Tuesday, 24 January 2017

Kampung Agas Tanjung Uma, Unfair Tragedi Peradaban



Batam, Dinamika Kepri - Langit gelap menghiasi atap masjid kampung Agas, Tanjung Uma, dibalut sunyinya malam itu, Kamis (19/1/2017) malam.

Langit mendung seakan menangisi saat peristiwa gusuran yang dilakukan oleh serdadu bayaran pengusaha. Sementara informasinya proses PTUN masih sedang berjalan untuk membuktikan kebenaran!

Marah, kesal, atau benci bercampur menjadi satu dalam dada warga terdampak gusuran revitalisasi yang dicanangkan Pembangunan investasi ditanah seluas 3 Hektar itu.

Di tengah perasaan campur aduk yang dirasakan warga, tiga anak kecil dengan riang bermain di tengah tumpukan puing sisa gusuran Aparat.

Ketiga bocah sekolah dasar itu sesekali membungkuk memungut puing tersisa dari bangunan di kawasan tergusur. Dipungutnya potongan besi fondasi bekas rumah yang sempat berdiri di Kampung Agas.

Besi itu bukan digunakan sebagai alat untuk bermain. Melainkan sengaja dikumpulkan dan dimasukkan ke dalam karung untuk kemudian dijual dan ditukarkan dengan rupiah.

Pakaian seragam dan sekadar jajan merupakan tujuan ketiga bocah itu memulung barang bekas. Maklum, ketiganya merupakan korban gusuran yang sampai saat ini menumpang dirumah ibadah.

Tempat tinggal ketiga bocah itu kini sudah tidak berdiri lagi. Alat berat telah merobohkan rumah mereka pada awal Minggu ini, Yang tersisa hanya bongkahan dinding yang tergeletak di atas tanah.

Penggusuran kampung Agas-Tanjung Uma menyeret kontradiksi kelas. Si miskin, proletar, dan golongan menengah ke bawah bersikap pasrah. Sebaliknya, kaum borjuis bangkrut moral, gelap mata menekan kaum simiskin hingga terusir dari tanah kelahirannya. Konon pak Heri sebagai Kordinator korban gusuran bercerita prihal pengusiran mereka bak binatang dilakukan oleh oknum milik negara.

Mereka merasa terintimidasi, diserang gas air mata disaat bayi mereka meminta susu ketika bangun dipagi hari, seorang warga koma hingga dilarikan kesebuah rumah sakit.

Penggusuran sarat kepentingan Korbannya banyak. Bikin sakit hati. Ciptakan dendam sosial. Dilakukan dengan paksa. Demi kenikmatan investasi di mata borjuis bangkrut moral meraup rupiah ditanah Melayu.

Tidak seperti biasanya. Tentara biru Ditpam kiriman BP Batam lebih banyak dari penggusuran yang biasa terjadi. Mereka bergabung dan mendominasi diantara tim terpadu lainnya. Sementara di gorong-gorong gang tikus masih terselip stiker pasangan Pilkada Ramah dan Sanur.

Entahlah ,setelah menjabat sudahkah mereka datang berkunjung kesana ? Sebab ,Pemimpin baik identik dengan prinsip "cinta": dicintai dan mencintai rakyatnya. Cinta adalah mystical experience. Dalam perspektif psikologi, cinta diakui sebagai perilaku yang sehat.

Semua nabi bilang cinta adalah anugerah dari Tuhan. God is Love. Maka sudah sepatutnya pemimpin dikota ini memberikan rasa cinta mereka pada korban penggusuran itu !

Di antara tumpukan puing tersebut sebuah boneka persis boneka Teddy bear terlihat lusuh dan Kumal , pertanda pemiliknya tak lagi bahagia, Pasca digusur, sebagian anak-anak terlihat hilang keceriaanya. Sehari-hari mereka hanya dihiasi dengan rasa traumatik membayangkan kembalinya para serdadu itu.

Sudah hampir 1 mingguan ,150 KK korban penggusuran hidup di teras masjid menghadap kearah puing reruntuhan rumah mereka, sebagian memang ada yang memasang tenda di atas puing tersebut. Mereka menolak relokasi tanah yang ditawarkan dan sejumlah uang sebagai ganti rugi.

Mereka pasrah meskipun masih melawan dengan gugatan jalur Hukum. Warga berusaha hidup normal. Layaknya manusia lain. Sekalipun hidup mereka sudah dirampas.mereka hidup dan bertahan hidup disana.

Dari masyarakat sendiri sudah banyak bantuan dari RT sekitar yang tidak terkena gusuran, dari organisasi masyarakat seperti Sosial Kepri, Hope for Life, RCWB, Solidaritas Kepri, Satria, dan lain-lain berdatangan menghantarkan bantuan berupa Indomie, beras, telur,nasi kotak, pakaian bekas layak pakai, buku pelajaran, selimut, kasur dan uang tunai. Ini semua bukti "Human sosial" ditengah masyarakat kota Batam masih terjaga.

Seorang ibu paruh baya saat kami dan tim media datang ( Erwin Syahril, Ismail ) masih suka nangis di malam hari. Saat menatap kegelapan puing atau saat bercengkerama dengan rombongan tamu.

Dia menangis karena selalu teringat kenangan suasana kehidupan masa-masa sebelum penggusuran. Dia ingat ketika rumahnya dihantam deko dan amukan aparat yang menembakkan gas air mata.

"Sekarang Kampung Agas- Tanjung Uma seperti area mati. Gelap di malam hari, gersang di siang hari. Seperti gurun puing." Kata Hazarin Virdha salah satu anak tempatan yang membela masyarakat saban hari.

Hazarin Virdha juga bilang, Amar putusan sudah dikeluarkan oleh pengadilan yang isinya memenangkan masyarakat kampung Agas dan pengusaha harus membangun kembali pemukiman masyarakat serta membayar kerugian immaterial. Sementara itu pengusaha mengajukan banding ke pengadilan Pekan Baru.(Anas)