Wednesday, 10 August 2016

Walau mentari pagi begitu cerah, Namun ia akan selalu menguji kesetiaan cintamu

ilustrasi, Menyambut mentari pagi.
Dinamika Kepri - Surat dari pembaca, Disetiap matahari terbit menyinsing pagi, maka kecerahan itu akan terpancar menyinari bumi. Hari yang gelap berganti cerah. Begitulah yang terjadi hingga tamat usai hayatmu. maka itu, buatlah yang cerah itu menjadi secerah bersama belahan hatimu.

Adanya banyak kata pribahasa, primbon ataupun kata khiasan yang menjujung tingginya nilai-nilai dari terbitnya sang mentari pagi. Para sang pujangga mengatakan,

" Duhai jiwa, masih adakah kau di hari ini melihat mentari dan merasakan semilir angin di dalam hati? Jika iya. Syukurilah kesempatan itu."

"Meski sabar terasa menipis, hingga keinginan menyerah begitu menggoda. maka itu teruslah pertahankan cinta agar lebih kuat menjangkau surganya."

"Jagalah cinta dengan sebaik-baiknya. Agar cinta tertambatkan hingga selamanya. Merengeklah hanya pada Tuhan-mu, di setiap waktu bersandarlah padanya, niscaya engkau akan dapatkan lebih dari apa yang kau bayangkan."

"Saat kaki tersesat tak tentu arah. Saat bahu melemah tiada sandaran. Saat hati perih tiada pengubat. Saat itu pula, Tuhan ada bersama kita."

"Taman hati ialah taman hidup. Meski sempit ruangnya, tapi cinta mampu membuatnya menjadi lapang. Cinta membuatnya nyaman dihuni."

"Kekuatan tangan yang dimiliki mungkin sanggup membawa kita menjadi orang hebat, tapi hanya bersamanya kita menjadi luar biasa. Tersenyumlah, karena terkadang anugerah terindah hadir setelah kesulitan melanda."

"Sambutlah mentari pagi dengan senyum sumbringah selalu terlihat di wajahmu karena itu tentu lebih manis dari pada menunjukkan kerut di dahimu. Hidup ini terlalu singkat untuk di isi dengan rasa kebencian. Damaikanlah hati, biarkan cinta membuat hidupmu lebih berarti."

"Berikan cintamu kepada orang yang pantas memiliki hatimu saja, bukan kepada dia yang hanya ingin bermain-main denganmu.

Jangan sedih, Tuhan bersama kita. Maka orang yang Tuhan bersamanya, tak akan sedih, bagaimana pun keadaannya."

Yah..beghitulah sebagian kata-kata mutiara yang selalu diucapkan oleh para sang pujangga, mereka menilai betapa indahnya  kecerahaan itu. Namun tak luput juga, ada sebagian orang yang mengganggap bahwa menghadapi hari esok itu, adalah hari yang begitu menakutkan. Mereka takut menghadapinya. Apalagi bagi para keluarga yang baru membina mahligai rumah tangganya.

Mereka takut menjalani rajutan cinta, hati yang telah disatukan oleh sang pencipta terhadapnya. mereka merasa sungkan, sungkan karena tidak lagi menjalani kehidupan seperti di masa lajangnya.

Dua hati telah disatukan, dituntut saling memiliki, mengerti memahami kekurangan dan menerima kelebihan dari pasangannya masing-masing.

Mentari pagi walau begitu cerah, Namun ia selalu akan menguji kesetiaan cintamu terhadap pasanganmu. Kalahkan rasa takutmu, hadapi kenyataan, Jangan inkari janjimu, sebab janji setiamu bukanlah kepada pasanganmu, melainkan kamu berjanji kepada Tuhan sang pencipta yang telah mempersatukan kamu.

Ingatlah, menikah itu gampang, namun mempertahankannya yang begitu sulit, maka itu sebagai orang percaya akan kuasa sang pencipta, tunjukkan jika kamu mampu mempertahankan cinta yang telah dipersatukan olehnya. bersama walau suka dan duka menghadap.(*)

Editor : Agus Budi T