Wednesday, 21 September 2016

Dihadirkan jadi saksi, Awang Herman : Amdalnya bukan urusan saya

Awang Herman
Awang Herman saat memberikan kesaksian di PN Batam.
Batam, Dinamika Kepri -  Sidang perdata terhadap Komisaris PT Power Land, Afuan terdakwa reklamasi dan pengerusakan lingkungan di sekitar Pulau Bokor, Kecamatan Sekupang, hari ini digelar kembali di PN Batam, guna mendengarkan kesaksian, Rabu (21/9/2016).

Dalam sidang ini, menghadirkan 3 saksi salah satunya yakni Ketua DPC Himpunan Nelayan Seluruh Indoesia (HNSI) Batam, Awang Herman saat memberikan keterangannya, ia mengaku Amdal bukan urusannya.

Ketika ditanya kembali, kepada Hakim dan Jaksa, Awang mengaku bahwa untuk pengurusan Amdal, bukanlah urusannya.

"Urusan Amdalnya, tidak pernah saya sepakati dengan pak Abob. namun ia pernah memintanya dan saya menolaknya,  karena biaya pengurusan Amdal itu mahal, bisa mencapai sampai Rp 600 juta yang mulia" kata Awang Herman.

Selain itu, Direktur PT. Putra Setokok tersebut, juga mengaku telah menerima uang sebesar Rp 14, 2 Miliar dari Abob untuk biaya mengerjakan penimbunan tersebut.

Dalam sidang, Awang Herman juga mengatakan bahwa pengerjaan Reklamasi yang mereka sebelumnya di  Mentarau itu, tidak memiliki Izin Amdal dari Bapedalda kota Batam, Hingga kepala Bapedalda Ir.Dendi Purnomo menghentikan kegiatan mereka.

Sebelumnya penimbunan ini adem ayem, melihat itu maka Agus Ryanto dari Sekjen DPP LSM Ampuh, melaporkan kegiatan PT Power Land ke Mabes Polri karena melakukan aktivitas rekalamasi pantai, tampa dilengkapi izin Analisa dampak lingkungan (Amdal) atau UKL/UPL dari Pemerintah Kota Batam.

Dan sesuai dengan dakwaan JPU, Afuan di dakwa melanggar pasal 109, jo pasal 36 ayat (1) UU RI nomor 32 Tahun 2009, tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, jo pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

Perihal tentang penimbunan reklamasi pantai tampa kantongi izin Amdal di Batam, sebenar bukanlah hal yang mengejutkan lagi. Ada dugaan hal ini sampai keranah hukum, karena pihak perusahaan tidak melakukan kordinasi yang baik. (Ag)

Editor : Agus Budi T