Wednesday, 24 August 2016

Menikah itu mudah, Mempertahankannya yang sulit

Ilustrasi,@foto/dok: Kapanlagi.com
Batam, Dinamika Kepri - Surat dari pembaca. Setiap manusia yang sudah dewasa tentu diwajibkan harus memilki pasangan dan menikah dengan tujuan utamanya yakni untuk memperoleh atau mendapat keturunan.

Namun pernikahan yang dimaksud tersebut bukanlah hanya sekedar dengan menikah begitu yang saja atau melakukan pernikahaan hanya bertujuan sebagai pengganti perubah status setelah dapat tujuannya, lalu bubaran (Cerai=red), yang pasti bukan itu maksud dan tujuannya.

Namun maaf tidak menutupi, hal seperti itu sudah banyak kejadiannya yakni menikah bukan karena kemauan sendiri baik dari si pria maupun wanitanya, tetapi melalukan pernikahan karena terpaksa, contohnya menikah karena pacar wanitanya keburu berbadan dua (Hamil).

Menikah lantaran ketahuan Perangkat RT berduan dalam kamar, dijodohkan oleh orang tua karena umur sudah semakin senja, terjebak dalam permainan hati, hasil rekayasa cinta karena ada yang di incar dari pasangannya seperti harta kekayaan, warisan dari orang tua maupun warisan dari Mertua dan faktor-faktor lainnya.

Maka, jika itu yang menjadi latarnya, dipastikan umur pernikahan itu tidak akan bertahan lama, kecuali jika dasarnya sama-sama mencintai, tentu akan lebih mudah untuk mempertahankannya.

Menikah itu gampang, namun mempertahankannya yang sulit. Ya Jelas itu memang benar adanya. Seperti kata banyak para orang tua mengatakan ' Tidak ada orang yang tamat berumah tangga'.

Bayangkan saja jika tidak pernah kata tamat. Tentu mendengarnya saja sudaj bosan. Apalagi selalu bertengkar setelah berumah tangga. Maka perceraian yang menjadi solusinya.

Namun beda jika pernikahaan yang yelah di dasari atas nama cinta, tentunya mempertahankan pernikahan itu akan lebih mudah ketimbang pernikahan yang dipaksakan.

Sedikit menjelaskan Definisi tentang dari Pernikahan, Pernikahan adalah upacara pengikatan janji nikah yang dirayakan atau dilaksanakan oleh dua orang dengan maksud meresmikan ikatan perkawinan secara norma agama, norma hukum, dan norma sosial. Upacara pernikahan memiliki banyak ragam dan variasi menurut tradisi suku bangsa, agama, budaya, maupun kelas sosial.

Maka itu sebelum menikah, carilah atau dapatkan pasangan hidupmu yang benar-benar tulus mencintaimu, begitu juga dirimu tulus mencintainya. Sebab rasa cinta yang termiliki itu nantinya adalah sebagai modal atau bekal untuk menjalani hidup bersama sesudah menikah.

Menikah itu mudah, namun mempertahankannya yang begitu sulit, mengapa, ya memang sulit bertahan jika pernikahan tidak dilandasi dasar cinta. Harta kekayaan yang berlimpah juga bukan suatu menjaminan untuk membuat rumah tangga dapat tetap bertahan.

Maka itu sebelum menikah, pastikan kalau calon pasangan hidupmu nanti, benar-benar ngertiin dan mencintai kamu, begitu juga sebaliknya kamu harus memahami dan mencintainya, dapat saling menerima lebih dan kurang masing-masingnya. Dapat saling memiliki dan mencintai bukan karena termotivasi.(*)

Editor : Agus Budi T