Tuesday, 27 September 2016

Satu lagi, Penderita DBD di Kavling Patam Indah Sekupang Batam, Meninggal dunia

Ilustrasi mobil Jenazah.
Batam, Dinamika Kepri - Setelah 4 hari mendapat perawatan di RSBP Batam Sekupang, Selasa (27/9/2016) dini hari pukul 1: 00 Wib, pagi, Ahmad Royadi (35) penderita demam berdarah yang tinggal di Kavling Patam Indah, akhirnya meninggal.

Kepada media ini, Kata RT 07/RW 01 Patam Indah, Maudi (43) menuturkan, pada hari Kamis 22 September 2016 lalu, korban ini awalnya dibawa ke Puskesmas terdekat di Patam Lestari.

Dari hasil pemeriksaan,  Bidan Endang menyebut korban ini, telah menderita demam berdarah dan juga telah mengarahkannya agar keluarga segera membawanya ke rumah sakit, namun tidak dilakukan.

Selang satu hari dari situ, korban lalu dibawa ke RSBP Sekupang untuk menjalani perawatan, namun setelah beberapa hari menjalani rawatan, penderita DBD ini akhirnya meninggal.

Dan yang anehnya, Sesuai pengakuan RT Maudi, kepadanya Dokter RSBP mengatakan, mendiang menderita penyakit paru- paru yang sudah kronis dan tidak dapat di tolong lagi.

" Kalau kata Dokter RSBP Sekupang, mendiang ini menderita penyakit paru- paru, bukan DBD. makanya saya juga tidak bisa menyimpulkan apakah meninggalnya karena DBD atau karena penyakit paru- paru, tetapi yang jelasnya kata Bidan Endang, almarhum ini terkena DBD." kata Maudi sedih.

Bahayanya DBD saat ini, Menurut RT lagi, Ternyata di Kavling Patam Indah kelurahan Patam Lestari ini, sudah ada dua korban yang meninggal karena DBD, namun tidak ada perhatian Dinas Kesehatan (Dinkes) Batam untuk mengatisipasinya.

Kendati katanya sudah kerap mengsulkan ke Dinkes agar Kavling Patam Indah dapat dilakukan Foging, namun pihak Dinkes ucap RT ini, kerap mengelak berdalih dengan alasan meminta surat resmi, menunjukkan surat dokter jika korban yang meninggal benar-benar karena DBD.

Jika demikian berarti sikap Dinkes Batam, kesannya menunggu banyak korban mati dahulu, baru bertindak.

Kata Maudi lagi, Selama ini memang ada Foging dilakukan di Patam Indah, tetapi bukan itu dari Dinkes Batam, melainkan dari ansiatif saya sendiri.

Padahal sebagaimana yang tertuang pada kebijakan Permenkes No. 374 tahun 2010 Tentang Pengendalian Vektor Penyakit, menyebutkan bahwa, pencegahan penyebaran penyakit DBD, sudah menjadi tugas Kementerian Dinas Kesehatan Provinsi, Kabupaten maupun Pemerintah Kota.

Sedikit merincikan, Demam dengue atau yang dikenal secara umum oleh masyarakat Indonesia sebagai demam berdarah merupakan penyakit yang dapat membuat suhu tubuh penderita menjadi sangat tinggi dan pada umumnya disertai sakit kepala, nyeri sendi, otot, dan tulang, serta nyeri di bagian belakang mata.

Sebetulnya demam dengue dan demam berdarah merupakan dua kondisi yang berbeda, namun sebagian besar masyarakat Indonesia sudah terlanjur salah kaprah.

Demam berdarah atau dengue hemorrhagic fever (DBD) merupakan komplikasi dari demam dengue (dengue fever) yang memburuk.

Gejala DBD tergolong parah  di antaranya adalah kerusakan pada pembuluh darah dan kelenjar getah bening, muntah-muntah yang disertai darah, keluarnya darah dari gusi dan hidung, napas terengah-engah, dan pembengkakan organ hati yang menyebabkan nyeri di sekitar perut.

Penyakit demam dengue disebabkan oleh virus dengue yang penyebarannya terjadi melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus.

Karena diperantarai oleh kedua serangga tersebut, maka demam dengue tidak bisa menular dari orang ke orang secara langsung selayaknya penyakit flu.

Nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus banyak berkembang biak di daerah padat penduduk,  misalnya di kota-kota besar  beriklim lembap dan hangat seperti kota Batam.(Ag)

Editor : Agus Budi T