma kembali lagi, bagaimana mesin pembangkit itu bisa beroperasi, kalau PLN Batam tak bisa membeli bahan bakarnya," kata pria yang akrab disapa Rian ini.

Salah satu alasan bright PLN Batam mengajukan penyesuaian tarif, dijelakan Rian ya untuk meningkatkan pelayanan hingga ke daerah-daerah pesisir, yang saat ini belum terjangkau oleh bright PLN Batam.

"Kami komitmen akan mengaliri listrik ke pesisir, asalkan kemampuan kami mencukupi untuk hal itu," ucanya.(Ril)

Editor : Agus Budi T