Saturday, 10 September 2016

Ini alasan mengapa sebagian orang Batak memilih netap di perantauan

ilustrasi, Foto/dok : hipwee.com
Batam, Dinamika Kepri- Suku Batak adalah merupakan salah satu suku bangsa terbesar di Indonesia. Beragam versi, menuturkan bahwa orang Batak itu berasal dari keturunan Israel kuno, mereka ini datang ke Indonesia pada abad antara di tahun 950-1250 Masehi dan memilih bermukim di Pusuk Buhit di pinggiran Danau Toba, Provinsi Sumatera utara.

Di indonesia suku etnis ini adalah suku yang paling memiliki keunikan tersendiri. Budaya adatnya yang begitu kuat, mampu membuat seluruh keturunannya patuh dan tetap menjaga budayanya. 

Dahulu sebelum ada aturan negara yang harus dipatuhi, suku ini sudah membuat hukum adatnya sendiri yakni dengan istilah Dalihan na tolu.

Terbukti hukum adat tersebut mampu membuat mereka hidup rukun padahal hanya dengan mengandalkan 3 tungku pengelompokan yang disebut dengan Dalihan Natolu, yaitu "Somba marhula-hula, Manat mardongan tubu, Elek Marboru. 

Saat itu kejahatan minim diantara mereka, sebab jika ada terbukti yang melakukan kesalahan fatal melanggar hukum adat, akan dibunuh dengan cara di makan ramai-ramai (Kanibal).

Sampai saat ini, hukum adat Dalihan Natolu ini masih bertahan dan selalu mampu mempersatukan mereka. Terkait benar tidaknya suku ini disebut-sebut keturunan dari Israel, sampai saat ini belum ada yang bisa memastikannya. Tetapi jika disingkronisasikan dengan Budaya yang di jalankan Israel, persis sama hampir tidak ada perbedaanya.

Kendati zaman terus berganti, Budaya adat suku Batak ini, tak pernah pudar, jika ada pihak-pihak dari suku Batak berusaha mencoba ingin berubahnya, maka ia akan diberi gelar dengan sebutan, " Si pulik".

Kembali topik judul, "Mengapa  sebagian orang Batak milih netap di perantuan", tentu banyak faktornya namun dari antaranya terdapat salah satunya alasan yakni malas dengan pesta-pestanya adatnya.

Tinggal diperantuan katanya bisa lebih tenang ketimbang tinggal di kampung halaman (Bona Pasogit=red), alasannya, jika tinggal di kampung halaman, tentu akan terbeban waktu dengan acara-acara menghadiri undangan pesta yang mana saban hari selalu datang. Itu wajib di hadiri, jika tidak hadiri, tentunya akan menjadi cemohan orang, katanya.

Ternyata pesta adat Batak itu melelahkan, selain menghabiskan tenaga, juga menghabiskan isi kantong. Maka itu ada istilah bagi mereka yang mengatakan, orang Batak itu " Marpogos alani paradaton", Miskin karena adat.

Walau  begitu, mereka tidak pernah melupakan kewajibannya sebagai orang Batak, apalagi yang sudah Manjalo/menerima adat (Menikah=red), hukumnya wajib, harus membayar adat di manapun ia berada. jika tidak bisa hadir, setidaknya bisa mengirimkan Ulos/Tuppaknya (Kado) kepada yang sedang melakukan pesta adat.

Apalagi, posisinya sebagai hasuhutan di dalam pesta yang dimaksud, yang bersangkutan wajib pulang untuk menghadiri undangan. Namun tak jarang kerap selalu ada kendala karena sikon yang tidak tepat, maka tak jarang, banyak yang memilih jalan alternative walau itu hanya mentransfer biaya Tuppaknya saja.

Itulah suku etnis Batak, Walau jauh di perantauan sana, mereka tetap bertanggung jawab di setiap ada kegiatan pesta adat di kampung halamannya, apalagi itu acara pesta adat di linkungan sekitar keluarga, walau badannya jauh di seberang lautan terhalang benua, pastinya mereka akan berusaha untuk membantunya.(Ag)

Editor : Agus Budi T