Tuesday, 8 November 2016

Pihak Glory Point sebut 4 tahun lalu mereka sudah melakukan mediasi kepada warga

 
{[["☆","★"]]}

Untuk menghadang petugas eksekusi, warga di Kampung Harapan Swadaya, Bengkong, melakukan aksi bakar ban bekas.

Batam, Dinamika Kepri - Sebelum aksi tolak gusur dari warga berubah anarkis, paginya kepada media ini, Pihak Glory Point menuturkan bahwa  sebelum pihak mereka melakukan langkah upaya hukum hingga ke Mahkamah Agung (MA) sejak 4 tahun lalu mengaku kalu pihaknya sudah melakukan tahap mediasi kepada warga, namun tidak berbalas dengan baik pasalnya dari sekian banyaknya uang ganti rugi yang diberikan tidak ada hasil.

"Siapa bilang kami tidak pernah melakukan mediasi kepada warga, itu tidak benar, kami sudah lakukan langkah pada pada 4 tahun lalu, namun tidak ada hasilnya,  padahal uang ganti rugi sudah diberikan, malah kami yang jadi korban penipuan, saat itu ada yang minta ganti rugi RP 20 juta bahkan sampai Rp 30 juta." ucap pihak Glory Point tersebut.

Petugas Pengadilan Negeri Batam saat tengah membacakan surat perintah eksekusi pengosongan lahan dihadapan para Warga Kampung Harapan Swadaya, Bengkong, Batam, Kepri, Selasa (8/11/2016) siang. 


Selain itu ia juga merincikan bahwa lahan Glory Point yang telah ditempati masyarakat di kampung Harapan Swadaya yakni kurang lebih sekitar 1,8 Hektar.

Dan saat ini lahan tersebut telah seutuhnya menjadi milik mereka apalagi setelah keluarnya surat perintah eksekusi dari pengadilan yang memerintahkan agar warga yang bermukim diatasnya dapat segera mengosongkannya.

Namun aksi eksekusi PN Batam itu akhirnya malah mendapat perlawanan dari masyarakat dan berakhir dengan 18 rumah milik warga di Glory Home, hangus terbakar.(Ag)

Editor : Agus Budi T