Tuesday, 6 September 2016

Ini terdakwa yang minta kuasa hukumnya kirimkan surat ke Jokowi dan ke Barack Obama

Batam, Dinamika Kepri - Sudah gila atau pura-pura gila, mungkin itulah kata bahasa yang pantas ditujukan kepada terdakwa Feryanto Kamarudin yang tersandung dengan kasus pengiriman TKI gelap ke Malaysia ini, pasalnya dalam persidangan yang digelar, Selasa (6/9/2016) diruang sidang IV Pengadilan Negri (PN) Batam sore tadi, mengundang banyak kelucuan hingga pengunjung yang menyaksikannya, tertawa nyaris terbahak setelah mendengar semua pengakuannya.

Pengkuannya berputar-putar tidak terarah, hingga kuasa hukumnya sendiri pun bingung tidak mengerti apa tujuan dari semua perkataan yang diucapkannya dalam persidangan.

Dan yang paling anehnya lagi, kuasa hukum terdakwa sendiri dalam persidangan, tampak merasa jengkel dengan adanya dua surat yang diterimanya dari klaiennya ini, klaiennya Feryanto Kamarudin ini sebelumnya, meminta kuasa hukumnya itu untuk segera mengirimkan dua yang ditulisnya agar segera dikirimkan ke Presiden RI, Jokowi dan ke Presiden Amerika, Barack Obama.

Dalam sidang, kuasa hukum terdakwa lantas bertanya kepada klaiennya ini, apa maksud dan tujuan kedua surat tersebut diberikan padanya, namun terdakwa menjawab, tidak ada tujuan dan maksud apa-apa.

Ketika kuasa hukum terdakwa meminta agar surat dari klaiennya tersebut dibacakan dalam persidangan, hakim menolaknya, kata hakim tidak perlu, mengirim surat kemanapun sah-sah saja, jangankan Presiden RI, Joko Widodo dan ke Presiden Amerika, Barack Obama, ke Tuhan pun tidak ada yang larang, kata hakim lagi. Mendengar itu, pengunjung sidangpun semakin tertawa.

Terdakwa Feryanto Kamarudin asal Jakarta ini, sebelumnya ditangkap di pelabuhan fery Batam Center saat hendak ke Malaysia dengan membawa seseorang wanita. Namun naas sesudah ia melengkapi tiket keberangkatannya, ia dan wanita yang dibawanya ditangkap petugas.

Dalam persidangan ia mengaku hanya ingin mengantarkan wanita yang dibawanya itu ke rumah keluarga di Malaysia. selain itu ia juga mengaku tidak mendapatkan imbalan apa-apa. Namun ketika dengan jeli hakim menayankannya kembali, ia mengaku telah menerima uang sejumlah Rp 1,8 juta dari ibu mertuanya sebelum berangkat dari Jakarta menuju Batam.

Terdakwa juga mengelak jika ia disebut sebagai penyalur TKI Gelap (ilegal), namun secara tak sadar ia mengatakan kata 'Tekong'. dan ketika hakim menayakan dari mana ia tahu kata Tekong, terdakwa ini menjawab dengan lugas bahwa dirinya sudah menjadi agen TKI sejak tahun 2001 dengan banyak nama perusahaan.

Mendengar ucapannya itu, pengunjung pun makin tertawa, merasa tidak terima ditertawain, kepada hakim terdakwa mengatakan," Saya tidak gila pak hakim", lalu hakim menjawab sembari bertanya, " Emang yang bilang siapa?", mendengar itu, pengunjung pun makin tertawa, namun tertawanya tidak plong sebab tertahan karena pengunjung menghargai persidangan.

Melihat situasi seperti itu, kuasa hukum terdakwa terlihat hanya bisa diam dan melihat-lihat prilaku klaiennya sembari mengelengkan kepala seakan menduka, jika klaiennya tersebut, mungkin telah mengalami kelaianan dan gangguan jiwa, sebab saat itu pasehat hukum terdakwa, seperti sudah kehabisan kata-kata.

Dan sebelum sidang ini ditunda hingga tanggal 20 september 2016 mendatang, jaksa penutut umum juga menayakan pengakuan sebelumnya berdasarkan BAP kepada terdakwa, namun terdakwa menjawab, " Yang sekarang ini yang benar''. ucap terdakwa mengakhiri pengakuannya. (Ag)

Editor : Agus Budi T