Sunday, 7 August 2016

Desa terparah di Tobasa, Dua tahun jalan utama desa ini dibiarkan rusak oleh pemkabnya

 
{[["☆","★"]]}

Batu mamak
Beginilah kondisi jalan utama di desa Batu Mamak Kecamatan Meranti Utara, Kabupaten Toba Samosir (Tobasa) Sumut, rusak parah.  2 tahun terabaikan alias minim perhatian dari Pemkabnya, Minggu (7/8/2016).

Tobasa, Dinamika Kepri - Pembangunan yang tidak merata itulah yang dialami desa ini, selain akses jalannya tampak rusak parah, sinyal ponsel di Desa Batu Mamak, Kecamatan Meranti Utara ini, juga tak maksimal. Ditambah lagi aliran listriknya, juga kerap mati, melihat itu lengkaplah sudah, maka desa ini disebut seperti desa terisolasi dari peradapan dunia.

Padahal, desa ini adalah daerah penghasil listrik terbesar di Sumatera Utara dengan PLTA Sigura-guranya, namun dapat terabaikan hingga mengalami hal demikian. Ya, jalannya rusak parah, aliran listrik kerap mati dan jaringan sinyal ponsel juga sangat minim.

Desa ini terlihat seperti desa tertinggal, jangankan untuk mendapatkan akses jaringan internet, kirim pesan sms dari ponsel saja di desa ini tampak begitu sulit.

Warga setempat menyebutkan mereka sangat kesulitan jika berkomunikasi melalui ponsel karena jaringan sinyalnya  di desa ini sangat lemah, apalagi saat aliran listrik mati, pastinya tak ada sinyal sama sekali. Maka tak heran mereka mengatakan kalau pesan sms  yang mereka kirimkan, kerap nyangkut di daunan rimbunan pohon sawit.

Dan yang paling parahnya lagi, di desa ini ada bangunan pos polisi, namun tidak digunakan dan  terlihat tampak jadi sarang hantu sebab tidak ada penghuninya.

Bangunan pos polisi yang dimaksud ini juga tampak teraibaikan begitu saja tidak digunakan padahal biaya pembangunannya diduga telah menggunakan biaya yang besar.

Tampaknya desa ini seperti daerah yang belum merdeka dan alias belum berbendera merah putih, pasalnya desa ini sangat serba terbatas dari segi fasilitas umum yang nyaris tidak ada.

Selain itu, desa ini juga dikenal rawan dari segala kemungkinan antara lain yakni seperti maraknya para pencuri getah karet dan buah sawit dari kebun milik warga.

Isunya, kehilangan getah karet dan buah sawit sering dikeluhkan oleh warga di desa ini, namun warga tak bisa berbuat banyak untuk mengantisipasinya, pasalnya daerah ini minim perhatian dari penegak hukum yang bertugas dari toritorial Tobasa.

Dan paling layak di perhatikan yakni, keluhan masyarakat ialah akses jalan umum mreka yang mana sat ini sudah rusak parah. Tampak seperti gambar diatas. Namun tidak ada perhatian dari Pemkab Tobasa.

Kata warga setempat miris kepada media ini menuturkan, ucapnya bahwa jalan tersebut sudah rusak selama 2 tahun ini. Kendati kondisinya sudah demikian, namun dibiarkan tetap rusak. Tidak ada perhatian yang serius dari pemerintah Pemkap Tobasa untuk memperbaikinya. Padahal dari kondisi jalan, sudah sangat rawan dan berpotensi akan membahayakan para pengendara.

Selain itu, informasi yang diterima media ini juga menyebutkan katanya masyarakat sangat menyayangkan seoarang anggota Dprd Tobasa yang terpilih dari daerah ini karena juga ikut tidak peduli dengan kondisi daerah pemilihannya.

Padahal jalur desa ini adalah akses jalan alternative yang kerap dilintasi oleh para pengendara dari Kisaran jika hendak ke Porsea, Tobasa. Begitu juga sebaliknya. Namun tidak ada perhatiannya, seperti ada pembiaran menunggu adanya jatuh korban.

Namun anehnya lagi, giliran lokasi wisata air terjun yang ada di daerah Ponot Sigura-gura, katanya kedua pemerintah Pemkap antara Kabupaten Tobasa dan Kabupaten Asahan rebutan saling klaim bahwa daerah itu adalah arealnya masing-masing, mengapa? karena tempat tersebut disebut-sebut sebagai daerah penghasil PAD dari sektor pariwisatanya.

Namun tiba giliran akses perbaikan jalan utamanya kedua pemerintah tersebut seakan saling mendiamkan hingga masyarakat desa Batu Mamak kebingungan pemerintah mana yang akan memperbaikinya.(Ag)

Editor : Agus Budi T