Wednesday, 19 October 2016

Proses sidang Kompol Irvan Asido Siagian, Semakin membingungkan

AKBP Roni Faisal Saiful Faton
AKBP Roni Faisal Saiful Faton
Batam, Dinamika Kepri -  Sidang lanjutan terhadap terdakwa Kompol Irvan Asido Siagian tentang dugaan kepemilikan Senjata api (Senpi) Rabu (19/10/2016) siang, kembali digelar diruangan sidang IV di Pengadilan Negeri (PN) Batam, guna mendengarkan kesaksian.

Pada sidang kesekian kali ini,  Jaksa Penuntut Umum (JPU) menghadirkan AKBP Roni Faisal Saiful Faton yang sebelumnya menjabat sebagai PS Kabag Binopsnal Ditresnarkoba Polda Kepri yang mana saat itu ikut melakukan penggeledahan di dalam kamar 903 Bungalow Sugriwa Hotel Rasinta tempat terdakwa ditangkap, Kamis tanggal 12 November 2015.

Dalam kesaksiannya dalam persidangan ini, saksi khusus datang dari Surabaya ini mengatakan, dari hasil penggeledahannya di dalam kamar 903 saat itu, selain dirinya menemukan bong (Alat hisap shabu=red) dan plastik transparan berisi sisa-sisa kristal dalam kamar, saksi juga menemukan sebuah tas di dalam lemari yang mana di dalamnya tersimpan dan ditemukan sepucuk senjata api jenis revolver warna silver merek Pindad dengan nomor senjata AE. S007108 dan 9 (sembilan) butir peluru.

Sebelum penemuan Senpi tersebut, Saksi meminta Samsir ( Teman Terdakwa yang ditemukan sama dalam kamar=red) meminta untuk membuka lemari yang ada di dalam kamar, setelah samsir membukanya, Saksi dan Samsir melihat ada  sebuah tas berwarna hitam di dalamnya.

Melihat tas itu, saksi lalu bertanya lagi ," Tas ini milik siapa". mendengar itu Samsir menjawab, " Itu tas saya" mendengar jawaban itu, Saksi lalu menyuruh Samsir untuk membuka tas itu, setelah dibuka, dan ternyata Samsir dan Saksi menemukan senjata api di dalam tas hitam tersebut.

Kompol Irvan Asido Siagian
Kompol Irvan Asido Siagian, tampak emosi setelah mendengarkan semua kesaksian AKBP Roni Faisal Saiful Faton.

Setelah penemuan Senpi itu, kepada saksi, Samsir lalu mengatakan tas itu adalah miliknya namun kerap digunakan oleh terdakwa. setelah itu Senpi tersebut diserahkan saksi kepada komandannya dan tidak diketahui terdakwa.

Ketika ditanya hakim, mengapa saat penemuan senpi tersebut tidak memberitahukan kepada terdakwa, jawab saksi, karena situasinya tidak mendukung.

Pantuan media ini, sidang ini sepertinya mirip drama berseri membuat bingung yang mengikutinya.Yang disidangkan adalah tentang dugaan kepemilikan Senjata api (Senpi), namun yang dibahas lebih kearah penggunaan narkoba dan menyebutkan kalau terdakwa pernah menjalani Rehabilitasi di BNNP Kepri.

Merasa penasaran dan tidak terima disebut dirinya telah menjalani Rehabilitasi di BNNP Kepri, Dalam persidangan ketika terdakwa diberikan Hakim kesempatan untuk bertanya kepada saksi, lalu terdakwa bertanya kepada saksi tanyanya, Dari mana saudara saksi tahu kalau saya telah direhabitasi di BNNP Kepri

" Dari mana saudara saksi tahu kalau saya pernah direhabitasi di BNNP Kepri, sementara saudara saksi sendiri sebagai penyidik, tidak pernah sama sekali melakukan periksaan kepada saya, bahkan dari hasil tes urine tersebut, tidak bisa dipertanggung jawabkan oleh ahlinya." tanya terdakwa kepada saksi.

Menjawab pertanyaan terdakwa, Kepada majelis hakim, saksi mengatakan dari tes urine yang dilakukan saat di TKP disaksikan oleh para petinggi Polda Kepri saat ikut operasi Antik itu, Terdakwa dinyatakan positif telah menggunakan narkoba jenis Shabu.

Bahkan sebelum terdakwa melakukan tes urine, kata saksi, terdakwa awalnya mengunakan air mineral, namun ketahuan karena saat itu urinenya tidak hangat, dan meminta mengulang tes kembali, setelah diulang, maka dari tes urinny itu, terdakwa dinyatakan postif telah menggunakan narkoba. 

Dan ketika pertanyaan Hakim masuk kerana Senpi kepada saksi, di kesempatan waktunya, terdakwa mengatakan kepada saksi, ia tidak pernah diperiksa siapapun, mengenai  adanya penemuan Senpi tersebut.

Pantuan media, proses jalannya persidangan ini semakin membingungkan. sidang tentang senpi namun yang dibahas masalah penggunaan narkoba.

Padahal Sidang perkara nomor 746/Pid.B/2016/PN Batam ini, adalah sidang perkara tentang dugaan kepemilikan senjata api, namun yang dibahas lebih cendrung malah ke tentang penggunaan narkoba.

Sebelumnya disidang yang lalu yakni pada tanggal 12 Oktober yang lalu, terdakwa Kompol Irvan Asido Siagian kepada saksi dari propam polda kepri, terdakwa juga pernah mengatakan, ini sidang tentang Senpi bukan Narkoba, jadi mohon saudara saksi jangan melakukan penggiringan opini.

Sementara ini, dari beberapa saksi yang telah dihadirkan dalam persidangan ini, hanya 1 saksi yang meringankan terdakwa yakni Edi Pardamean Sitompul, dimana dalam kesaksiannya pada tanggal 12 Oktober 2016 lalu, saksi Edi menyebutkan bahwa senpi tersebut di dapatnya dari diskotiq dan menyimpannya tas di dalam kamar 903 saat itu tampa sepengetahuan terdakwa.

Dikutip dari pemberitaan wartakota.com menuliskan, Terkait penggunaan Narkoba, Sebelumnya juga, Kapolri Jenderal Tito Karnavian telah mengatakan akan menitindak tegas dan memberikan hukuman yang berat kepada setiap anggotanya yang terlibat dengan narkoba. Kata Kapolori Tito, " Pasalnya oknum polisi seperti itu hanya akan mempermalukan institusi Polri.

Dalam perkara ini, Jaksa penuntut umum (JPU) dari Kejari Batam, Rumondang Manurung.SH menuntut terdakwa ini dengan Pasal 1 ayat (1) Undang-Undang Darurat Republik Indonesia Nomor 12 Tahun1951 tentang Ordonnatie Tijdelijke Bijzondere Strafbepalingen, dengan tuntutan hukuman ancaman Pidana minimal seumur hidup dan maksimal hukuman Mati. (Ag)

Editor : Agus Budi T