Saturday, 10 September 2016

Cerita warung kopi, Sebut oknum dewan main proyek di Pemko Batam, Benarkah?

Ilustrasi, Foto/dok: kektape.com
Batam, Dinamika Kepri - Di saat hendak bergegas pulang dari kesibukan seharianku, Sabtu (10/9/2016) dari atas kendaraan yang naiki terlihatku hari mulai senja, Matahari pun seakan lelah ingin beristirahat karena seharian ini telah menyinari bumi.

Tak sengaja terlihatku ke langit, saat itu tampak sesekali awan tebal melintasi matahari, menyelimuti hingga membuat pancaran cahayanya terhalang ke bumi. Pikirku sore ini pasti akan hujan.

Melihat suasana langit telah mendung, lalu aku putuskan beralih tujuan ke salah satu warung kopi di bilangan Batam Center. Ditempat itu aku duduk sendiri. tak lama menunggu, pelayanpun datang dan bertanya,.kepada pelayan aku hanya pesan kopi manis dengan komposisi gula tipis.

Namun aku tidak sadar, ternyata mejaku bersebelahan dengan meja 5 orang para gerombolan agen langit dan agen laut di Batam. Sedikit menjelaskan, sebutan Agen langit agen laut adalah sebutan bagi orang yang selalu banyak cakap namun pembuktian tidak ada.  kata orang Batam itu disebut 'Temberang'.

Konsep sana konsep sini, hasilnya nihil, anehnya lagi para agen laut selalu ngomongin jual beli kapal tanker, tetapi tidak tahu kapal tanker yang akan dijual berada dimana. Itulah agen laut.

Beda lagi dengan agen langit, mereka adalah orang selalu ngomong Fee lahan dengan jumlah keuntungan M-Man, kesannya akan kaya mendadak, padahal jika dikaji lebih dalam, ternyata mereka hanya penumpang ngopi gratisan saja.

Kembali ke topiknya 'Ada oknum anggota Dprd Batam bermain proyek Pemko Batam.' Disaat aku sidang mengutak-atik ponselku, terdengarku salah seorang dari antara agen langit itu berkata, " Jangan heranlah kalau saat ini ada isu menyebutkan oknum anggota Dprd Batam kerap bermain proyek Pemko Batam,  itu cerita lama dan bukan isu baru lagi," katanya terdengarku..

Lalu seorang lagi mengatakan menyambut seperti pendapat yang sama katanya, " Ya benar tuh, enggak heranlah  kalau anggota dewan bermain PL-PL proyek di Pemko Batam. Itukan cerita lama, tapi kalau mereka bisa, kenapa kita tidak?, tapi enggak adil juga Pemko Batam ini. Mereka di kasih proyek, kita tidak, apa karena mereka itu anggota dewan?,"sambut yang lain menjawab.
.
Terlihatku, mereka berlima seakan telah memaklumi dan pasrah apa yang sedang terjadi. Katanya lagi, " Aku menyimak ajalah, entar salah komentar pula.hahaha.."

Mendengar semua pembicaraan ke-5 orang di warung kopi tersebut, bisa disimpulkan bahwa saat ini, semua PL-PL proyek yang ada di pemko Batam diduga sudah menjadi permainan monopoli oleh oknum-oknum dewan Dprd Batam dan oknum pejabat Pemko Batam.

Ironis sekali jika disebut ada oknum Dprd main proyek. Tentunya hal itu sudah tidak sesuai lagi dengan tupoksinya, Dprd adalah wakil rakyat yang bertugas untuk mengawasi Pemerintah, sangat miris jika disebut oknum Dprd ikut menikmati proyek-proyek dari Pemerintah. Namun apa hendak dikata, itulah yang terjadi.

Padahal sebagaimana yang telah ditentukan, tugas Dprd ialah bertugas sebagai lembaga legislatif yang merupakan lembaga perimbangan terhadap kekuasaan eksekutif, mengatur fungsi-fungsi dan tugas DPRD agar pemerintahan berjalan efektif, transparan, akuntabel bukan bertugas untuk bermain proyek dari pemerintah.

Padahal jika di revew ke maa lampau, katanya dahulu saat pencalegkan, "Saya akan berjuang demi memajukan tempat kita ini, saya berjuang mewakali anda, berjuang mempasilitasi segala kepentingan umum masyarakat disini nantinya. maka itu, dukung saya  menjadi perwakilan anda di Dprd kota Batam. Ini tujuan kita, sebab dari kita untuk kita."

Ya seperti itulah dahulu persisnya kata janji-janji manis yang kerap diucapkan oleh para Caleg yang berhasil saat ini, saat melakukan kampanyenya untuk menyakinkan orang-orang agar memilihnya.

Memang tidak semuanya seperti itu, sebagian ada juga yang bermain curang andalkan uangnya dengan melakukan serangan fajar alias money politk kepada masyarakat. Maka tidak heran mereka yang duduk menjadi anggota dewan dari tenaga uang, wajar jika ia bermain dari proyek pemerintah.

Hitungannya, yang bersangkutan juga harus mengembalikan kerugiannya selama Pilkada, bagaimana tidak, satu suara kala itu (Pilkada Tahun 2014=red) seharga Rp 100 ribu/orang ditambah Nasi bungkus (Nasbung) karet 1 plus uang minyak di kali 3000 suara, Nah hitung sendiri berapa kos yang sudah dihabiskannya.

Maka itu tidak heran setelah duduk ia, terlihat akan menjadi lasak, kaji sana-kaji sini, jarang ngantor, alasan Kunker, sidang paripurna jarang kelihatan, namun setelah ditelusuri keberadaannya, ternyata sedang lagi ngawasin proyek-proyeknya. dahulu semboyannya, "Dari kita untuk kita," Namun setelah duduk menjadi dewan, slogannya pun ikut berubah menjadi, " Dari kita untuk saya," (Ag)

Editor : Agus Budi T