Tuesday, 27 December 2016

Begini ungkapan isi hati Birgaldo Sinaga ketika melihat situasi Natal di kota Batam


Birgaldo Sinaga. (Foto/ istimewa)
Dinamika Kepri - Kemarin saya keliling beberapa Mall di Batam. Ada suasana lengang nan berbeda dari tahun tahun sebelumnya. Semarak Natal lenyap. Hilang. Sepi. Lagu lagu Natal dan ornamen pernak pernik khas Natal tidak tampak.

Ada apa gerangan?

Saya mencoba mencari tahu mengapa semarak Natal menghilang dari Kota Batam. Mengapa hari besar, momen besar Hari Natal terasa gersang. Terasing.

Tentu dialektika filosofi bahwa Natal bukanlah tentang gemerlap, dekorasi atau meriah bukan pada tempatnya kita diskusikan. Ini dua kutub yang berbeda cara pandangnya.

Setiap tahun kalender selalu ada musim atau hari besar. Sebut saja Hari Kemerdekaan 17 Agustus. Saat tujuh belasan, kita merasakan atmosfir perjuangan merebut kemerdekaan.

Setiap RT diperlombakan pasang gapura berhias hari kemerdekaan. Kita melihat gapura dipasang meriam, bambu runcing, bendera merah putih dan lain sebagainya. Bendera merah putih ada di mana mana.

Ketika tiba Hari Kemerdekaan 17 Agustus, perlombaan perlombaan khas tujuh belasan ramai sekali. Panjat pinang, makan kerupuk, lomba lari karung goni, main bola pakai daster dan banyak permainan lainnya benar benar menghibur dan menggembirakan kita semua anak anak bangsa.

Kita melebur menjadi satu Indonesia. Satu Indonesia yang bersama sama berjuang mendirikan Republik Indonesia.


Foto surat edaran dari Walikota Batam kepada perusahaan yang ada di Batam, dokumnen foto by : seword.com
Hari Besar Imlek juga nuansa semarak begitu terasa menggetar. Ornamen ornamen lampion memanjang sepanjang jalan di jalanan arteri.

Dari bilangan Jodoh, Nagoya hingga Penuin penuh semarak khas Imlek lengkap dengan pernak pernik Imlek. Begitu membahagiakan melihat semarak lampu kerlap kerlip lampion, barongsai.

Hari Besar Idul Fitri adalah puncak dari perayaan hari besar yang paling besar. Sebulan penuh kira merasakan suasana bulan puasa yang teduh dan khidmat. Setiap hari kita melihat betapa guyubnya sesama kita.

Saudara saudara muslim mengundang berbuka puasa bersama. Kita yang berbeda agama hadir, duduk berbagi cerita sambil menunggu bedug Mahgrib. Selepas itu kita bertatapan menikmati kolak, cendol, opor ayam khas berbuka puasa.

Semarak Idul Fitri memenuhi seantero mall, gedung pemerintah, jalanan dan banyak tempat. Ornamen, pernak pernik Lebaran menghias semua tempat. Ada ketupat bergantung di gerbang pintu masuk mall. Ada lagu lagu reliji Islam non stop terdengar. Ada kebatinan yang berbeda.

Ada spanduk bertebar dan baliho berisi pesan lebaran. Televisi nasional setiap jam berlomba menyiarkan pesan dan ucapan selamat berpuasa dan lebaran.

Kita berbahagia bersama menyaksikan saudara saudara muslim damai dan khusuk merayakan hari Idul Fitri itu.

Perayaan Natal, Imlek, Idul Fitri tentu menunjukkan kepada kita bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa berbhineka, beragam namun bersatu juga.

Kita menaruh kebahagiaan bersama ketika kita melihat saudara saudara kita merasakan kebahagiaan sejati. Guyub, tepo seliro, toleran dan bersaudara.

Tapi itu dulu. Waktu berjalan. Perubahan terjadi. Perubahan itu bukan menuju ke arah peradaban yang lebih baik. Namun mundur jauh kebelakang.

Sebuah surat himbauan dari Walikota Batam, Rudi, menjadi pangkal kehilangan semarak Natal itu. Rudi merendahkan dirinya menjadi walikota bukan milik semua entitas anak bangsa.

Rudi lupa bahwa dia dipilih oleh semua pemeluk agama, suku, ras dan antar golongan. Surat himbauannya sebagai walikota melukai perasaan umat Nasrani di Kota Batam.

Rudi secara sadar telah takluk dan tunduk kepada ormas yang tidak ada sama sekali keputusan fatwanya berada dalam turunan undang undang hukum positif negara Republik Indonesia.

Kekacauan pola pikir Rudi sebagai walikota yang tanpa punya perasaan benar benar mengecewakan saya sebagai pribadi yang pernah memenangkannya.

Hari ini semarak Natal di Batam telah diamputasi, dimatikan oleh kebijaksanaan yang tidak bijaksana dari Walikota Batam yang mantan bintara bhayangkara Polri itu.

Selamat Natal Batam meski semarakmu hilang.

Birgaldo Sinaga.

Source : seword.com