Wednesday, 12 October 2016

Terkuak ternyata pria ini yang memasukkan Senpi ke kamar Kompol Irvan Asido Siagian

Saksi Edi Pardamean Sitompul.
Batam, Dinamika Kepri - Proses perjalanan sidang terhadap terdakwa Kompol Irvan Asido Siagian atas dugaan kepemilikan senjata api yang tertangkap di kamar nomor 903 hotel Sahit Rashinta, Nagoya, kini tabirnya semakin terkuak setelah mendengarkan kesaksian dari saksi Edi Pardamean Sitompul yang cukup mengejutkan saat sidang di pengadilan Negeri (PN) Batam, Rabu malam (12/10/2016) diruang sidang IV.

Dalam keterangannya dalam sidang, saksi Edi Pardamean Sitompul mengaku, bahwa dialah orangnya yang telah memasukan Senjata api (barang bukti) ke dalam tas Milik Samsir yang di dalam kamar 903 di Sahit Rashinta sebelum digerebek Polisi dari Polda Kepri.

Pada persidangan ini, saksi mengisahkan awal kronologisnya, katanya dalam persidangan, Pada tanggal 12 Nopember 2015 yang lalu sekitar pukul 6: 30 Wib pagi, sepulang dari Diskotiq Newton, saksi mendatangi kamar terdakwa Irvan Asido di kamar nomor 903 di Sahita Rashinta.

Kedatangan saksi ini ke kamar terdakwa saat itu kata saksi hendak memberikan senjata api yang ditemukannya di Diskotiq Newton.

Namun karena terdakwa dilihatnya masih tertidur saat itu, ia lalu memasukan senjata api yang ditemukannya itu ke dalam tas yang ada di kamar Kompol Irvan Asido Siagian.

Ngakunya pada hakim, ia segan untuk membangunkan terdakwa dan berinisiatif lalu menyimpan senpi ke dalam sebuah tas. Setelah ia lalu pergi ke kamar mandi untuk mencuci muka.

Melihat terdakwa belum juga terbangun, ia akhirnya mutuskan pergi meninggalkan kamar terdakwa dengan dan meninggal senpi itu tersimpan di dalam tas yang ternyata tas itu juga bukan miliknya terdakwa, melainkan miliknya oleh saksi Samsir.

" Senjata itu saya temukan dari Newton, saya juga tidak tahu siapa pemiliknya. Lalu saya ambil. Rencana saya ingin memberikan kepolisi, namun saya lansung mengingat pak Irvan Asido, karena ia juga seorang polisi. Pikir saya pagi itu, biarlah dia yang menyerahkannya langaung ke polisi.

Namun sesampainya saya di dalam kamarnya, saya lihat ia masih tertidur pulas. Karena merasa segan untuk membangunkannya, maka itu lalu senpi aku simpan di dalam sebuah tas yang berada di kamar itu.

Setelah itu aku ke pergi kamar mandi untuk cuci muka. Setelah dari kamar mandi, kulihat pak Asido juga masih tertidur. Melihat itu, Lalu kuputuskan pergi dan meninggalkan senjata api itu tersimpan di dalam tas." kata Edi dalam persidangan.

Ketika ditanya hakim kenapa senjata itu ditinggalkan tidak diketahui pemilik kamar, saksi menyebutkan bukan sengaja untuk meninggalkan, katanya ia pergi saat itu hanya sebentar saja, dan akan kembali lagi untuk menjelasakan penemuan senjata itu kepada Irvan Asido.

Tak lama dari situ, ia lalu mendengar kabar, kalau Irvan Asido sudah ditangkap polisi.

Kepada saksi hakim bertanya, apa motivasi saksi meninggalkan senjata api di kamar terdakwa. Jawab saksi, Tidak ada motivasi.

" Tidak ada motivasi apapun yang mulia, saya juga mengaku salah, karena akibat kelalain saya , pak Irvan Asido menjadi seperti ini, saya salah yang mulia," ucap Edi.

Setelah mendengar kesaksian ini, semua yang hadir dalam persidangan tampak mulai mengerti apa sebenarnya yang terjadi. Diduga seperti ada unsur jebakan di dalam kasus ini.

Diduga hakim juga merasakan hal itu, pasalnya dalam persidangan, hakim juga berkali-kali menanyakan apa motivasi saksi berani meninggalkan senjata api itu di kamar terdakwa. Menjawab pertanyaan hakim maka dengan tegas saksi menjawab, tidak ada motivasi

" Benar yang mulia, saya tidak ada motivasi apapun," kata Edi dalam persidangan.(Ag)

Editor : Agus Budi T