Friday, 14 October 2016

Sidang Kompol Irvan Asido Siagian, Dua temannya Samsir dan Edi, Dihadirkan JPU jadi saksi

Tampak Kompol Irvan Asido Siagian (Baju Putih), bersama para kuasa hukumnya usai menghadiri sidang diruangan sidang IV, di PN Batam.

Batam, Dinamika Kepri -  Setelah mendengarkan pengakuan dari saksi Edi Pardamean Sitompul (EPS), semua pengujung sidang yang ada diruang IV Pengadilan Negeri (PN) Batam, pada Rabu malam (12/10/2016), terkejut saat saksi EPS mengaku kalau Senjata Api (Senpi) yang ditemukan polisi di kamar terdakwa Kompol Irvan Asido Siagian di kamar Nomor 903 Bungalow Hotel Sahit Rashinta itu, adalah senpi darinya yang ditemukannya dari salah satu ruang di dalam Diskotiq Newton Batam.

"Saya yang memasukkan senjata api itu ke dalam tas itu yang mulia. Senjata api saya temukan dari salah satu ruangan di dalam Diskotiq Newton. Saya juga tidak tahu itu punya siapa. rencana saya mau memberikannya kepada Pak Asido agar dia yang melaporkannya kepolisi," kata saksi EPS kepada hakim.

Mendengar kesaksian itu, hakim pun sempat terlihat terkejut, lalu hakim bertanya, apa motivasi saksi berani menyimpan senpi itu di kamar terdakwa. Mendengar pertayaan itu,  kepada hakim saksi menjawab, kata dia, tidak ada motivasi yang mulia.

"Tidak ada motivasi yang mulia, saya hanya berniat baik, ketika saya temukan senjata pagi itu, saya memang ingin melaporkannya ke polisi. Namun setelah teringat polisi, saya langsung ingat Pak Irvan Asido yang juga seorang polisi, pikirku saat itu, mendingan aku serahkan saja padanya saja, karena dia juga polisi, biarlah pak Asido nanti yang akan melaporkannya ke polisi. pikirku saat itu." kata saksi EPS.

Kata saksi lagi, Setelah penemuan senjata api pagi itu, (12 Nopember 2015 yang lalu sekitar pukul 6: 30 Wib pagi), ia langsung bergegas pergi ingin menemui  Irvan Asido untuk menyerah senpi itu. Lalu dengan menyimpan senpi dipinggangnya, saksi bergerak dari Newton menuju ke Hotel Sahit Rashinta untuk menemui Kompol Irvan Asido Siagian.

Namun sesampai di dalam kamar terdakwa, saksi melihat terdakwa masih tertidur pulas. hingga niatnya untuk menyerahkan senpi itu tertuda. Melihata terdakwa masih tidur saat itu, Maka ia memutuskan menyimpan senpi ke dalam tas yang ada di dalam kamar.

Setelah menyimpan senpi tersebut, lalu saksi katanya pergi ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya. setelah beberapa waktu berada di dalam kamar mandi, ia keluar, namun terdakwa masih tertidur.

Melihat Irvan asido masih tertidur pulas, ditambah lagi ada rasa segan unutk membangunkan terdakwa, maka saksi memutuskan pergi dan meninggalkan senpi itu tetap di dalam tas milik saksi Samsir. Saksi EPS menyimpan senpi itu tampa sepengetahuan pemilik kamar, yakni kamar terdakwa.

Kepada hakim lagi, Saksi EPS juga mengaku dirinya bersalah karena telah menyimpan senpi itu tampa memperhitung segala konsekwensinya. Ia juga mengaku tidak pernah mengira kalau ujungnya akan terjadi seperti saat ini.

" Saya mengaku salah yang mulia," kata saksi EPS.

Itulah pengakuan  saksi EPS saat memberikan kesaksiannya. Beda dengan kesaksian Samsir yakni teman sekamar terdakwa yang saat itu, keduanya sama-sama ditangkap polisi di dalam kamar 903.

Pengakuan saksi Samsir dipersidangan, sebutnya pada Hakim, bahwa terdakwa, sebelumnya pernah bercanda dengan mengacung-acung senjata api pada dirinya.

Ketika ditanya hakim, apakah senjata api yang diacungkan terdakwa itu sama seperti barang bukti, jawab saksi, benar yang mulia.

Kembali ke saksi EPS lagi, Pada kesaksiannya tentu telah mengisyaratkan jika keberadaan senjata api di dalam tas di kamar Nomor 903 itu, tidak pernah diketahui oleh terdakwa Irvan asido. Namun keterangan saksi Samsir berbeda dan mengatakan, kalua terdakwa pernah menunjukkan senpi yang dimaksud kepadanya.

Mendengar kesaksian yang berbeda dari kedua teman terdakwa ini, tentu hakim mempunyai penilaian tersendiri, dan hakim  saat itu terlihat semakin penasaran dan makin bersemangat menyerang dengan banyak pertanyaan kepada saksi EPS. tanya hakim, Kenapa baru sekarang.

"Mengapa baru sekarang kesaksiannya seperti ini, andakan tahu sedangkan proses sidang ini sudah lama bergulir, kalau begitu kejadiannya, kasihan dong Pak Asidonya, Pak Asido bukan orang sembarangan loh, pak Asido seorang perwira polisi..kalau seperti ini, namanya mempermaikan nasib orang pak!," kata hakim kepada saksi EPS.

Mendengar itu, saksi EPS lalu mengangguk-angguk dan menjawab, " Saya salah yang mulia, saya juga tidak tahu kalau seperti ini jadinya," kata EPS.

Dalam perkara ini, Jaksa penuntut umum (JPU) dari Kejari Batam, Rumondang Manurung.SH menuntut terdakwa ini dengan Pasal 1 ayat (1) Undang-Undang Darurat Republik Indonesia Nomor 12 Tahun1951 tentang Ordonnatie Tijdelijke Bijzondere Strafbepalingen, dengan tuntutan hukuman ancaman Pidana minimal seumur hidup dan maksimal hukuman Mati. (Ag)

Editor : Agus Budi T