Wednesday, 9 November 2016

Kuasa Hukum Glory Point : Putusan MA adalah putusan yang Inkrah, Bukan untuk dirundingkan

 
{[["☆","★"]]}

Kuasa Hukum Glory Point, Nasib Siahaan. SH

Batam, Dinamika Kepri - Berdasarkan surat perintah dari Mahkamah Agung (MA), Pengadilan Negeri (PN) Batam pada hari Rabu (8/11/2016) pagi ditugaskan oleh negara untuk melakukan eksekusi pengosongan lahan agar lahan milik Glory Point seluas 1,2 Hektar yang ada di Kampung Harapan Swadaya, Bengkong, Batam, Kepri, dapat segera dikosongkan oleh warga yang bermukim diatasnya. namun gagal setelah 18 unit rumah milik warga di Perumahan Glory terbakar.

Melihat itu, Kapolresta Barelang, Kombes Pol, Helmy Santika, menyatakan sikap dengan menghentikan eksekusi, alasan demi keamanan.

Melihat eksekusi pengosongan lahan itu terhenti, kuasa hukum Glory Point, Nasib Siahaan. SH, sangat menyanyangkannya. Kata dia, Surat perintah Eksekusi itu adalah keputusan yang Inkrar yang tidak bisa diganggu gugat yang harus dilaksanakan, dan bukan untuk dirundingkan.

Selain itu Ia juga mengaku heran ketika ada bahasa yang mengatakan, Eksekusi akan dilakukan namun harus menunggu sampai adanya kepastian dari hasil perundingan dari Kapolresta Barelang, Wakil Walikota Batam, Amsakar Achmad, Ketua DPRD Kota Batam Nuryanto, dan beberapa anggota DPRD Batam lainnya, kata Nasib Siahaan, itu tidak masuk akal.

"Menunggu hasil runding, runding apalagi, Itu tidak masuk akal, kita ini cerita hukum dan hukum harus ditegakan.  Surat perintah eksekusi itu adalah perintah dari negara yang harus dilakukan oleh aparat negara, dan bukan untuk dirembukan-rembukan atau dirundingkan lagi. Saya juga heran bagaimana mungkin sebanyak 750 personil yang diturunkan untuk mengamankan itu, bisa kecolongan hingga 18 rumah milik warga terbakar. Saya sendiri ataupun kami dari pihak Glory tentunya sangat prihatin dengan melihat kejadian itu, ya kami sangat prihatin sekali, " Kata Nasib Siahaan. SH

Tambahnya, " Dan yang paling miris lagi, aparat hukum malah memilih mundur hanya karena ada bom molotov, selain itu kita juga perlu mempertanyakannya kepada pihak kepolisian, kenapa eksekusi itu dihentikan, apakah hukum negara kita sudah kalah dengan sekelompok anarkis yang tak mau menaati hukum? jika demikian tentunya hal ini akan menjadi perhatian serius bagi kita semua,'' ucap Nasib kepada media, Rabu (9/11/2016).

Lebih lanjut lagi kata dia, langkah mereka selanjutnya yakni akan segera meminta kepada Pengadilan Negeri Batam agar jadwal eksekusinya lanjutan, dapat segera dijadwalkan kembali.

"Kami akan kembali meminta agar pengadilan Negeri Batam dapat segera menjadwalkan eksekusi kembali. Dalam hal ini tidak ada lagi yang perlu untuk di kaji ulang. Dikaji ulang berarti permasalahannya akan kembali ke titik semula. Dan perlu diketahui, Putusan Mahkamah Agung (MA) adalah putusan hukum tertinggi di Negara ini," tegas Nasib Siahaan.SH.

Sebelum menutup pernyataannya kepada media, Nasib juga menyayangkan dengan adanya aksi anarkis dari warga hingga terbakarnya 18 rumah milik warga di perum Glory Home.

Kata dia itu perlu dipertanyakan siapa dalang yang telah mempasilitasinya. Apalagi membuat bom molotov segitu banyak, menyediakan Panah, Parang, dan Tombak. Menurut saya itu bukan lagi spontanitas, melainkan memang sudah sengaja untuk dipersiapkan.(Ag)

Editor : Agus Budi T